LAMPUNG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali diuji bukan oleh oposisi, bukan oleh akademisi, tapi oleh muntah dan diare.
Kali ini, sejumlah pelajar, guru, hingga orangtua siswa dilaporkan “tumbang” setelah menyantap menu MBG di SD Negeri 1 Kibang, Kecamatan Menggala, Kabupaten Tulangbawang (Tuba), Lampung, Selasa, 24 Februari 2026.
Menu yang dibagikan terdengar sederhana dan aman, telur asin, roti, dan biskuit. Bukan sushi mentah. Bukan eksperimen kimia laboratorium. Namun selepas pukul 16.00 WIB, satu per satu gejala muncul mual, muntah, sakit perut hebat, dan buang air terus-menerus.
Ironisnya, bukan hanya siswa yang terdampak. Orangtua dan anak guru yang ikut mencicipi makanan yang dibawa pulang pun ikut “bergabung” dalam antrean pasien. Program yang dirancang memperkuat gizi justru mempertemukan warga di ruang UGD.
Para korban dilarikan ke RSUD Menggala dan Klinik Menggala Medical. Hingga malam hari, sebagian masih dalam perawatan dan observasi medis.
Menjelang berbuka puasa, Sekretaris Daerah Kabupaten Tulangbawang, Ferli Yuledi, turun meninjau korban.
Pemerintah Kabupaten menyatakan akan memantau kondisi kesehatan para siswa serta melakukan pemeriksaan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar sesuai standar Badan Gizi Nasional.
Langkah ini tentu patut diapresiasi. Namun publik juga berhak bertanya: mengapa pola yang sama terus berulang?
Secara konsep, MBG dirancang untuk memperkuat ketahanan gizi anak sekolah. Secara normatif, program ini berada dalam pengawasan Badan Gizi Nasional dan dilaksanakan melalui SPPG dengan standar ketat.
Namun di lapangan, standar seringkali kalah oleh praktik.
Telur asin yang mestinya kaya protein bisa berubah menjadi pemicu diare jika proses penyimpanan tidak higienis. Roti dan biskuit bisa jadi masalah bila distribusi dan pengemasan tak sesuai prosedur.
Gizi bukan hanya soal kandungan nutrisi di atas kertas. Ia soal rantai distribusi yang disiplin, dapur yang steril, pengawasan yang konsisten, dan audit yang rutin.
Jika tidak, “Makan Bergizi Gratis” bisa berubah menjadi “Makan Gratis Berisiko”.
Berikut data laporan jumlah kasus keracunan makanan yang diduga terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG) khusus di Provinsi Lampung dari sumber berita resmi dan laporan satgas hingga Februari 2026 (data ini *sebagian besar berasal dari liputan media dan catatan satgas/ dinas kesehatan setempat — karena tidak ada satu catatan resmi terpusat yang dipublikasikan harian):
Rekapan Kasus Keracunan MBG di Lampung (Periode 2025–Awal 2026)
- Agustus–September 2025 (Catatan Satgas MBG Lampung):
Satgas MBG Provinsi Lampung mencatat 572 kasus keracunan makanan yang diduga terkait MBG tersebar di beberapa kabupaten/kota di Lampung: - Kabupaten Tanggamus: 14 siswa
- Kabupaten Lampung Timur: 27 siswa
- Kota Bandar Lampung: 503 siswa
- Kabupaten Lampung Utara: 16 siswa
- Kota Metro: 12 siswa
Total: 572 kasus dilaporkan antara Agustus dan 4 September 2025.
Catatan: Dalam laporan itu, kumpulan kasus ini dianggap sebagai beberapa kejadian terpisah di beberapa kota/kabupaten tetapi semuanya terkait dugaan keracunan makan dari menu MBG.
- 11–14 Februari 2026 (Bandar Lampung):
Insiden lanjutan ditangani Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung terkait dugaan keracunan setelah makan menu MBG pada tengah Februari 2026. Jumlah yang dilaporkan:
SDN 4 Sumberjo: 77 siswa, 9 guru, 1 orang tua
SD Al Munawaroh: 64 siswa, 11 guru/pegawai, 1 orang tua
SMPN 14 Bandar Lampung: 43 siswa
Total dugaan orang terdampak (gejala diare/mual): ~ 206 orang
Dengan 5 orang menjalani perawatan medis/rumah sakit sementara lainnya observasi atau rawat jalan.
- Estimasi Total Terdampak di Lampung hingga Kini
- Jika digabungkan dari dua periode utama yang dilaporkan secara terpisah:
Periode Laporan Lokasi Perkiraan Korban
Agustus–Sept 2025 Berbagai kab/kota Lampung 572 kasus
Feb 2026 Bandar Lampung ~206 orang
- Jumlah total korban keracunan MBG di Lampung hingga awal 2026 diperkirakan mencapai sekitar:
- ±778 orang (orang siswa/pegawai/orang tua)
Perlu diperjelas bahwa angka ini bukan data final resmi instansi pusat seperti Kemenkes atau BGN, melainkan jumlah yang dilaporkan dan dipublikasikan oleh masing-masing satgas/dinas kesehatan daerah & media. Laporan terbaru bisa berubah seiring investigasi kesehatan lebih lanjut oleh otoritas terkait.
- Catatan Penting tentang Data
- Laporan jumlah kasus keracunan MBG secara nasional juga menunjukkan angka jauh lebih besar, misalnya jutaan korban dalam satu tahun di seluruh Indonesia.
- Di Lampung, data yang tersedia adalah yang dipublikasikan per kejadian atau berdasarkan satgas provinsi/dinas kesehatan kota/kabupaten.***










