Catatan perjalanan dari Bunda Tanah Melayu
WawaiNEWS.ID – Hampir lima hari saya berada di Lingga pada awal Oktober 2026 ini. Ada satu pemandangan yang terus menemani perjalanan: kabut asap yang menyelimuti Bunda Tanah Melayu.
Puncak Gunung Daik yang bercabang tiga, ikon alam yang selama ini lekat dengan Lingga, tak sekalipun terlihat utuh. Pandangan tertutup kabut. Hamparan lahan perkebunan sawit yang saya kunjungi bersama kawan-kawan pun tampak terselubung asap.
Namun, di balik pemandangan itu, ada cerita lain yang ingin saya gali lebih jauh: bagaimana investasi perkebunan kelapa sawit dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat dan daerah.
Saya tak ingin hanya melihat lahan yang dibuka, bibit yang disiapkan, atau tanaman yang mulai tumbuh. Saya ingin mengetahui lebih jauh apa yang sedang direncanakan perusahaan, berapa besar skala pengembangannya, dan manfaat apa yang berpotensi dirasakan warga Lingga.
Karena itu, saya meminta akses untuk mewawancarai langsung pihak PT Citra Sugi Adytia (CSA), perusahaan yang saat ini masih dalam tahap pengembangan kegiatan perkebunan di Lingga.
Akses itu akhirnya terbuka. Saya bisa berkomunikasi dengan Bang Rauf, yang diperkenalkan sebagai Humas PT CSA.
Percakapan pun dimulai. Dari penjelasannya, saya mendapat gambaran mengenai skala rencana pengembangan perkebunan, kemitraan dengan masyarakat, hingga dampak ekonomi yang menurut perusahaan mulai terasa di sekitar wilayah operasionalnya.
Angkanya cukup besar. Dan dari situlah cerita tentang masa depan ekonomi Lingga menjadi semakin menarik.
Target 924 ribu pohon, kebun membentang dari Daik hingga Dabo
Rauf menjelaskan, PT CSA menargetkan pengembangan perkebunan di wilayah Daik Lingga seluas kurang lebih 5.600 hektare. Perusahaan juga merencanakan kebun plasma masyarakat sekitar 1.200 hektare.
Dengan asumsi penanaman 136 pohon sawit per hektare, total target penanaman di kawasan Daik mencapai sekitar 6.800 hektare atau setara dengan 924.000 pohon.
“Jadi total hektare antara Daik dan Dabo adalah 6.800 ditambah 8.000 hektare. Tanam per hektare 136 pokok sawit,” jelas Rauf.
Angka tersebut belum berhenti di Daik. Menurut Rauf, perusahaan juga menargetkan pembukaan lahan yang akan menjadi bagian dari pengembangan hak guna usaha (HGU) di wilayah Dabo Singkep seluas sekitar 8.000 hektare hingga akhir 2027. Pengembangan lebih lanjut masih dimungkinkan pada tahun-tahun berikutnya.
Jika seluruh target itu terealisasi, rencana pengembangan di Daik dan Dabo Singkep akan mencakup sekitar 14.800 hektare.
Tentu, angka tersebut merupakan target pengembangan perusahaan, bukan berarti seluruh lahan sudah dibuka atau ditanami. Namun, skalanya memberi gambaran tentang besarnya kegiatan ekonomi yang sedang dipersiapkan di Lingga.
Di balik setiap hektare perkebunan, ada kebutuhan tenaga kerja, pengangkutan, pemeliharaan tanaman, peralatan, dan berbagai layanan pendukung. Ketika kegiatan berkembang, peluang ekonomi pun berpotensi merambat ke sektor lain.
Inilah yang membuat investasi perkebunan menarik untuk dilihat bukan semata sebagai urusan perusahaan, melainkan juga sebagai peluang bagi tumbuhnya kegiatan ekonomi di daerah.
Dari kebun ke dapur warga: 600 tenaga kerja lokal
Bagi masyarakat, ukuran yang paling mudah dirasakan dari sebuah investasi tentu bukan angka hektare di atas peta. Ukurannya adalah apakah ada pekerjaan, penghasilan, dan kesempatan memperbaiki kehidupan keluarga.
Rauf menyebut, sejak perusahaan hadir, PT CSA telah menyerap hingga sekitar 600 tenaga kerja lokal.
Ia juga menyampaikan bahwa perputaran dana dari pembayaran gaji pekerja dan pekerjaan borongan mencapai sekitar Rp2,2 miliar per bulan.
Angka itu, menurut perusahaan, menggambarkan aktivitas ekonomi yang bergerak di sekitar kegiatan operasionalnya.
Bayangkan bagaimana penghasilan pekerja dapat mengalir kembali ke lingkungan tempat mereka tinggal. Uang belanja dibelanjakan di warung. Kebutuhan sehari-hari dibeli dari pedagang setempat. Jasa transportasi, makanan, dan usaha kecil berpeluang ikut merasakan perputaran tersebut.
Bagi keluarga pekerja, penghasilan rutin juga dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan anak, dan kebutuhan dasar lainnya.
Rauf turut menyoroti kesempatan kerja bagi warga yang membutuhkan penghasilan, termasuk perempuan dan janda yang harus menopang kebutuhan keluarganya.
Di titik ini, investasi mempunyai makna yang lebih dekat dengan kehidupan manusia. Bukan hanya soal nilai modal, tetapi juga tentang kesempatan seseorang memperoleh penghasilan melalui pekerjaannya.
Jika pengembangan kebun berlanjut sesuai rencana, kebutuhan tenaga kerja dan jasa pendukung berpotensi semakin luas. Peluang itu dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk meningkatkan keterampilan sekaligus membangun sumber penghidupan yang lebih beragam.
Jalan desa ikut menjadi bagian dari cerita
Dalam wawancara itu, Rauf juga menyebut sejumlah kegiatan perbaikan infrastruktur yang dilakukan perusahaan.
Di antaranya, perbaikan jalan penghubung Desa Teluk dan Desa Belungkur hingga Dusun Lengkuk di Desa Limbung. Perusahaan juga menyebut perbaikan akses jalan dari Desa Sungai Pinang menuju Pantai Mempanak.
Bagi warga yang tinggal di wilayah kepulauan dan perdesaan, jalan bukan sekadar bentangan aspal atau tanah yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain.
Jalan berarti akses menuju kebun, sekolah, pusat pelayanan, pasar, dan tempat bekerja. Akses yang lebih baik juga berpotensi memperlancar pergerakan barang serta membuka kesempatan bagi usaha warga untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Karena itu, pembangunan ekonomi akan lebih berarti ketika kehadiran investasi ikut mendorong kemudahan akses masyarakat.
Infrastruktur dan kegiatan usaha dapat saling menguatkan. Jalan yang lebih mudah dilalui membantu mobilitas, sementara kegiatan ekonomi yang tumbuh dapat menciptakan kebutuhan terhadap layanan dan usaha baru.
Bagi Lingga, peluang seperti ini penting agar manfaat pembangunan tidak hanya terkonsentrasi di satu kawasan, tetapi juga dapat menjangkau desa-desa di sekitarnya.
Plasma 20 persen, membuka ruang kemitraan masyarakat
Salah satu bagian penting dalam pengembangan perkebunan adalah kemitraan dengan masyarakat melalui kebun plasma.












