Scroll untuk baca artikel
Lampung

Ijtima Ulama Dunia 2025: Ketika Doa Menjadi Arus Ekonomi Lampung Selatan

×

Ijtima Ulama Dunia 2025: Ketika Doa Menjadi Arus Ekonomi Lampung Selatan

Sebarkan artikel ini
Foto suasana Perhelatan akbar Ijtima Ulama Dunia 2025 di Kota Baru, Lampung Selatan. Saat ini agenda resmi berakhir pada 30 November 2025. - foto Jali

LAMPUNG SELATAN — Perhelatan akbar Ijtima Ulama Dunia 2025 di Kota Baru, Lampung Selatan, resmi berakhir pada 30 November. Tiga hari gelaran ini bukan hanya menjadi panggung zikir, doa, dan pertemuan ruhani terbesar tahun ini, tetapi juga menjelma menjadi mesin ekonomi raksasa yang berdenyut tanpa henti sebuah berkah duniawi yang mengalir dari langkah para jamaah yang datang dari berbagai penjuru Nusantara hingga 99 negara di dunia.

Sejak proyek ambisius itu dicetuskan belasan tahun lalu, kawasan yang mestinya menjelma pusat pemerintahan modern itu lebih sering tampil sebagai monumen setengah hidup deretan bangunan yang menua sebelum berfungsi, jalan-jalan lebar yang lebih sering dipakai sekadar latihan mengemudi.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Namun pada akhir November 2025, kawasan itu berubah nasib. Sejak fajar pertama jatuh di tanggal 28, gelombang manusia datang seperti air pasang yang tak terbendung. Mereka membawa tas kecil, sandal jepit, mushaf, dan segenap harapan yang dibungkus doa. Ribuan tenda tumbuh dalam semalam. Kota Baru pun menemukan denyut yang tak pernah dikenalnya.

Selama tiga hari, 28–30 November, Kota Baru menjelma menjadi simpul semesta kecil. Menurut Humas Ijtima, Firmansyah Alfian, lebih dari 575.000 jamaah memadati kawasan itu gelombang manusia yang datang dari 99 negara, membawa ragam bahasa, wajah, dan doa.

BACA JUGA :  Pendistribusian Logistik Pemilu Daerah Terpencil Pesibar Dibantu Gerobak Sapi

Jika dilihat dari atas, mungkin mereka seperti arus migrasi tahunan,ratusan ribu manusia berkumpul, bergerak, menyebar, saling menemukan ritus dalam irama yang sama.

Di bawah tenda-tenda sederhana yang berderet panjang, Menteri Agama Nasaruddin Umar berdiri menyampaikan khotbah Jumat dihari pertama itjima digelar. Para pejabat negara dan daerah berkelindan dengan jamaah dari desa-desa jauh; batas sosial menguap di antara takbir dan salam.

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menyebut perhelatan ini sebagai berkah yang datang dengan dua wajah, ibadah dan kesejahteraan. “Kegiatan ini bukan hanya silaturahmi,” ujarnya seraya menegaskan juga berkah ekonomi bagi masyarakat.

Nyatanya, Kota Baru berubah menjadi pasar besar tanpa pagar. Warung-warung kecil yang sehari-harinya sepi terserbu pembeli, pedagang kaki lima yang biasanya menggulung tikar sebelum Ashar, kini bertahan sampai larut malam. Aroma kopi, mi rebus, sate tusuk tipis, dan pisang goreng menari di antara kerumunan.

Seorang ibu pedagang nasi uduk di pinggir jalan mengaku omzetnya naik empat kali lipat. “Biasanya saya habis lima termos. Kemarin saya habis dua puluh,” katanya dengan senyum yang tak disembunyikan.

BACA JUGA :  Linmas Way Seputih Harus Selalu Siaga

Di sekitar lokasi, tenda logistik berdiri seperti gugusan perkemahan ekspedisi besar. Jasa transportasi lokal ojol, ojek pangkalan, angkutan pedesaan menjadi denyut nadi penghubung antara jamaah dan kebutuhan mereka. Dari Natar sampai Jati Agung, penginapan penuh; kamar-kamar sederhana yang biasanya tenang mendadak hidup oleh para pelancong spiritual.

Jika dihitung kasar sekadar tiga kali makan dengan biaya paling rendah Rp10.000 maka setiap jamaah menggerakkan Rp30.000 per hari. Dengan 575.000 jamaah, arus uang itu mengalir sekitar Rp17 miliar per hari, atau lebih dari Rp51 miliar selama tiga hari.

Itu baru dari konsumsi belum termasuk transportasi, akomodasi, logistik, sewa tenda, dan pasar informal yang tidak tercatat.

Biasanya Kota Baru hanyalah hamparan lapang yang sesekali dilintasi truk dan angin. Namun pada akhir November itu, ia berubah menjadi lanskap spiritual-ekonomik yang hampir mustahil dibayangkan.

Beberapa video jamaah yang beredar memperlihatkan seorang lelaki tua asal Sudan menawar sarung di warung kecil; rombongan pemuda dari Sulawesi duduk menikmati es kelapa di bawah pohon randu; jemaah dari Tanjung Pinang, Kepri mereka membeli sabun mandi di kios semi permanen.

Hal-hal sederhana, yang dalam skala raksasa menjadi denyut ekonomi yang tak dapat diabaikan.

Di antara hiruk pikuk, suara azan selalu jatuh tepat waktu, seolah menjadi penyeimbang dari pasar yang mendadak ramai. Lampung hari itu tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga saksi bahwa spiritualitas tidak pernah benar-benar terpisah dari kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA :  Kades Nibung Sangkal Warganya Lakukan Pelemparan Batu ke Mobil Polisi

Ketika Gubernur Mirza meninjau pengamanan, ia tidak hanya melihat kerumunan, tetapi juga potensi. Lampung, katanya, harus menjadi rumah bagi event-event besar. Tempat di mana manusia datang membawa doa dan pulang membawa kesan yang menular.

TNI–Polri, relawan, dan panitia bekerja seperti mekanisme halus di balik panggung teater, tidak terlihat, tetapi membuat semuanya berjalan aman dan manusiawi.

Kini Ijtima Ulama Dunia telah berakhir. Tenda-tenda dilipat. Lapak-lapak perlahan ditutup. Jalanan akan kembali lengang.

Namun Kota Baru menyimpan jejak yang sulit dibersihkan jejak ribuan langkah, jejak pertemuan budaya, dan jejak ekonomi yang mengalir seperti sungai yang tiba-tiba meluap.

Di tanah yang sunyi itu, Lampung Selatan menemukan cerita baru bahwa kadang, berkah turun bukan hanya dalam rupa hujan doa, tetapi juga dalam bentuk transaksi kecil yang dilakukan dengan tangan gemetar kelelahan setelah beribadah.

Dan mungkin, bagi banyak orang, begitulah cara Tuhan menyalurkan rezeki-Nya: senyap, tidak dramatis, tetapi selalu terasa.***