Scroll untuk baca artikel
Hukum & KriminalLampung

Terungkap! Bahroni Residivis Penjambret Penembak Brigadir Arya Tewas Ditembak Polisi di Pesawaran

×

Terungkap! Bahroni Residivis Penjambret Penembak Brigadir Arya Tewas Ditembak Polisi di Pesawaran

Sebarkan artikel ini
Kapolda Lampung Irjen Pol Helfi Assegaf dalam konferensi pers di Mapolda Lampung, Jumat pagi. - foto Jali

LAMPUNG – Misteri pelaku penembakan yang menewaskan Brigadir Anumerta Arya Supena akhirnya terkuak. Pelaku utama diketahui bernama Bahroni alias Ron (23), residivis kasus penjambretan asal Kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran, yang tewas setelah dilumpuhkan tim gabungan Polda Lampung dalam penyergapan dramatis di kawasan penggerebekan Teluk Hantu, Desa Pagar Jaya, Kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran, Jumat pagi, 15 Mei 2026.

Pengungkapan kasus yang sempat mengguncang publik Lampung itu diumumkan langsung Kapolda Lampung Irjen Pol Helfi Assegaf dalam konferensi pers di Mapolda Lampung, Jumat pagi.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kasus ini menyita perhatian luas karena Brigadir Arya Supena, anggota Ditintelkam Polda Lampung, gugur saat berusaha menggagalkan aksi pencurian kendaraan bermotor (curanmor) di Jalan ZA Pagar Alam, Labuhan Ratu, Bandar Lampung, Sabtu pagi (9/5/2026).

Ironisnya, senjata api yang digunakan menembak Brigadir Arya ternyata merupakan senjata milik korban sendiri yang berhasil direbut pelaku saat terjadi pergumulan.

BACA JUGA :  Tersesat di Merak, Brigadir Agus Akhirnya Dijemput Polda Lampung

“Tersangka Ron melakukan penembakan menggunakan senjata api anggota yang saat itu akan mengamankan tersangka. Senjata direbut pelaku saat terjadi pergumulan,” tegas Kapolda.

Kapolda menjelaskan, sebelum kejadian kedua pelaku yakni Bahroni alias Ron dan Hamli alias Ham (27) berkeliling mencari sasaran curanmor di wilayah Kedaton, Bandar Lampung.

Keduanya kemudian berhenti di depan toko roti Yussy Akmal di kawasan Labuhan Ratu. Bahroni turun dari motor dan mulai merusak kunci sepeda motor menggunakan kunci letter T yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Namun aksi itu dipergoki Brigadir Arya Supena yang tengah melintas.

Tanpa ragu, Brigadir Arya mencoba menghentikan aksi pelaku. Pergumulan pun tak terhindarkan. Dalam situasi kacau itu, pelaku berhasil merebut pistol milik korban lalu menembakkannya ke arah kepala Brigadir Arya. Korban tewas seketika di lokasi.

Peristiwa tersebut sontak memicu operasi besar-besaran aparat kepolisian. Publik pun dibuat geram karena seorang anggota polisi gugur bukan saat baku tembak melawan jaringan teroris, melainkan ketika menghadapi pencuri motor yang membawa kunci letter T alat kecil yang efek kerusakannya belakangan terasa lebih menakutkan daripada obeng biasa.

Dalam pengembangan kasus, polisi lebih dulu menangkap Hamli alias Ham pada Senin (11/5/2026) di wilayah Jabung, Lampung Timur.

Penangkapan itu sempat viral di media sosial karena disertai suara letusan senjata dan berbagai narasi liar yang berkembang cepat melebihi kecepatan konferensi pers resmi.

Bahkan sejumlah akun media sosial langsung mengklaim pelaku merupakan warga Jabung. Klaim itu kemudian dibantah keras oleh Kepala Desa Gunung Mekar dan sejumlah tokoh masyarakat setempat yang berulang kali turun ke kolom komentar demi “meluruskan geografi kriminal” agar satu kecamatan tidak mendadak dicap markas begal nasional.

Kapolda sendiri kala itu belum memberikan kepastian terkait identitas pelaku karena penyidik masih melakukan pendalaman.

“Masih proses penyelidikan. Banyak yang harus kita cocokkan,” kata Helfi beberapa hari lalu.

Belakangan terungkap, Hamli memang berperan penting dalam aksi tersebut. Ia bertugas mengawasi situasi sekaligus menyiapkan kendaraan untuk melarikan diri usai beraksi.

Dari hasil pemeriksaan Hamli, polisi akhirnya memperoleh titik lokasi persembunyian Bahroni di kawasan Gigi Hiu, Pesawaran.

Tim gabungan bergerak pada Jumat dini hari. Namun saat hendak ditangkap, Bahroni disebut melakukan perlawanan terhadap petugas.

“Karena melakukan perlawanan, dilakukan tindakan tegas dan terukur hingga tersangka meninggal dunia,” jelas Kapolda.

Jenazah Bahroni kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Polda Lampung menggunakan mobil anggota polisi dengan pengawalan ketat tujuh kendaraan.

Pemandangan pengangkutan jenazah yang ditutup daun pisang sempat menjadi sorotan warga dan viral di media sosial. Sebagian netizen sibuk membahas teknis pengawalan, sebagian lagi mendadak menjadi analis forensik dadakan hanya bermodal video 15 detik dan koneksi internet.

Selain memburu pelaku, polisi juga masih mendalami keberadaan senjata api milik Brigadir Arya yang sempat dibawa kabur pelaku usai penembakan.

Kapolda memastikan seluruh rangkaian kasus masih terus dikembangkan, termasuk kemungkinan adanya jaringan curanmor lain yang terlibat.***