KUTAI BARAT – Safari dakwah Ustaz Abdul Somad (UAS) di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, Sabtu (4/7/2026), sempat diwarnai ketegangan. Video detik-detik penghadangan rombongan UAS viral di media sosial setelah memperlihatkan seorang pendemo naik ke atas mobil yang diduga ditumpangi sang penceramah.
Aksi tersebut memicu perhatian publik karena terjadi sesaat setelah rombongan UAS tiba di Kutai Barat untuk menghadiri agenda Tabligh Akbar di Masjid Al Muttaqin Islamic Center.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, UAS bersama rombongan mendarat di Bandara Melalan sekitar pukul 09.00 Wita. Namun perjalanan menuju lokasi kegiatan tidak berjalan mulus. Sejumlah massa yang mengatasnamakan Gerakan Aksi Massa 1.000 Gong menghadang iring-iringan kendaraan sebagai bentuk penolakan terhadap kehadiran UAS.
Kelompok tersebut menyatakan penolakan karena menilai materi ceramah UAS berpotensi menimbulkan perbedaan pandangan di tengah masyarakat. Di sisi lain, ribuan pendukung dan jemaah telah menunggu kedatangan UAS untuk mengikuti tabligh akbar.
Situasi sempat memanas ketika terjadi adu argumen antara massa penolak dan pendukung. Dalam video yang beredar luas di berbagai platform media sosial, tampak seorang pria naik ke atas kap mobil yang diduga membawa UAS, sementara aparat kepolisian dan petugas keamanan berupaya mengendalikan situasi agar tidak berkembang menjadi bentrokan fisik.
Beruntung, aparat keamanan bergerak cepat melakukan pengamanan dan membuka akses bagi rombongan sehingga kondisi dapat kembali terkendali. Tidak lama kemudian, UAS berhasil tiba di Masjid Al Muttaqin Islamic Center.
Meski sempat diwarnai aksi penolakan, tabligh akbar akhirnya tetap berlangsung sesuai jadwal. Ribuan jemaah memadati area masjid untuk mengikuti ceramah UAS hingga acara selesai dalam suasana kondusif.
Peristiwa tersebut kembali memantik perdebatan di media sosial. Sebagian warganet menilai penolakan merupakan bagian dari kebebasan menyampaikan pendapat, sementara lainnya mengkritik cara penyampaian aspirasi yang dianggap berpotensi mengganggu ketertiban umum.
Di tengah silang pendapat itu, satu pelajaran yang sulit dibantah adalah bahwa berbeda pandangan merupakan hal yang lumrah dalam demokrasi, tetapi jangan sampai perbedaan berubah menjadi tontonan yang mengorbankan ketertiban dan persaudaraan. Kritik boleh keras, argumentasi boleh tajam, namun kap mobil bukanlah podium debat.
Peristiwa di Kutai Barat menjadi pengingat bahwa ruang demokrasi dan kebebasan berpendapat tetap harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap keamanan, hukum, dan hak masyarakat untuk menjalankan kegiatan secara damai.***













