LINGGA — Jabatan boleh berubah, ruang kerja boleh berpindah, dan kartu nama boleh berganti. Tetapi perjalanan hidup seseorang tidak pernah bisa diringkas hanya dari jabatan yang tercetak di atasnya.
Begitu pula dengan Safaruddin, yang dikenal sebagai the man from kelombok, Pulau kecil di daerah berjuluk Bunda Tanah Melayu yang masih tampil sederhana dengan karir moncer di birokrat Kabupaten Lingga ini.
Hari ini, pria 42 tahun itu duduk di salah satu kursi strategis Pemerintah Kabupaten Lingga sebagai Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda). Sebelumnya, ia pernah menjadi Sekretaris DPRD Kabupaten Lingga dan Camat Katang Bidare.
Kalau hanya membaca daftar jabatan tersebut, Safaruddin mungkin terlihat seperti birokrat yang perjalanan kariernya berjalan mulus dari satu kursi ke kursi berikutnya.
Padahal, hidupnya justru dimulai dari tempat yang jauh dari kata mulus.
Ia berasal dari Pulau Kelombok, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Sebuah wilayah yang mengajarkan bahwa untuk pergi ke tempat yang lebih jauh, seseorang tidak cukup hanya punya mimpi. Kadang harus punya perahu, ongkos, keberanian, dan yang paling penting adalah kemauan untuk tidak menyerah.
Safarudin tumbuh dari keluarga sederhana alias keluarga nelayan. Tidak ada nama besar yang bisa dijadikan tiket masuk. Tidak ada warisan kekuasaan yang bisa dipakai sebagai tangga. Yang tersedia hanya kehidupan dan segala keterbatasannya.
Maka, sejak muda ia sudah terbiasa dengan satu rumus sederhana yakni kalau ingin mendapatkan sesuatu, ya harus berjuang.
Ketika Sekolah Harus Dibayar dengan Keringat
Memasuki jenjang SMA, Safarudin harus meninggalkan Pulau Kelombok dan pindah ke Dabo Singkep.
Di tempat baru itu, ia tidak hanya membawa buku dan seragam sekolah. Ia membawa persoalan yang mungkin tidak terlalu dipikirkan oleh sebagian anak seusianya yaitu bagaimana sekolah tetap berjalan ketika biaya tidak selalu tersedia.
Jawabannya adalah bekerja.
Safarudin membantu tukang bakso untuk membiayai sekolahnya.
Barangkali bagi sebagian orang, menjadi pembantu tukang bakso hanyalah pekerjaan biasa. Tetapi bagi seorang anak kampung yang sedang berusaha mempertahankan pendidikannya, pekerjaan itu menjadi bagian dari sejarah hidup.
Ada pelajaran yang tidak tertulis di buku sekolah, bahwa pendidikan terkadang tidak datang dari ruang kelas saja.
Ia juga bisa datang dari tangan yang mengangkat panci, dari kaki yang berjalan seharian, dari lelah yang harus ditahan, dan dari keputusan untuk tetap sekolah meski keadaan berkata sebaliknya.
Safarudin kemudian menamatkan SMA dan melanjutkan perjalanan ke Pekanbaru.
Di sana ia menjadi mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau.
Bagi anak pulau yang sebelumnya hidup dalam ruang geografis yang terbatas, Pekanbaru adalah dunia yang jauh lebih besar. Kampus menjadi tempat ia bertemu banyak karakter, gagasan dan perdebatan.
Termasuk dosen-dosen yang kemudian harus berhadapan dengan gaya berpikir Safarudin.
Ia dikenal kritis. Pertanyaannya kadang disampaikan dengan bahasa khas daerah yang membuat dosen perlu meminta penjelasan ulang.
Bukan karena pertanyaannya tidak jelas, tetapi mungkin karena antara bahasa kampung halaman dan bahasa ruang akademik memang kadang membutuhkan “penerjemah”.
Untungnya, teman-teman sesama mahasiswa sering membantu menjembatani.
Dari situ terlihat satu hal: Safarudin bukan tipe mahasiswa yang hanya datang, duduk, mencatat, lalu pulang.
Ia bertanya.
Ia berdebat.
Ia ingin memahami.
Dan mungkin, kebiasaan itulah yang kelak membawanya memasuki dunia aktivisme.
Pernah Makan Sekali Sehari, Tapi Tetap Kuliah
Di Pekanbaru, Safarudin juga tidak hidup dalam kemewahan.
Bersama senior sekaligus sahabatnya, Nizar, yang kelak menjadi Bupati Lingga, ia pernah merasakan bagaimana sulitnya menjadi mahasiswa rantau.
Ada masa ketika makan bukan lagi persoalan memilih menu, tetapi persoalan apakah hari itu bisa makan atau tidak.
Mereka bahkan pernah makan sekali sehari.
Satu sisi kepala dipenuhi urusan kuliah. Sisi lain harus memikirkan bagaimana besok bisa bertahan hidup.
Begitulah kehidupan mahasiswa rantau yang tidak selalu muncul dalam foto-foto wisuda.
Wisuda biasanya hanya memperlihatkan toga dan senyum.
Jarang ada yang memotret bagian ketika mahasiswa harus menghitung uang receh untuk makan.
Safarudin mengalami bagian yang kedua.
Untuk bertahan hidup sekaligus membiayai kebutuhan kuliah, ia bekerja sebagai tukang parkir.
Ironisnya sederhana: kelak ia akan mengurus pemerintahan, tetapi pada masa mudanya ia justru belajar mengatur kendaraan orang lain.
Mobil masuk, motor keluar, kendaraan bergeser, uang parkir dihitung.
Sebuah “pelatihan manajemen” versi jalanan yang mungkin tidak pernah masuk kurikulum kampus.
Namun justru dari pekerjaan sederhana itulah ia belajar tentang kehidupan masyarakat dari jarak yang sangat dekat.
Dari Tukang Parkir ke Aktivis Mahasiswa
Kehidupan sebagai mahasiswa tidak membuat Safarudin berhenti bekerja. Sebaliknya, ia justru aktif dalam organisasi dan gerakan mahasiswa.
Ia pernah dipercaya menjadi Ketua Ikatan Mahasiswa Kepulauan Riau (Kepri) di Pekanbaru dan aktif dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Di organisasi, ia belajar sesuatu yang berbeda dari ruang kuliah.
Kalau di kelas ia belajar teori, di organisasi ia berhadapan dengan manusia. Mengelola organisasi akhirnya bisa membantunya bertahan hidup semasa menjadi mahasiswa. Bahkan dia bisa mengirim biaya adiknya kuliah.
Ada perbedaan pendapat. Ada perdebatan. Ada kepentingan. Ada idealisme. Ada pula kenyataan bahwa menyatukan banyak kepala sering kali jauh lebih sulit daripada menyusun kalimat dalam buku.
Pengalaman tersebut ikut membentuk karakter Safarudin.
Ia belajar berbicara, tetapi sekaligus belajar mendengar.
Belajar mempertahankan pendapat, tetapi juga belajar menerima perbedaan.
Dan yang tidak kalah penting, ia belajar bahwa perubahan tidak cukup hanya dengan keberanian.
Perubahan membutuhkan pengetahuan, organisasi, jaringan, dan kemampuan bekerja bersama.
Pulang ke Lingga, Membawa Pengalaman dari Rantau
Setelah menyelesaikan pendidikan, Safarudin memilih kembali ke Lingga.
Pilihan pulang itu menarik. Ia tak serta merta langsung menjadi ASN, jiwa aktivis masih bergelora, suara kritis terhadap pemerintah daerah tahun 2007 ia gaungkan. Hingga tak jarang kepala daerah saat itu gelisah, ia melancarkan aksi demo dan lainnya.











