Ia kemudian menyampaikan angka yang cukup menarik: menurutnya, daerah telah memperoleh dana bagi hasil (DBH) sekitar Rp600 juta meskipun perkebunan masih dalam tahap awal.
Angka itu layak ditelusuri lebih jauh. Sumber DBH, periode penerimaan, dan dasar perhitungannya perlu diperjelas agar kontribusi investasi terhadap pendapatan daerah dapat diketahui secara akurat.
Sebab, dalam urusan pembangunan, angka bukan sekadar pemanis pidato. Angka harus bisa diperiksa.
Namun, perhatian BS bukan hanya pada pendapatan daerah.
Ia punya bayangan yang lebih besar.
Lapangan kerja.
“Bayangkan, nanti akan ada ribuan pekerja,” katanya.
Menurut perkiraannya, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan apabila perkebunan berkembang dan pabrik hilirisasi dibangun bisa melampaui jumlah pengangguran di Lingga, yang ia sebut belum mencapai 5.000 orang.
Saya kembali memandang hamparan lahan itu.
Ribuan pekerja.
Jika proyeksi tersebut benar-benar terwujud, dampaknya tentu tidak kecil bagi daerah yang selama ini banyak mengandalkan hasil kebun, hutan, dan laut.
Ada anak muda yang bisa memperoleh pekerjaan tanpa harus pergi jauh meninggalkan kampung halaman. Ada keluarga yang berpeluang mendapatkan penghasilan rutin. Ada pula usaha-usaha kecil yang bisa tumbuh karena aktivitas ekonomi semakin ramai.
Tetapi saya juga teringat satu kata yang selalu penting dalam setiap cerita tentang masa depan yaitu jika.
Jika perkebunan berkembang sesuai rencana. Jika pabrik benar-benar dibangun. Jika kebutuhan tenaga kerjanya memang sebesar yang diperkirakan.
Pasalnya, ribuan pekerjaan itu masih merupakan proyeksi, bukan jumlah lowongan yang sudah tersedia saat ini.
Jumlah pekerja nantinya akan bergantung pada luas perkebunan yang benar-benar beroperasi, tahapan pengembangan, teknologi yang digunakan, dan kapasitas pabrik jika pembangunan itu terealisasi.
Meski demikian, peluang tersebut patut diperhatikan.
Bagi sebuah daerah, investasi tidak hanya berarti modal yang masuk. Ia juga bisa berarti terbukanya pilihan hidup baru bagi masyarakat.
Selama ini, seorang pemuda di desa mungkin hanya memiliki beberapa pilihan pekerjaan. Jika kegiatan perkebunan dan industri pengolahan tumbuh, pilihan itu berpotensi bertambah.
Ia bisa bekerja di kebun, bidang transportasi, pemeliharaan mesin, administrasi, atau jasa pendukung lainnya sesuai kebutuhan dan keterampilannya.
Namun, yang paling penting bukan sekadar berapa banyak orang yang kelak direkrut perusahaan. Yang perlu diperhatikan juga ialah apakah warga setempat mendapat kesempatan yang adil untuk mengisi pekerjaan tersebut.
Sebab, agak menyedihkan jika sebuah investasi berdiri di kampung sendiri, tetapi anak-anak kampungnya justru tidak memiliki jalan untuk ikut berkembang.
Ada cerita lain yang menurut saya tak kalah penting yaitu warung.
Ya, warung kecil yang sering luput dari pembicaraan besar tentang investasi.
Jika perkebunan mulai berproduksi dan pabrik CPO benar-benar dibangun, kegiatan ekonomi di sekitarnya berpeluang meningkat. Pekerja perlu makan. Kendaraan perlu bahan bakar dan perawatan. Angkutan hasil panen membutuhkan jasa transportasi. Perusahaan memerlukan berbagai perlengkapan operasional.
Di situlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bisa mendapatkan peluang.
Warung nasi dapat memperoleh pelanggan baru. Bengkel milik warga bisa mendapat pesanan perawatan kendaraan. Pengusaha angkutan lokal berpeluang masuk ke rantai distribusi. Koperasi dan pemasok setempat juga bisa mengambil bagian jika kemitraan dibangun dengan baik.
Satu perkebunan besar bisa menciptakan kebutuhan bagi banyak usaha kecil.
Itulah efek berganda atau multiplier effect yang sering dibicarakan dalam ekonomi.
Tetapi efek itu tidak muncul otomatis hanya karena alat berat sudah masuk ke lahan.
Harus ada hubungan nyata antara perusahaan dan masyarakat sekitar. Harus ada ruang bagi pemasok lokal. Harus ada peluang bagi UMKM untuk memenuhi kebutuhan yang bisa mereka kerjakan. Dan jika koperasi dilibatkan, kemitraannya harus jelas serta memberikan manfaat yang terukur.
Jangan sampai kebun semakin luas, tetapi warung warga tetap sepi.
Jangan sampai truk perusahaan berlalu-lalang setiap hari, tetapi pengusaha lokal hanya menjadi penonton.
Investasi yang baik seharusnya membuka pintu bagi kegiatan ekonomi di sekelilingnya, bukan membuat seluruh kebutuhan hanya berputar di dalam perusahaan.
Di sinilah pemerintah daerah memiliki peran penting. Bukan hanya menyambut investor, tetapi juga menyiapkan masyarakat agar mampu mengambil peluang yang muncul.
Pelatihan keterampilan, penguatan koperasi, pendampingan UMKM, dan akses bagi pemasok lokal bisa menjadi bagian dari pekerjaan itu.
Dengan demikian, ketika perkebunan berkembang, masyarakat tidak hanya melihat pohon sawit tumbuh. Mereka juga merasakan pertumbuhan penghasilan.
Dalam perjalanan pulang, saya kembali memikirkan Lingga.
Daerah ini memiliki banyak hal yang bisa dikembangkan. Lautnya, kebunnya, sejarahnya, dan budaya Melayunya merupakan bagian dari kekuatan yang tidak boleh hilang hanya karena ekonomi mulai berubah.
Investasi sawit bisa menjadi salah satu penggerak baru. Namun, keberhasilannya tetap harus diukur dari manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Pembukaan lahan harus diikuti pengelolaan yang bertanggung jawab. Kesepakatan atas tanah harus jelas. Hak masyarakat perlu dilindungi. Lingkungan harus diperhatikan. Dan rencana pembangunan pabrik harus dibuktikan dengan realisasi.
Saya memahami mengapa BS begitu bersemangat.
Ia melihat peluang yang mungkin bisa mengubah masa depan ekonomi Lingga. Sebagai pejabat yang mengurusi pendapatan daerah, ia tentu berharap kegiatan ekonomi baru dapat memperluas basis penerimaan dan membuka ruang pembangunan.
Harapan itu masuk akal.
Tetapi harapan juga membutuhkan pembuktian.













