JAKARTA — Pemerintah memastikan Program Magang Nasional untuk lulusan baru perguruan tinggi akan kembali digelar pada 2026. Kabar itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Kompas100 CEO Forum, Rabu (26/11/2025).
Meski belum merinci tanggal pembukaan, Airlangga menegaskan satu hal: target pesertanya tetap 100.000 fresh graduate, sama seperti gelombang tahun ini. Pemerintah tampaknya kukuh mempertahankan skala besar bahkan saat banyak perusahaan masih bingung menampung karyawan tetap, apalagi memagangkan pasukan sebanyak itu.
Program magang fresh graduate yang bergulir sejak Oktober lalu akan berlangsung hingga April 2026. Menurut Airlangga, durasi enam bulan sengaja disusun lebih panjang dari masa percobaan (probation) standar perusahaan, yaitu tiga bulan.
“Biasanya perusahaan masa percobaan tiga bulan, tetapi ini enam bulan kita berikan kesempatan,” ujarnya sebuah cara elegan untuk mengatakan bahwa ini bukan magang biasa, melainkan probation versi premium, dibayar pemerintah, dan berisi tenaga kerja yang (seharusnya) penuh semangat.
Durasi Panjang, Beban Ringan (Untuk Perusahaan)
Airlangga menjelaskan, magang enam bulan ini dirancang agar lulusan baru punya cukup waktu memahami dunia kerja, entah di sektor industri maupun di lingkungan kementerian/lembaga.
Dengan masa pemagangan dua kali lebih lama dari probation biasa, para peserta diharapkan tidak hanya “menonton proses kerja”, tapi benar-benar belajar sampai paham tanpa harus langsung diberi kontrak permanen yang membuat HR panik.
Untuk mendukung program ini, pemerintah menyediakan insentif berupa uang saku setara Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) selama enam bulan penuh. Setara UMK sesuatu yang bagi sebagian lulusan baru terdengar seperti upgrade signifikan dari “uang transport” magang kebanyakan.
Airlangga menyebut skema ini sebagai bentuk investasi SDM, sekaligus cara pemerintah meringankan beban perusahaan. Dengan kata lain: negara yang bayar, perusahaan tinggal memanfaatkan kesempatan.
Permintaan ke CEO: Jangan Hanya Pakai, Tapi Didik
Airlangga meminta para pelaku usaha tidak berhenti pada antusiasme formal semata. Dengan uang saku disubsidi negara, perusahaan diharapkan fokus pada hal yang seharusnya menjadi inti pemagangan: pelatihan berkualitas, mentoring intensif, dan pembekalan kompetensi nyata.
“Perusahaan diharapkan bisa memberikan pemagangan yang baik dengan pelatihan, mentoring, dan kompetensi yang baik,” ujarnya.
Sinyal halus ini seolah mengingatkan bahwa magang bukan ajang “mengerjakan pekerjaan orang lain dengan biaya lebih murah” seperti yang diisukan publik selama ini.
Output: Anak Muda Siap Industri, Bukan Hanya Siap Absen
Pemerintah berharap lulusan yang mengikuti program ini keluar dengan keterampilan yang benar-benar relevan: skill adjustment, kemampuan multi-tasking, dan multi-skilling yang membuat mereka siap terjun ke kebutuhan riil industri.
Setidaknya, itu rencana idealnya meski pada praktiknya, tantangannya tetap sama: memastikan para peserta tidak dihabiskan hanya untuk membuat slide PowerPoint atau mengisi laporan yang tak pernah dibaca.
Dengan paket insentif, durasi panjang, dan beban yang diambil alih pemerintah, program ini kembali menjadi magnet bagi perusahaan.
Tinggal menunggu apakah 2026 akan menjadi tahun magang yang benar-benar meningkatkan kualitas SDM, atau justru melanjutkan tradisi: magang banyak, perekrutan tetap minimalis.***











