Scroll untuk baca artikel
Zona Bekasi

Belajar ke China,Tri Adhianto Siapkan Bantargebang Jadi Silicon Valley-nya Ekonomi Hijau

×

Belajar ke China,Tri Adhianto Siapkan Bantargebang Jadi Silicon Valley-nya Ekonomi Hijau

Sebarkan artikel ini
Rombongan Walikota dan DPRD Kota Bekasi di Provinsi Zhejiang, China, berlanjut ke Mizuda Group, perusahaan yang dikenal sebagai produsen tekstil terbesar - foto dok

KOTA BEKASI — Jika selama ini Bantargebang lebih terkenal karena aroma khas yang bisa dikenali bahkan sebelum papan namanya terlihat, Pemerintah Kota Bekasi tampaknya sedang menyiapkan babak baru. Targetnya tidak main-main: mengubah kawasan yang identik dengan gunungan sampah menjadi pusat inovasi lingkungan dan ekonomi hijau.

Misi besar itu menjadi salah satu fokus kunjungan Wali Kota Bekasi Tri Adhianto bersama rombongan DPRD Kota Bekasi ke Provinsi Zhejiang, China. Salah satu destinasi yang mereka sambangi adalah perusahaan raksasa tekstil Mizuda Group, sebuah contoh bagaimana inovasi mampu mengubah bisnis konvensional menjadi kerajaan industri yang lebih luas dan berkelanjutan.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Di sinilah pelajaran penting dimulai.

Mizuda bukan sekadar perusahaan tekstil. Dari rahim perusahaan ini lahir Wangneng Environment, salah satu perusahaan pengolah sampah menjadi energi (waste to energy) terbesar di Tiongkok. Nama Wangneng sendiri tidak asing bagi Bekasi, karena perusahaan inilah yang akan membangun fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) di Bantargebang dalam waktu dekat.

Jika selama ini sampah dianggap akhir dari sebuah siklus, Wangneng membuktikan bahwa bagi industri modern, sampah justru bisa menjadi awal bisnis bernilai miliaran rupiah.

Tri Adhianto mengatakan, yang dipelajari bukan sekadar teknologi pengolahan limbah atau proses produksi tekstil.

Menurutnya, hal yang paling menarik adalah bagaimana sebuah perusahaan mampu melihat masalah sebagai peluang, lalu mengubahnya menjadi sektor usaha baru yang menghasilkan keuntungan sekaligus memberikan solusi lingkungan.

BACA JUGA :  Penumpang Angkot 02 Tanpa Identitas Meninggal di Terminal Bekasi

“Yang kami pelajari bukan hanya proses produksinya. Yang menarik adalah bagaimana Mizuda mampu terus berinovasi hingga melahirkan Wangneng sebagai perusahaan di bidang lingkungan hidup. Ini membuktikan bahwa inovasi dapat menciptakan nilai ekonomi baru sekaligus menjawab persoalan lingkungan,” ujar Tri melalui rilis resmi pada Selasa (30/6).

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun pesannya cukup menohok. Di saat banyak daerah masih sibuk memperdebatkan siapa yang bertanggung jawab atas sampah, China sudah mengubahnya menjadi listrik, investasi, lapangan kerja, dan sumber pendapatan.

Bekasi tampaknya tidak ingin sekadar menjadi penonton.

Bantargebang Jangan Cuma Jadi Tempat Buang Sampah Jakarta

Selama puluhan tahun, Bantargebang dikenal sebagai “halaman belakang” Jakarta. Tempat di mana sampah datang setiap hari tanpa pernah diminta, menumpuk lebih tinggi dari harapan sebagian warganya.

Namun menurut Tri, masa depan Bantargebang tidak boleh berhenti sebagai lokasi pembuangan akhir.

Kehadiran PSEL nantinya diharapkan menjadi pintu masuk bagi lahirnya ekosistem ekonomi sirkular yang lebih luas. Artinya, sampah tidak hanya dibakar menjadi energi, tetapi juga melahirkan industri-industri baru yang saling terhubung.

Mulai dari pengolahan residu hasil pembakaran, pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA), industri material ramah lingkungan, pusat riset teknologi hijau, hingga sektor manufaktur yang mendukung ekonomi berkelanjutan.

Dengan kata lain, targetnya bukan sekadar menghilangkan gunung sampah. Targetnya adalah menciptakan gunung investasi.

Tak hanya membahas urusan sampah dan energi, rombongan Kota Bekasi juga membuka pembicaraan mengenai peluang kerja sama antara Mizuda Group dengan Dekranasda Kota Bekasi.

BACA JUGA :  Wali Kota Bekasi Minta Warga Waspada Terkait Penipuan TKK

Fokusnya adalah penguatan industri kreatif, khususnya sektor fesyen yang selama ini menjadi salah satu potensi besar UMKM Kota Bekasi.

Kerja sama yang dijajaki meliputi peningkatan kapasitas desainer muda, transfer pengetahuan industri, pengembangan kualitas produk UMKM, hingga pembukaan akses pasar internasional.

Tri menilai Bekasi memiliki banyak talenta kreatif yang membutuhkan ruang tumbuh dan akses yang lebih luas.

“Kota Bekasi memiliki banyak talenta kreatif yang perlu didukung agar mampu bersaing di pasar global. Kami ingin kolaborasi ini menjadi ruang belajar bagi desainer dan pelaku UMKM, sekaligus membuka peluang lahirnya produk-produk fesyen asal Bekasi yang memiliki daya saing internasional,” katanya.

Jika selama ini label “Made in Bekasi” lebih sering melekat pada kawasan industri dan manufaktur, bukan tidak mungkin ke depan juga melekat pada produk fesyen yang tampil di pasar internasional.

Dalam kesempatan yang sama, Tri juga secara terbuka mengundang Mizuda Group untuk mempertimbangkan investasi langsung di Kota Bekasi.

Bahkan, Bantargebang disebut sebagai salah satu lokasi yang diproyeksikan menjadi kawasan pengembangan industri masa depan.

Visi yang dibangun cukup ambisius: menjadikan Bantargebang sebagai pusat inovasi lingkungan, pusat ekonomi hijau, sekaligus laboratorium transformasi perkotaan.

“Kami berharap ke depan mereka dapat mempertimbangkan Bantargebang sebagai lokasi pengembangan industri. Visi kami adalah mengubah kawasan ini menjadi pusat inovasi lingkungan dan kawasan ekonomi hijau,” ujarnya.

BACA JUGA :  Lawan Radikalisme, Begini Pesan NU Bekasi ke Pemerintah

Menurut Tri, keberadaan PSEL harus menjadi awal, bukan akhir.

Yang dibutuhkan adalah efek berantai berupa investasi baru, transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja, hingga lahirnya berbagai sektor usaha yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.

“Jadi yang hadir di sana bukan hanya fasilitas pengolahan sampah, tetapi juga industri yang menciptakan lapangan kerja, menghadirkan transfer teknologi, dan menggerakkan perekonomian masyarakat,” tambahnya.

Transformasi Bantargebang, menurut Tri, harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

PSEL hanyalah fondasi. Di atas fondasi itu akan dibangun ekosistem ekonomi hijau yang melibatkan industri turunan, investasi, pusat inovasi, hingga pengembangan sumber daya manusia.

Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah kota bukan diukur dari seberapa banyak sampah yang dibuang, melainkan seberapa cerdas sampah itu diubah menjadi peluang.

Dan jika rencana ini berjalan sesuai jalurnya, lima hingga sepuluh tahun mendatang, nama Bantargebang mungkin tidak lagi identik dengan gunungan sampah yang terlihat dari kejauhan.

Melainkan kawasan yang berhasil melakukan sesuatu yang selama ini terdengar seperti lelucon yakni mengubah sampah menjadi energi, investasi, lapangan kerja, dan masa depan.

“Saya ingin lima sampai sepuluh tahun ke depan, ketika orang mendengar nama Bantargebang, yang terbayang bukan lagi gunungan sampah. Yang terbayang adalah kawasan yang berhasil bertransformasi menjadi pusat inovasi lingkungan, pusat pertumbuhan ekonomi hijau, dan tempat lahirnya peluang-peluang baru bagi masyarakat Kota Bekasi,” tutup Tri Adhianto.***