Scroll untuk baca artikel
AgamaInfo WawaiPersona

TQN Suryalaya di Lampung: Dari Zikir ke Gerakan Peradaban

×

TQN Suryalaya di Lampung: Dari Zikir ke Gerakan Peradaban

Sebarkan artikel ini
Abuya Dr. K.H Mochammad Rusfi, M.Ag

WawaiNEWS.ID – Di tengah hiruk-pikuk dunia yang serba cepat, ada ribuan orang di Lampung yang memilih jalan sunyi, berzikir, membersihkan hati, dan menata hidup melalui Thareqat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN). Jalan spiritual ini bukan sekadar ritual, tetapi perjalanan pulang menuju Allah dengan bimbingan mursyid yang sanadnya jelas dan akhlaknya teruji.

TQN yang dikembangkan oleh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin lebih dikenal sebagai Abah Anom melalui Pondok Pesantren Suryalaya telah berkembang pesat hingga ke berbagai penjuru Indonesia, termasuk Lampung.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Di provinsi ini, jumlah ikhwan (pengamal TQN) diperkirakan mencapai 30.000 orang, jumlah itu dilansir dari Blog https://tqnponpesarafah.blogspot.com/ yang di upload pada tahun 2017, tersebar di seluruh kota dan kabupaten. Angka yang besar namun lebih dari sekadar statistik, ia adalah tanda bahwa kebutuhan ruhani tak pernah surut, bahkan di era modern.

BACA JUGA :  Ini Provinsi Terbanyak Tempat Mangkal PSK, Jabar Peringkat Pertama Paling Banyak Terdapat di Bekasi

Melihat antusiasme masyarakat yang ingin belajar dan mengamalkan TQN, Abah Anom mengangkat Drs. KH. Muhammad Rusfi, M.A. sebagai Wakil Talqin untuk wilayah Lampung.

Muhammad Rusfi lahir di Krui, Lampung Barat, 15 Februari 1959. Latar belakang pendidikannya mencerminkan perpaduan antara tradisi dan akademik:

  • S1 IAIN Imam Bonjol Padang (1984)
  • S2 IAIN Sunan Gunung Djati Bandung (2001)

Sejak 1986, beliau mengabdi sebagai dosen di Fakultas Syariah IAIN Raden Intan Lampung (kini UIN Raden Intan Lampung). Tahun 2005, beliau resmi menjadi Wakil Talqin TQN Pondok Pesantren Suryalaya.

Perpaduan akademisi dan pembimbing tarekat bukan hal yang kontradiktif justru menjadi jembatan. Di satu sisi, beliau memahami teks. Di sisi lain, beliau menuntun konteks batin para ikhwan. Karena dalam tasawuf, ilmu tanpa adab bisa kering, dan zikir tanpa ilmu bisa kehilangan arah.

BACA JUGA :  UAS “Tour de Lampung” 2026: 4 Hari, 9 Titik Dakwah, Jamaah Siap Padati Masjid

Masjid Al-Arafah: Tasawuf Centre Lampung

Agar pembinaan ikhwan lebih efektif dan terarah, Wakil Talqin bersama para ikhwan membangun sebuah pusat kegiatan yang diberi nama Masjid Al-Arafah (Tasawuf Centre).

Masjid ini bukan hanya tempat shalat lima waktu. Ia menjadi ruang suluk, majelis zikir, pembinaan akhlak, dan pusat pengembangan TQN di Lampung. Lokasinya berada di Jl. Raya Hajimena Gg. Rambutan, Kecamatan Natar, Lampung Selatan sekitar 1.200 meter dari depan Auto 2000 Hajimena.

Secara simbolik, jaraknya mungkin hanya satu kilometer dari jalan raya. Namun secara spiritual, ia menjadi oase di tengah padang kegelisahan modern.

Di sana, orang-orang datang bukan untuk menjadi terkenal, tetapi untuk menjadi tenang. Bukan untuk dipuji, tetapi untuk memperbaiki diri.

Sebagian orang mungkin mengira tarekat adalah warisan masa lalu. Namun fakta 30.000 ikhwan di Lampung menunjukkan sebaliknya, ketika dunia semakin bising, manusia justru mencari keheningan.

BACA JUGA :  Ini Filosofi Label Halal Baru Indonesia, Mulai Berlaku Efektif 1 Maret

TQN mengajarkan keseimbangan:
berzikir tetapi tetap bekerja,
mencari dunia tanpa melupakan akhirat,
taat kepada guru tetapi tetap berpikir jernih.

Dalam bahasa yang sederhana, tarekat bukan pelarian dari dunia melainkan cara menata hati agar tidak diperbudak dunia.

Gerakan spiritual seperti TQN sejatinya bukan hanya urusan pribadi. Ia membentuk karakter sosial: jujur dalam muamalah, sabar dalam ujian, dan santun dalam perbedaan.

Jika hati bersih, maka transaksi bersih.
Jika batin tertata, maka masyarakat lebih damai.

Di sinilah relevansi Tasawuf Centre Lampung: bukan sekadar pusat ritual, tetapi pusat pembinaan akhlak dan peradaban.

Karena pada akhirnya, tarekat bukan tentang siapa yang paling keras suaranya saat zikir melainkan siapa yang paling lembut hatinya dalam kehidupan.

Dan di Lampung, perjalanan sunyi itu terus berjalan.***