Scroll untuk baca artikel
AgamaRagam

Lebih Hafal Notifikasi daripada Al-Qur’an? Inilah Penyakit Ruhani yang Menggerogoti Generasi Digital

×

Lebih Hafal Notifikasi daripada Al-Qur’an? Inilah Penyakit Ruhani yang Menggerogoti Generasi Digital

Sebarkan artikel ini
KH. Didin Syafrudin memimpin Istighosah dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Majelis Dzikir Ar Ridho Sukatani Kabupaten Bekasi, Jumat (19/9/2025).

WawaiNEWS.ID – Di zaman ketika manusia lebih hafal notifikasi daripada ayat suci, lebih cepat membuka media sosial daripada mushaf Al-Qur’an, dan lebih sering mengecek jumlah pengikut dibanding menghitung amalnya sendiri, muncul satu pertanyaan besar: apakah kemajuan teknologi benar-benar membuat manusia semakin bahagia?

Realitas menunjukkan sebaliknya.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Di balik gemerlap dunia digital yang tampak modern, tersembunyi krisis ruhani yang perlahan menggerogoti kehidupan manusia. Fenomena kecemasan berlebihan, depresi, ketakutan tertinggal tren (fear of missing out/FOMO), gangguan konsentrasi, hingga kehampaan hidup kini menjadi “wabah sunyi” yang menjangkiti berbagai lapisan masyarakat.

Ironisnya, manusia modern mampu menghabiskan berjam-jam menatap layar ponsel, namun kesulitan menyediakan beberapa menit untuk menatap hatinya sendiri.

Mereka mengenal ribuan akun media sosial, tetapi asing terhadap dirinya sendiri.

Mereka mengetahui kabar seluruh dunia, namun lupa jalan pulang menuju Allah.

Di tengah kegaduhan itulah banyak kalangan mulai kembali melirik khazanah tasawuf dan spiritualitas Islam yang telah diwariskan para ulama selama berabad-abad. Salah satunya adalah amalan dzikir bertingkat yang tidak hanya berfungsi sebagai ibadah lisan, tetapi juga sebagai terapi ruhani untuk membersihkan hati dari penyakit zaman.

BACA JUGA :  Perlu Diketahui, Ini Jenis Modus Kejahatan Dunia Maya

Ketika Nama Allah Menjadi Obat bagi Jiwa yang Lelah

Perjalanan itu dimulai dari dzikir asma, yakni memperbanyak menyebut nama Allah dan Asmaul Husna dengan penuh kesadaran.

Pada tahap ini, hati yang selama ini dipenuhi kecemasan dunia perlahan mulai menemukan ketenangan.

Sebab hakikatnya, manusia tidak diciptakan untuk terus-menerus mengejar perhatian manusia lain.

Ia diciptakan untuk mengenal Tuhannya.

Allah SWT telah mengingatkan:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Ayat ini terasa semakin relevan di era ketika sebagian orang mengalami “panik nasional” hanya karena unggahannya sepi tanda suka atau komentarnya tidak mendapat respons.

Padahal ketenangan sejati tidak pernah lahir dari algoritma.

Ketenangan lahir dari dzikir.

Dzikir Sifat: Detoksifikasi Ego di Era Pencitraan

Setelah hati mulai tenang, perjalanan berlanjut menuju dzikir sifat.

Pada fase ini seorang hamba tidak sekadar menyebut nama Allah, tetapi mulai menyaksikan kebesaran sifat-sifat-Nya dalam seluruh kehidupan.

Ia memahami bahwa kecerdasan bukan miliknya.

Kekayaan bukan miliknya.

Jabatan bukan miliknya.

Popularitas bukan miliknya.

Semua hanyalah titipan sementara dari Allah SWT.

Di sinilah ego mulai dilebur.

Kesombongan yang selama ini tumbuh karena jabatan, harta, atau jumlah pengikut di media sosial perlahan runtuh.

BACA JUGA :  Dihadapan Seratusan Ekonom, Jokowi Paparkan Tiga Strategi Ekonomi

Syekh Muhammad Nafis al-Banjari dalam kitab Al-Durr al-Nafis menjelaskan bahwa hakikat sifat yang sempurna hanyalah milik Allah semata. Adapun sifat yang tampak pada makhluk hanyalah bayangan dan pinjaman yang sewaktu-waktu dapat dicabut oleh Sang Pemilik.

Betapa banyak manusia yang merasa dirinya hebat karena viral semalam, padahal esok hari namanya sudah tenggelam ditelan konten baru.

Betapa banyak yang merasa dirinya penting karena dipuji manusia, padahal lupa bahwa seluruh pujian manusia tidak akan menambah kemuliaan sedikit pun jika Allah tidak meridhainya.

Dzikir Dzat: Ketika Dunia Tak Lagi Menguasai Hati

Puncak perjalanan spiritual adalah dzikir dzat.

Inilah maqam yang dibahas para ulama tasawuf sebagai tingkatan makrifat yang sangat tinggi.

Pada fase ini hati telah begitu dekat dengan Allah sehingga hiruk-pikuk dunia kehilangan daya cengkeramnya.

Bukan berarti seseorang meninggalkan dunia.

Bukan pula meninggalkan teknologi.

Namun dunia tidak lagi menguasai dirinya.

Ia menggunakan teknologi, bukan diperbudak teknologi.

Ia memiliki media sosial, tetapi tidak menjadikan media sosial sebagai kiblat hidup.

Ia bekerja mencari rezeki, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.

BACA JUGA :  Kemenag Sebut UMK Berhak Mendapat Sertifikasi Halal Gratis

Dalam kitab Sirrul Asrar, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menjelaskan bahwa ketika hijab-hijab batin tersingkap melalui penyucian jiwa dan peleburan ego, maka cahaya ketuhanan akan memancar ke dalam hati seorang hamba.

Pada titik itulah seseorang merasakan kehadiran Allah dalam setiap langkah kehidupannya.

Ia tidak lagi bergantung pada tepuk tangan manusia.

Karena yang dicarinya hanyalah ridha Allah.

Saatnya Pulang

Kecerdasan buatan mungkin mampu menjawab ribuan pertanyaan manusia.

Mesin pencari mampu menemukan jutaan informasi dalam hitungan detik.

Media sosial mampu menghubungkan manusia dari berbagai belahan dunia.

Namun tidak satu pun dari semua itu mampu menggantikan fungsi dzikir dalam menenangkan hati.

Karena problem terbesar manusia bukanlah kurangnya informasi.

Melainkan jauhnya hati dari Allah.

Maka ketika dunia semakin bising, mungkin yang perlu ditambah bukan volume suara, melainkan kualitas dzikir.

Ketika jempol semakin sibuk menggulir layar, mungkin hati justru semakin membutuhkan tasbih.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak akan ditanya berapa banyak pengikutnya di media sosial.

Tetapi akan ditanya ke mana hatinya berlabuh selama hidup di dunia.

Dan bagi orang-orang yang beriman, pelabuhan terakhir itu tidak lain adalah Allah SWT.***