Scroll untuk baca artikel
Head LineKabar Desa

Pondok Cinta “Seikhlasnya” di Gadingrejo: Rp50 Ribu Minimal, Plus Bonus Keripik & Mandi Kembang Jumat Kliwon

×

Pondok Cinta “Seikhlasnya” di Gadingrejo: Rp50 Ribu Minimal, Plus Bonus Keripik & Mandi Kembang Jumat Kliwon

Sebarkan artikel ini
Foto Ilustrasi Pondok Cinta

PRINGSEWU — Di saat desa lain berlomba promosi wisata alam dan UMKM unggulan, Pekon Gadingrejo Utara, Kecamatan Gadingrejo, justru punya “paket pelayanan” yang tak biasa, satu kamar, tarif seikhlasnya, dan kalau beruntung ditawari keripik pisang sebagai camilan penutup.

Bangunan sederhana itu oleh warga dijuluki “pondok cinta”. Sudah sekitar tiga tahun berjalan dengan konsep minimalis: tanpa papan tarif, tanpa brosur promo, cukup dari mulut ke mulut.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Pengelolanya, pria lanjut usia berinisial WK, tak menampik aktivitas tersebut.

“Cuma satu kamar, mas. Untuk yang mau melepas rindu sesaat,” ujarnya santai.

BACA JUGA :  Swadaya, Warga Kampung Bandar Putih Tua Laksanakan Disinfektan

Sederhana, tanpa papan nama mencolok, tanpa neon berkedip. Dari luar mungkin terlihat biasa saja. Tapi bagi pelanggan tetap, alamatnya sudah dihafal di luar kepala.

WK mengaku tidak pernah mematok harga resmi. Konsepnya murni sukarela.

“Enggak ada tarif. Seikhlasnya saja,” katanya.

Namun dalam praktiknya, para tamu disebut “mengerti situasi”. Nominal yang kerap diberikan sekitar Rp50 ribu. Jadi walau namanya seikhlasnya, tetap ada angka yang diam-diam jadi patokan bersama.

Yang lebih unik, sebelum atau sesudah “melepas rindu”, tamu juga ditawari keripik pisang produksi anaknya. Sekali datang bisa dapat dua pengalaman, kuliner dan… ya, begitulah.

BACA JUGA :  Film Gladiator 2 Bercerita Berfokus pada Kehidupan Lucius Verus, Mulai Tayang

Tak hanya layanan kamar, WK juga mengaku melayani tamu tertentu yang datang khusus pada Jumat Kliwon. Selain menggunakan kamar, ada yang meminta ritual “pengasihan” hingga mandi kembang.

Paket lengkap: romansa, aroma bunga, dan nuansa mistis. Seperti sinetron, tapi versi lokal.

Menurut pengakuannya, tamu kebanyakan berasal dari wilayah Pringsewu dan sekitarnya. Ada pula dari kecamatan tetangga yang disebut rutin datang.

Keberadaan pondok ini sudah menjadi buah bibir warga sekitar. Ada yang menganggapnya sekadar “rahasia umum”, ada pula yang mempertanyakan pengawasan lingkungan.

BACA JUGA :  Jalinbar di Pringsewu Macet 2 KM, Gegara Tergenang Air

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana sebuah aktivitas bisa berjalan cukup lama dengan konsep sederhana: satu kamar, tanpa tarif resmi, dan promosi dari mulut ke mulut.

Di balik kisah yang terdengar nyeleneh dan kocak, tetap ada pertanyaan serius soal norma sosial dan ketertiban lingkungan. Karena bagaimanapun, istilah “pondok cinta” mungkin terdengar manis, tapi implikasinya tidak sesederhana itu.

Untuk sementara, cerita tentang tarif seikhlasnya plus bonus keripik ini masih jadi bahan bisik-bisik warga. Dan di Gadingrejo Utara, rupanya bukan cuma kebun yang berbuah cerita pun ikut berkembang.***