Scroll untuk baca artikel
EKONOMILINTAS DAERAHOPINI

Menyusuri Lingga Utara, Menjemput Harapan dari Kebun Sawit

×

Menyusuri Lingga Utara, Menjemput Harapan dari Kebun Sawit

Sebarkan artikel ini
Foto bibir sawit ditengah hamparan lahan yang sedang olah untuk jadi perkebunan di wilayah Lingga Utara, Kabupaten Lingga Kepri- dok

Catatan perjalanan dari Daik Lingga

Oleh: Rajo Mengiyan

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

WawaiNEWS.ID – Di Daik, daerah berjuluk Bunda Tanah Melayu di Provinsi Kepulauan Riau, cerita tentang masa depan Lingga rupanya belum selesai.

Setelah sehari sebelumnya berbincang dengan teman lama di Tanjungpinang tentang peluang investasi sawit, saat hari kedua saya di Lingga membawa cerita itu ke lapangan.

Kali ini, pemandunya bukan orang sembarangan.

Safaruddin, Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Lingga, datang pagi-pagi menemui saya dan guru di kedai kopi. Kami sudah berteman sejak masih di Tanjungpinang, jauh sebelum jabatan dan kesibukan masing-masing menjadi seperti sekarang.

Ia sekarang memiliki sapaan baru di daerah kelahirannya itu, ia dia biasa disapa BS.

Berkali-kali sebenarnya BS mengajak saya ke Lingga. Berkali-kali pula saya menolak secara halus. Bukan tidak ingin datang, tetapi waktu memang kadang lebih sulit diatur daripada janji bertemu di kedai kopi.

Kali ini saya memenuhi ajakannya.

BS rupanya punya sesuatu yang ingin diperlihatkan. Bukan hanya perkembangan infrastruktur di bawah kepemimpinan Bupati Lingga Muhammad Nizar, tetapi juga investasi perkebunan sawit yang menurutnya mulai bergerak setelah sebelumnya sempat tertahan tanpa kejelasan.

Pagi itu, agendanya sederhana yakni salat Jumat di sebuah desa di Lingga Utara, sekaligus berbagi kepada warga kegiatan rutin BS yang dinilai layak menerima bantuan. Menurut BS, kegiatan berbagi tersebut merupakan program rutin yang dijalankannya bersama keluarga. Ia adalah suami Maya Sari, Ketua DPRD Kabupaten Lingga.

Saya ikut.

Kami berangkat berlima menggunakan satu mobil BS. Pengemudinya Ruslan, tetapi orang-orang di Kepulauan Riau lebih mengenalnya dengan dua nama lain yakni Bang Jagad dan Kapten.

Tiga nama untuk satu orang.

Julukan Kapten bukan sekadar tempelan. Ia dikenal piawai mengemudikan speedboat berbagai ukuran. Laut dikuasainya, jalan darat pun dilaluinya dengan percaya diri.

Hari itu tentu bukan laut yang kami arungi. Kami menempuh jalan darat, melewati desa-desa dengan suasana khas Melayu, rumah-rumah penduduk, serta bentang alam yang menjadi bagian dari pesona Lingga, ia menjadi kapten perjalanan kami menuju Lingga Utara.

Dari pusat Daik, kami menyusuri jalan yang membelah kampung-kampung bercorak Melayu kepulauan. Kami menempuh jalan darat, melewati desa-desa dengan suasana khas Melayu pulau, rumah-rumah penduduk, serta bentang alam yang menjadi bagian dari pesona Lingga.

Dari Daik menuju Lingga Utara, perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Rumah-rumah penduduk, jalan yang berkelok, dan suasana desa mengingatkan saya pada wajah Lingga yang dahulu pernah saya kenal ketika bertugas sebagai wartawan saat kepemimpinan Daria.

Namun, perjalanan kali ini punya tujuan berbeda.

BS ingin menunjukkan sesuatu yang menurutnya bisa menjadi bagian penting dari masa depan Lingga.

Sawit.

Di perjalanan, BS tidak henti-hentinya bercerita.

Ada semangat yang sulit disembunyikannya ketika membicarakan investasi PT Citra Sugi Adytia (CSA). Ia melihat perkebunan itu bukan sekadar kegiatan usaha, melainkan peluang untuk menggerakkan ekonomi daerah.

Saya mendengarkan sambil sesekali melihat ke luar jendela.

Lalu, hamparan lahan itu mulai terlihat.

Di sejumlah titik, pembukaan lahan sedang berlangsung. Alat berat bekerja. Ada area pembibitan, ada pula bagian yang sudah ditanami. Tanah yang terbentang luas itu sedang dipersiapkan menjadi kawasan perkebunan.

Saya turun dari kendaraan dan memandang sekeliling.

Luas sekali.

Di kedai kopi, investasi mudah dibayangkan melalui angka-angka. Di lapangan, ia memiliki wujud bahwa tanah yang dibuka, bibit yang disiapkan, alat berat yang bergerak, dan tanaman muda yang mulai tumbuh.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kawasan itu kelak jika seluruh rencana pengembangannya berjalan sesuai target.

Namun, ada satu hal yang perlu dibedakan. Yang saya lihat hari itu adalah perkembangan awal perkebunan, mulai dari pembukaan lahan hingga sebagian penanaman. Kebun tersebut belum memasuki tahap produksi penuh, sedangkan pembangunan pabrik pengolahan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) masih menjadi rencana yang diharapkan terealisasi.

Artinya, pekerjaan besarnya masih panjang.

Tetapi setidaknya, investasi itu sudah memperlihatkan aktivitas fisik di lapangan. Cerita tentang sawit Lingga bukan lagi semata-mata percakapan di meja kopi.

BS tampak puas melihat hamparan tersebut.

Sebagai Kepala Bapenda, ia tentu punya alasan untuk berharap investasi berskala besar bisa memperkuat kegiatan ekonomi Lingga dan membuka peluang penerimaan daerah.

BACA JUGA :  Lempeng Sagu dan Gulai Asam Pedas Ikan Kurau, Kuliner Legendaris Daik Lingga