Catatan perjalanan dari Daik Lingga
WawaiNEWS.ID – Ada satu pertanyaan yang dilontarkan Huzrin Hood ketika berbicara tentang investasi perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Lingga. Pertanyaannya pendek, tetapi cukup untuk membuat siapa pun berpikir lebih jauh.
“Kalau kita memandang Sumatera, mereka berhasil meningkatkan ekonomi masyarakat dengan sawit. Apakah Lingga sebaliknya?”
Tokoh senior Kepulauan Riau yang dikenal sebagai salah satu tokoh sentral perjuangan pembentukan Provinsi Kepri itu menyampaikan pandangannya saat dikonfirmasi mengenai investasi sawit yang kini berkembang di Lingga.
Pertanyaan Huzrin bukan berarti semua perkebunan sawit otomatis membawa kesejahteraan. Tetapi, ia mengingatkan bahwa peluang ekonomi juga jangan buru-buru ditutup hanya karena perdebatan belum menemukan ujungnya.
Sebab, di tengah perbincangan tentang investasi, ada satu hal yang semestinya tetap menjadi pusat perhatian yakni kehidupan masyarakat.
Orang boleh berbeda pendapat tentang sawit. Ada yang melihatnya sebagai peluang, ada pula yang ingin memastikan dampak lingkungan dan sosialnya tidak diabaikan. Keduanya merupakan bagian dari pembahasan yang wajar.
Yang kurang produktif adalah ketika perdebatan lebih sibuk mencari siapa yang paling keras bersuara, sementara pertanyaan tentang manfaat nyata bagi warga justru tertinggal di belakang.
Investasi tidak cukup dinilai dari janji. Tetapi, peluang investasi juga tidak semestinya diadili hanya melalui prasangka. Yang dibutuhkan ialah data, pengawasan, keterbukaan, dan keberanian menilai hasilnya secara objektif.
Dari Malaysia hingga Lingga: sawit dan peluang kerja
Huzrin mencontohkan Malaysia yang mengembangkan industri kelapa sawit dan mampu menarik tenaga kerja, termasuk dari Indonesia.
Ia melihat pengalaman tersebut sebagai salah satu gambaran bagaimana sektor perkebunan dapat menjadi sumber kegiatan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.
“Kalau investasi sawit di Lingga untuk kesejahteraan rakyat, kenapa tidak? Daripada lahan tidur tidak dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat,” ujarnya.
Pandangan itu berangkat dari pertanyaan sederhana yakni bagaimana potensi daerah dapat diubah menjadi sumber penghidupan masyarakat?
Lingga memiliki wilayah yang menyimpan peluang pengembangan ekonomi. Namun, potensi alam baru benar-benar berarti ketika mampu menciptakan manfaat yang dapat dirasakan warga, bukan hanya tercatat dalam dokumen investasi.
Huzrin tetap mengingatkan pentingnya pengawasan pemerintah daerah untuk mengantisipasi dampak negatif. Artinya, dukungan terhadap peluang ekonomi bukan cek kosong bagi perusahaan. Investasi harus berjalan sesuai ketentuan, memperhatikan lingkungan, dan memberi ruang bagi kepentingan masyarakat.
Di sinilah pemerintah memiliki peran penting: bukan sekadar menyambut modal dengan karpet merah, tetapi memastikan perjalanan investasi memiliki arah, aturan, dan manfaat yang jelas.
Karena modal memang bisa datang membawa rencana. Namun, memastikan kepentingan rakyat tidak tertinggal merupakan pekerjaan yang tak boleh diserahkan kepada harapan semata.
Di desa, ekonomi bukan sekadar angka
Dalam rangkaian perjalanan saya ke Lingga pada awal Oktober 2026, saya melihat langsung aktivitas persiapan perkebunan PT Citra Sugi Adytia (CSA), mulai dari pembukaan lahan hingga pembibitan dan penanaman di sebagian kawasan.
Saya juga berupaya menggali informasi dari pihak perusahaan mengenai skala pengembangan, tenaga kerja lokal, program kemitraan, serta peluang ekonomi yang mungkin tumbuh di sekitar perkebunan.
Dari keterangan Humas PT CSA, Rauf, perusahaan menyebut telah menyerap sekitar 600 tenaga kerja lokal. Ia juga menyampaikan bahwa perputaran dana dari gaji pekerja dan pekerjaan borongan mencapai sekitar Rp2,2 miliar per bulan.
Dari sana, uang berpotensi bergerak lagi ke tangan pedagang, pemilik usaha kecil, penyedia jasa, dan warga lain yang melayani kebutuhan sehari-hari.
Rantai ekonomi seperti inilah yang membuat pembicaraan tentang investasi menjadi dekat dengan kehidupan manusia.
Di Desa Limbung dan kawasan sekitar perkebunan, peluang kerja di sektor sawit juga menjadi alternatif bagi sebagian warga yang selama ini mengandalkan kegiatan tradisional, termasuk melaut.
Bagi nelayan, laut adalah sumber kehidupan. Tetapi cuaca tidak selalu bersahabat. Angin kencang dan gelombang tinggi kadang membuat mereka harus menunda melaut.
Dalam keadaan seperti itu, pilihan pekerjaan lain dapat membantu keluarga menjaga pemasukan. Bukan berarti pekerjaan di kebun menggantikan laut, melainkan membuka kemungkinan agar sumber nafkah keluarga tidak hanya bergantung pada satu sektor.
Bagi sebuah rumah tangga, kesempatan memperoleh penghasilan tambahan bisa berarti banyak. Ada kebutuhan dapur yang harus dipenuhi, anak yang perlu sekolah, serta berbagai pengeluaran yang tidak mengenal musim dan cuaca.
Di atas kertas, 600 pekerja mungkin hanya sebuah angka. Dalam kehidupan nyata, setiap pekerja memiliki cerita dan keluarga yang menggantungkan harapan pada penghasilannya.
Target 14.800 hektare dan masa depan hilirisasi
Menurut keterangan Rauf dalam wawancara sebelumnya, target pengembangan perkebunan di Daik Lingga meliputi sekitar 5.600 hektare kebun perusahaan dan 1.200 hektare kebun plasma, sehingga total rencana di wilayah tersebut mencapai 6.800 hektare.
Dengan asumsi 136 pokok sawit per hektare, kebutuhan penanaman untuk luasan itu setara dengan sekitar 924.800 pokok.
Perusahaan juga menyampaikan target pengembangan di wilayah Dabo Singkep sekitar 8.000 hektare hingga akhir 2027. Jika kedua target tersebut terealisasi, total rencana luasan yang disebutkan mencapai sekitar 14.800 hektare.













