Scroll untuk baca artikel
Ragam

Ketika Kopi Hitam dan Singkong Goreng Menjadi Alasan Bersantai

×

Ketika Kopi Hitam dan Singkong Goreng Menjadi Alasan Bersantai

Sebarkan artikel ini
Foto: Kopi Hitam dan Singkong Goreng

WAWAINEWS.ID — Siang itu berjalan pelan. Di atas meja berlapis kaca, secangkir kopi hitam mengepulkan uap tipis. Warnanya pekat, aromanya pahit, seolah mengundang siapa pun untuk berhenti sejenak dari riuh hari. Di sampingnya, sepiring singkong goreng dan bakwan tersaji sederhana tanpa hiasan, tanpa nama menu yang rumit.

Di tengah maraknya camilan kekinian, singkong goreng dan bakwan tetap punya tempat istimewa di hati banyak orang. Sepiring camilan sederhana ini kembali mencuri perhatian saat menemani waktu santai di siang hari, Minggu (8/2/2026).

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Singkong-singkong itu tak meminta perhatian. Potongannya tak seragam, balutan tepungnya pun sederhana. Namun ketika digigit, bunyi renyah pelan terdengar, disusul tekstur empuk yang hangat di dalam. Ia menjadi teman setia kopi hitam penetral rasa pahit yang justru membuat momen terasa lengkap.

BACA JUGA :  Ingin Tahu Potensi Wisata Tanggamus, Ayo Datang ke PRL di PKOR Way Halim

Singkong goreng yang renyah di luar dan lembut di dalam berpadu dengan bakwan sayur hangat yang gurih, ditemani secangkir kopi pahit. Tanpa kemasan mewah atau topping berlebihan, kombinasi ini justru menghadirkan rasa nostalgia yang sulit dilupakan.

Camilan tradisional ini kerap menjadi pilihan saat berkumpul bersama keluarga, ngobrol santai, atau sekadar teman minum kopi dan teh. Murah, mudah ditemukan, dan mengenyangkan alasan klasik yang membuat singkong goreng dan bakwan tak pernah kehilangan penggemar.

BACA JUGA :  HUT Lampura, Diwarnai Aksi Aktivis Muhammadiyah Tuntut Forkopimda Cabut SKB Angkutan Batu Bara

Tak sedikit warganet menyebut camilan seperti ini terasa “lebih jujur” soal rasa. Sederhana, namun selalu bikin ingin menambah.

Bagi banyak orang, kombinasi singkong dan kopi bukan sekadar pengganjal perut. Ia adalah kebiasaan. Sebuah ritual kecil yang berulang dari hari ke hari. Di warung kopi pinggir jalan, di ruang tamu rumah, atau di sela jam kerja, singkong dan kopi menjadi alasan untuk duduk lebih lama bercerita, merenung, atau sekadar memandangi waktu yang berjalan.

Singkong adalah pangan yang tumbuh dekat dengan masyarakat. Mudah ditanam, mudah diolah, dan murah meriah. Ia hadir sejak masa lalu dan bertahan di tengah gempuran makanan instan serta tren kuliner modern. Sementara kopi hitam tetap setia pada caranya sendiri: diseduh panas, pahit, dan jujur.

BACA JUGA :  Pengusaha Singkong Sepakat Harga Rp900, DPRD Lampung: Itu Tak Rasional

Di tengah maraknya minuman kekinian dan camilan modern, meja kecil dengan kopi hitam dan singkong justru menawarkan kemewahan yang berbeda ketenangan. Tak ada yang tergesa-gesa. Tak ada yang perlu difoto berulang kali. Cukup duduk, menyeruput kopi, menggigit singkong, dan membiarkan siang berlalu.

Mungkin di situlah maknanya. Bahwa kebahagiaan tak selalu datang dalam bentuk yang rumit. Kadang, ia hadir sebagai secangkir kopi dan sepiring singkong yang mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, lalu melanjutkan hidup dengan kepala lebih ringan. ***