Scroll untuk baca artikel
Info Wawai

“Ciplukan, Tanaman Liar di Sawah yang Diam-Diam Kaya Khasiat”

×

“Ciplukan, Tanaman Liar di Sawah yang Diam-Diam Kaya Khasiat”

Sebarkan artikel ini
Ciplukan

WawaiNEWS.ID – Ciplukan (Physalis angulata) adalah tanaman liar yang mudah ditemukan di persawahan dan pekarangan. Meski sering dianggap gulma, tanaman ini ternyata kaya vitamin C dan antioksidan.

Ciplukan tanaman liar bernama latin Physalis angulata menyimpan segudang manfaat kesehatan yang belakangan justru diburu dunia herbal.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Ciplukan dikenal dengan banyak nama di Nusantara. Di Jawa disebut cecendet atau ceplukan, di Sumatra dikenal sebagai daun kapo-kapo atau daun lato-lato, di Bali disebut keceplokan, di Sulawesi dikenal sebagai ieletokan, sementara di Maluku disebut lopunorat. Banyak nama, satu nasib: sering diabaikan.

BACA JUGA :  Selamat Jalan Bu Ani Yudhoyono

Ironisnya, tanaman yang tumbuh subur pascapanen ini justru kaya kandungan bioaktif seperti vitamin C, alkaloid, asam klorogenat, polifenol, hingga senyawa steroid alami. Kandungan inilah yang membuat ciplukan tak sekadar “rumput liar”, melainkan tanaman obat yang mulai diperhitungkan.

Secara ilmiah, ciplukan dikenal memiliki sifat antibakteri, antiinflamasi, antioksidan, antivirus, hingga antidiabetes. Dalam dunia pengobatan tradisional, hampir seluruh bagian tanaman ini dimanfaatkan—dari akar hingga buah.

  • Akar ciplukan dipercaya membantu mengontrol diabetes melitus.
  • Buahnya kerap digunakan untuk meredakan sariawan, radang tenggorokan, gangguan paru-paru, bahkan epilepsi, berkat kandungan vitamin C yang tinggi.
  • Daunnya dikenal ampuh untuk mengatasi bisul dan borok, serta menjadi perhatian karena potensinya dalam membantu melawan sel kanker, berdasarkan sejumlah studi awal.
BACA JUGA :  Wanita yang Ditinggal Suami Tanpa Kabar, Apa Boleh Dinikahi?

Sementara itu, seluruh bagian tanaman ciplukan sering dimanfaatkan untuk membantu mengatasi tekanan darah tinggi, reumatik, bronkitis, batuk rejan, gondongan, influenza, hingga pembengkakan tertentu pada pria.

Tak heran jika tanaman yang dulu hanya dipetik anak-anak desa untuk camilan kini mulai masuk daftar tanaman herbal bernilai ekonomi.

Cara Konsumsi: Sederhana Tapi Tak Sembarangan

Cara pengolahan ciplukan relatif mudah. Umumnya, bagian tanaman direbus lalu airnya diminum. Buahnya bisa dikonsumsi langsung atau direbus terlebih dahulu. Namun ada satu catatan penting: ramuan ciplukan sebaiknya dikonsumsi dalam waktu kurang dari 24 jam, karena kandungan aktifnya bisa rusak jika dibiarkan terlalu lama.

BACA JUGA :  Ring Light Challenge Jadi Top, Ini Tips Pilihan Lampunya

Di sinilah letak “humor alamnya”: tanaman liar yang dianggap sepele ini justru meminta diperlakukan dengan serius.

Dari Liar Jadi Lestari

Dengan manfaat yang kian diakui, ciplukan mulai dilirik sebagai tanaman budidaya alternatif, terutama di pedesaan. Murah, mudah tumbuh, dan multifungsi kombinasi yang jarang ditawarkan tanaman modern berharga mahal.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti meremehkan tanaman yang tumbuh tanpa pamrih di pinggir sawah. Karena bisa jadi, obat terbaik bukan datang dari botol mahal, melainkan dari tanaman liar yang selama ini kita injak tanpa sadar.***