Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi
WAWAINEWS – Bagaimana mungkin seorang pemimpin sekaliber Soekarno, yang selama bertahun-tahun nyaris tak tertandingi kharismanya, kehilangan kekuasaan hanya dalam waktu relatif singkat setelah 1 Oktober 1965?
Pertanyaan ini penting karena kemerosotan Soekarno kerap digambarkan terutama sebagai akibat manuver Mayor Jenderal Soeharto. Padahal, yang lebih menentukan adalah merosotnya pijakan kekuasaan Soekarno sendiri.
Ada tiga faktor yang menjelaskannya.
Pertama, krisis kepercayaan di dalam negeri. Terbunuhnya pimpinan TNI AD mengguncang politik nasional. Ketika Angkatan Darat bergerak menumpas G30S/PKI, tuntutan agar pemerintah bersikap tegas terhadap PKI semakin menguat.
Sikap Soekarno yang dipandang tidak segera memberikan penyelesaian tegas membuat sebagian masyarakat kecewa. Ketika PKI kemudian dihancurkan, salah satu kekuatan utama dalam keseimbangan politik Nasakom pun lenyap.
Kedua, Soekarno kehilangan pijakan di luar negeri. Beberapa tahun sebelumnya, hubungan Indonesia dengan Barat telah memburuk tajam.
Bahkan pada Januari 1965, Indonesia menyatakan keluar dari PBB setelah Malaysia terpilih menjadi anggota Dewan Keamanan. Ini menunjukkan betapa jauhnya politik luar negeri Soekarno berhadapan dengan kekuatan Barat.
Pada saat yang sama, hubungan dengan negara-negara blok komunis semakin penting. PKI merupakan salah satu katalisator hubungan tersebut.
Ketika PKI runtuh setelah 1 Oktober 1965, hubungan politik dengan dunia komunis ikut terpukul. Dengan Barat yang telah lama berseberangan dan poros politik ke kiri yang ikut melemah, ruang gerak Soekarno di luar negeri semakin sempit.
Jadi, Soekarno kehilangan pijakan dari dua arah sekaligus: di dalam negeri basis politiknya menyusut, sedangkan di luar negeri ruang geraknya menyempit.
Ketiga, krisis ekonomi mempercepat kemerosotan. Inflasi yang mencapai sekitar 596 persen pada 1965 dan 636 persen pada 1966 menggerus daya beli masyarakat. Kelangkaan barang dan memburuknya kehidupan ekonomi memperbesar ketidakpuasan terhadap pemerintah.
Dalam keadaan seperti itu, kharisma tidak lagi cukup. Wibawa Soekarno memudar bukan karena tiba-tiba ada seseorang yang berhasil meruntuhkannya. Melainkan karena fondasi politik, ekonomi, dan hubungan luar negerinya mengalami keretakan secara bersamaan.
Di sinilah kemunculan Soeharto perlu dilihat secara proporsional. Bukan semata-mata sebagai figur yang merebut ruang dari Soekarno. Melainkan sebagai figur yang muncul ketika ruang politik itu telah terbuka.
Di tengah memudarnya wibawa Soekarno, sebagian masyarakat dan kekuatan sosial-politik mulai melihat Soeharto sebagai figur alternatif.
Yang merosot setelah 1 Oktober 1965 bukan hanya posisi politik Soekarno, melainkan kemampuannya menjadi titik temu berbagai kekuatan politik.
Ketika titik temu itu hilang, kebutuhan akan figur alternatif menguat. Soeharto kemudian hadir mengisi ruang kekuasaan yang telah terbuka itu.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.







