MESUJI – Seekor tapir (Tapirus indicus) yang diduga sedang menjalani fase alami mencari wilayah jelajah baru justru mengakhiri hidupnya secara mengenaskan. Satwa langka yang sempat berjalan santai di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), kawasan Register 45, Kabupaten Mesuji, Lampung, itu akhirnya diburu, ditombak, disembelih, bahkan dimasak menjadi rica-rica oleh sejumlah warga.
Ironisnya, di saat berbagai negara berlomba menyelamatkan satwa langka dari kepunahan, sebagian warga justru menjadikan mamalia dilindungi itu sebagai menu makan malam.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung mengungkap kemunculan tapir tersebut bukanlah fenomena aneh ataupun pertanda mistis sebagaimana kerap beredar di masyarakat. Kepala BKSDA Bengkulu-Lampung, Agung Nugroho, menjelaskan, tapir itu diduga sedang memasuki fase alami lepas sapih dari induknya sehingga mulai mencari wilayah jelajah baru.
“Ada kemungkinan tapir tersebut sedang berada pada fase alami lepas sapih dari induknya sehingga mulai mencari wilayah jelajah baru. Itu merupakan perilaku alami yang lazim terjadi pada satwa liar,” ujar Agung, Sabtu (4/7/2026).
Menurutnya, Jalan Lintas Sumatera yang membelah kawasan Register 45 memang menjadi jalur yang kerap dilintasi satwa liar ketika berpindah habitat.
Diduga, tapir tersebut hendak menuju kawasan hutan di seberang jalan. Namun, jalur yang dahulu merupakan bentang alam utuh kini terpotong oleh jalan nasional dan berbagai aktivitas manusia.
“Jalinsum memotong bentang alam Register 45 yang memang masih menjadi koridor pergerakan satwa liar,” jelasnya.
Selain faktor alami, BKSDA juga menyoroti semakin menyempitnya ruang hidup satwa liar akibat perubahan bentang alam.
Register 45 diketahui merupakan kawasan konsesi PT Silva Inhutani dan PT BNIL. Di sisi lain, alih fungsi lahan menjadi perkebunan tebu maupun kebun singkong milik masyarakat diduga ikut mempersempit habitat tapir.
Akibatnya, satwa yang dikenal pemalu itu terpaksa mencari kawasan baru yang dianggap lebih aman.
Kalau hutan terus menyusut, jangan heran bila suatu hari satwa liar “bertamu”. Sebab mereka bukan sedang piknik ke jalan raya, melainkan kehilangan ruang hidupnya sendiri.
Kepala Seksi KSDA Wilayah III Lampung, Itno Itoyo, memastikan keberadaan tapir di Register 45 bukan hal baru.
Laporan lapangan sejak 2022 hingga 2023 menunjukkan kawasan tersebut masih menjadi habitat penting bagi spesies langka itu.
“Tapir memang masih ditemukan di kawasan Register 45. Sebelumnya juga pernah ada laporan mengenai keberadaan satwa ini,” katanya.
Meski demikian, hingga kini belum ada angka pasti mengenai populasi tapir di Lampung karena pendataan masih terus dilakukan melalui survei habitat dan pemantauan lapangan.
Dari Viral ke Meja Makan
Peristiwa bermula ketika seekor tapir terekam berjalan di Jalan Lintas Sumatera, Kamis (2/7/2026).
Kemunculannya sempat mengundang perhatian warga dan pengguna jalan.
Alih-alih membiarkan petugas mengevakuasi satwa tersebut, setelah kembali masuk ke kawasan hutan, tapir diduga justru dikejar oleh enam orang warga.











