JAKARTA — Potensi pertanian Kepulauan Riau (Kepri) didorong naik kelas, dari komoditas lokal menjadi produk berorientasi ekspor. Tokoh pembentukan Provinsi Kepri, Dato H. Huzrin Hood, mengusulkan pengembangan komoditas rempah dan tanaman bernilai ekonomi melalui program desa tematik, dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai salah satu penggerak pemasaran hasil panen.
Gagasan itu disampaikan Huzrin saat bersilaturahmi dengan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto, Minggu (18/10/2026). Dalam pertemuan tersebut, ia mendorong pelibatan petani desa untuk mengembangkan komoditas seperti jahe, kunyit, serai, gambis, pala, dan lada yang dinilai berpotensi menjadi produk unggulan Kepri.
Skema yang diusulkan tidak berhenti pada penanaman. BUMDes diharapkan dapat berperan membeli dan menampung hasil panen petani, sementara dukungan benih dari pemerintah menjadi bagian dari pengembangan produksi. Dengan pola itu, petani diharapkan memiliki kepastian pasar dan tidak terus-menerus menghadapi persoalan klasik yakni rajin menanam, tetapi bingung menjual hasil panen.
“Saya minta segera siapkan lahan dan tentukan tanaman apa yang menjadi prioritas. Mendes sudah berkoordinasi dengan Menteri Pertanian Amran,” kata Huzrin kepada Wawai News, menjelaskan hasil pertemuan tersebut Senin (19/10).
Menurut Huzrin, langkah berikutnya adalah memastikan ketersediaan lahan serta menentukan komoditas yang paling sesuai dengan kondisi wilayah. Ia berharap masyarakat, Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), dinas pertanian, dan pemerintah kabupaten dapat bergerak bersama.
Usulan dari daerah, termasuk rekomendasi kepala daerah, diharapkan mempercepat pembahasan program dengan Kementerian Desa PDT dan Kementerian Pertanian.
Kabupaten Lingga dan kawasan Kundur, Kabupaten Karimun, disebut memiliki potensi untuk mendukung rencana tersebut. Huzrin juga mengajak masyarakat di Kundur Karimun mulai memetakan lahan serta menyiapkan komoditas prioritas, termasuk pala dan lada, yang berpeluang dikembangkan untuk pasar ekspor.
Namun, peluang ekspor tidak cukup hanya bermodal lahan dan semangat menanam. Kepastian pembeli, standar mutu, kesinambungan pasokan, pengolahan pascapanen, hingga akses distribusi perlu dipastikan sejak awal. Tanpa perencanaan dari hulu ke hilir, program desa tematik berisiko berhenti sebagai daftar komoditas unggulan di atas kertas.
Pertemuan itu turut dihadiri Amren, Kepala DesaTinjuk wilayah Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, yang juga disebut menjabat bendahara umum Asosiasi Kepala Desa se-Indonesia. Huzrin berharap gagasan tersebut mendapat respons dari masyarakat dan pemerintah daerah agar potensi pertanian Kepri dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan petani sekaligus membuka jalan bagi produk desa menembus pasar ekspor.
Saat ini tegasnya, menjadi pekerjaan rumah adalah menerjemahkan wacana menjadi langkah konkret dalam memastikan lahan, memilih komoditas yang tepat, menyiapkan petani, serta membangun rantai pemasaran. Pasalnya, komoditas ekspor tidak lahir hanya dari rapat dan rekomendasi, kata Huzrin semua membutuhkan produksi yang konsisten, mutu yang terjaga, dan pembeli yang benar-benar siap membayar.
“Besok malam Selasa (20/10) saya akan kembali bertemu Menteri Desa untuk mematangkan lebih konkret dan teknisnya bagaimana,”pungkasnya.***













