KOTA BEKASI — Kontestasi pemilihan Ketua Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Kelurahan Jatimurni, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, berlangsung ketat dan penuh dinamika. Hasilnya, Muzahid Akbar Hayat kembali terpilih untuk memimpin BKM setelah unggul tipis dari pesaingnya.
Dalam pemungutan suara yang digelar di Balai RW 07 Komplek PJM, Selasa (14/4/2026), Akbar sapaan akrab staf ahli DPR RI ini, mengalahkan 11 kandidat lain dengan selisih hanya empat suara. Dari total 69 hak pilih, hanya 66 suara yang digunakan, sementara tiga lainnya gugur karena tidak hadir.
Ketua panitia pemilihan, Aan Burhanudin, memastikan proses berjalan demokratis dan hasilnya sah.
“Ada 12 kandidat yang maju, masing-masing mewakili wilayah RW. Tiga suara tidak digunakan karena tidak hadir. Hasilnya final dan tidak bisa diganggu gugat,” tegasnya.
Secara umum, proses pemilihan berlangsung lancar dan diterima semua pihak. Namun, satu hal yang mencuri perhatian justru terjadi di luar kotak suara.
Moch Sunaryadi, Lurah Jatimurnir yang sempat hadir dan memberikan sambutan pembuka, tidak terlihat hingga proses pemungutan dan penghitungan suara selesai. Kondisi ini memicu tanda tanya di kalangan peserta dan warga.
Sebaliknya, Sekretaris Kecamatan Pondok Melati, Ferry Priyadi, tetap berada di lokasi hingga akhir proses, menyaksikan langsung jalannya pemilihan.
Absennya lurah di momen krusial ini menjadi catatan tersendiri, meski tidak memengaruhi legitimasi hasil pemilihan.
Usai ditetapkan sebagai pemenang, Muzahid Akbar Hayat menyampaikan komitmennya untuk memimpin secara terbuka dan siap menerima kritik.
“Saya siap dikritik dan diberi masukan. BKM ini mitra kelurahan, tapi saya adalah bawahan masyarakat, bukan atasan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pengelolaan dana melalui BKM selama ini tidak pernah “disentuh” secara langsung oleh pengurus, melainkan disalurkan sepenuhnya untuk kepentingan masyarakat.
“Semua dana langsung ke masyarakat. BKM ini milik warga, bukan milik pribadi atau lembaga,” tegasnya.
Kemenangan tipis ini sekaligus menjadi sinyal bahwa kontestasi di tingkat akar rumput semakin kompetitif. Dukungan yang terbelah menunjukkan ekspektasi masyarakat juga semakin tinggi.
Kini, tantangan terbesar bagi Akbar bukan lagi memenangkan pemilihan melainkan membuktikan bahwa kepercayaan itu tidak salah alamat.
Apalagi, dalam konteks pembangunan berbasis masyarakat, BKM bukan sekadar lembaga formal, melainkan “mesin kecil” yang menentukan arah pembangunan di tingkat lingkungan.***













