Scroll untuk baca artikel
Ragam

Fidyah Ramadan 2026: Besaran Rp65.000 per Hari, Cara Bayar, Niat, dan Batas Waktu Lengkap

×

Fidyah Ramadan 2026: Besaran Rp65.000 per Hari, Cara Bayar, Niat, dan Batas Waktu Lengkap

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

WawaiNEWS.ID – Ramadan itu bukan cuma soal menahan lapar dan haus. Ada juga soal tanggung jawab. Bagi yang benar-benar tidak mampu berpuasa dan tidak memungkinkan menggantinya di hari lain, syariat memberi solusi: fidyah.

Sederhananya, fidyah adalah “pengganti puasa” dalam bentuk memberi makan orang miskin. Jadi kalau tubuh tak sanggup menahan lapar, setidaknya ada perut lain yang bisa kenyang karena kita.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Tapi ingat, ini bukan “opsi malas puasa”. Fidyah hanya berlaku bagi golongan tertentu sesuai ketentuan syariat.

Siapa yang Wajib Bayar Fidyah?

Merujuk keterangan resmi Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), fidyah dikenakan kepada:

  • Lansia yang tidak mampu berpuasa
  • Orang sakit kronis yang kecil kemungkinan sembuh
  • Ibu hamil atau menyusui yang khawatir terhadap kondisi bayinya (menurut sebagian pendapat ulama)
BACA JUGA :  Pemerintah Izinkan Pelaksanaan Shalat Tarawih Selama Ramadhan 1442 H

Kalau masih sehat, kuat, cuma “mager” dan tergoda es teh viral jam 12 siang? Itu bukan kategori fidyah. Itu kategori perlu muhasabah.

Besaran Fidyah Ramadan 2026

Berdasarkan SK Ketua BAZNAS No. 14 Tahun 2026 tentang Nilai Zakat Fitrah dan Fidyah 1447 H/2026 M, nilai fidyah tahun ini ditetapkan sebesar:

Rp65.000 per jiwa per hari puasa yang ditinggalkan.

Artinya:

  • Tinggal 1 hari → Rp65.000
  • Tinggal 5 hari → Rp325.000
  • Tinggal 10 hari → Rp650.000

Logikanya sederhana: satu hari puasa diganti satu porsi makan layak untuk fakir miskin.

Nilai ini bisa dalam bentuk:

  • Makanan siap saji
  • Bahan pokok seperti beras
  • Uang setara harga makanan

Karena tujuan utamanya bukan transfer nominal, tapi memastikan ada yang benar-benar menerima manfaat.

Batas Waktu Pembayaran Fidyah

Kapan harus bayar?

Fidyah bisa ditunaikan:

  • Sejak seseorang tidak berpuasa
  • Selama Ramadan
  • Setelah Ramadan berakhir
BACA JUGA :  Layanan Aktif BAZNAS Distribusikan Paket Makanan ke Tunawisma di Bekasi

Tidak ada batas akhir spesifik, tetapi semakin cepat ditunaikan semakin baik. Jangan sampai fidyah berubah status dari “kewajiban” menjadi “utang rohani yang ditunda-tunda”.

Bacaan Niat Membayar Fidyah

Meski terlihat administratif, fidyah tetap ibadah. Jadi diawali dengan niat:

Arab:
نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ فِدْيَةَ الصَّوْمِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى

Latin:
Nawaitu an ukhrija fidyatas shaumi fardhan lillahi ta’ala.

Artinya:
Saya niat mengeluarkan fidyah puasa fardu karena Allah Ta’ala.

Karena yang membedakan ibadah dengan sekadar transfer uang adalah niatnya.

Tata Cara Membayar Fidyah

Menurut BAZNAS, fidyah bisa dilakukan dengan:

  1. Memberikan makanan siap saji kepada fakir miskin sesuai jumlah hari puasa
  2. Memberikan bahan pokok (misalnya beras)
  3. Membayar dalam bentuk uang senilai makanan
  4. Menyalurkan melalui lembaga amil zakat resmi seperti BAZNAS

Menyalurkan lewat lembaga resmi dinilai membantu agar distribusinya tepat sasaran dan tidak sekadar formalitas.

BACA JUGA :  Kowantara Pastikan Warteg Tetap Buka Selama Ramadhan

Cara Bayar Fidyah Online 2026

Di era digital, bahkan tanggung jawab ibadah pun bisa dilakukan tanpa antre.

Langkahnya:

  1. Akses situs resmi bayar fidyah BAZNAS
  2. Pilih jenis dana “Fidyah”
  3. Masukkan jumlah hari (nominal otomatis)
  4. Isi data diri
  5. Pilih metode pembayaran
  6. Selesaikan transaksi

Praktis. Tinggal niatnya yang jangan ditunda.Fidyah Itu Solusi, Bukan Diskon Ibadah

Fidyah adalah bentuk keringanan syariat bagi yang benar-benar tidak mampu. Ia bukan jalan pintas, bukan pula “paket pengganti puasa reguler”.

Dalam spiritnya, fidyah menjaga dua hal:

  • Kewajiban kepada Allah tetap tertunaikan
  • Kepedulian sosial tetap berjalan

Jadi kalau memang masuk kategori yang diwajibkan, tunaikan dengan benar. Jangan sampai puasa bolong, fidyah pun molor.

Karena dalam ibadah, yang paling berat bukan nominalnya tapi kesadaran bahwa setiap kewajiban akan dimintai pertanggungjawaban.***