KABUPATEN LINGGA – Pagi di Pulau Pongok, Desa Penaah, Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga, biasanya dimulai dengan langkah-langkah kecil anak sekolah yang berjalan hati-hati di atas papan kayu tua di tepi laut.
Air laut tampak tenang. Perahu-perahu nelayan terikat diam. Angin pesisir berembus pelan membawa aroma asin yang akrab bagi warga pulau.
Namun Senin pagi (18/5/2026), ketenangan itu mendadak berubah menjadi kepanikan.
Jeritan anak-anak memecah sunyi setelah pelabuhan kayu yang biasa mereka lintasi tiba-tiba ambruk saat digunakan menuju sekolah.
Tiga murid Sekolah Dasar (SD) Santo Carolus Boromeus Ujung Beting menjadi korban dalam insiden tersebut. Mereka adalah Meilisa, Ayel, dan Rita bocah-bocah yang pagi itu hanya ingin berangkat sekolah seperti biasa.
Tubuh kecil mereka terjatuh bersama papan-papan kayu lapuk yang selama ini menjadi penghubung utama warga menuju transportasi laut.
Ketiganya mengalami luka pada bagian kaki dan langsung dilarikan ke puskesmas setempat untuk mendapatkan perawatan medis.
Foto suasana desa yang beredar memperlihatkan bagaimana rapuhnya akses masyarakat di Pulau Pongok. Sebuah jembatan kayu sempit tampak berdiri seadanya di atas air laut dangkal, sebagian papan mulai miring dan patah, sementara tiang-tiang penyangga terlihat lapuk dimakan usia dan air asin.
Bagi warga Desa Penaah, pelabuhan itu bukan sekadar tempat bersandar perahu.
Dermaga kecil itu adalah jalur kehidupan. Anak-anak melewatinya untuk sekolah. Warga mengangkut kebutuhan pokok dari sana. Nelayan pulang membawa hasil laut melalui jalur yang sama.
Ironisnya, pelabuhan beton yang sebelumnya dibangun justru sudah lama rusak dan roboh tanpa perbaikan berarti.
Karena tak kunjung diperbaiki, warga akhirnya membangun sendiri pelabuhan kayu secara swadaya agar aktivitas tetap berjalan.
Namun kayu-kayu tua yang dipasang seadanya itu akhirnya menyerah juga pada waktu.
Dan seperti banyak cerita di daerah pesisir terpencil lainnya, yang menjadi korban pertama adalah anak-anak.
Robohnya pelabuhan ini memunculkan kemarahan warga terhadap Pemerintah Kabupaten Lingga. Mereka menilai pembangunan infrastruktur di daerah terpencil berjalan lambat dan tidak menyentuh kebutuhan paling dasar masyarakat.
Di saat fasilitas lain dianggap megah dibangun, akses utama warga di desa pesisir justru dibiarkan rapuh bertahun-tahun.
Kepala Desa Penaah, Mariana, awalnya menyebut tidak ada korban dalam kejadian tersebut.
“Alhamdulillah tak ada pak. Itu pelabuhan yang dibuat warga dari kayu, kalau yang beton sudah lama roboh. Kayunya dah lapok,” tulisnya.
Namun setelah mendapat informasi adanya korban anak-anak beserta dokumentasi kejadian, pihak desa mengaku akan kembali melakukan pengecekan.
Peristiwa di Pulau Pongok bukan sekadar kabar tentang dermaga roboh.
Ini adalah cerita tentang desa kecil di tepian negeri yang bertahan dengan kemampuan sendiri, ketika pembangunan belum sepenuhnya hadir.
Di sana, anak-anak tetap berangkat sekolah di atas papan kayu lapuk.
Dan kadang, harapan mereka harus bertaruh dengan keselamatan.(RK)***












