Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

RUPIAH BABAK BELUR! Tembus Rp17.926 per Dolar AS, Benarkah Menuju Level Rp20.000?

×

RUPIAH BABAK BELUR! Tembus Rp17.926 per Dolar AS, Benarkah Menuju Level Rp20.000?

Sebarkan artikel ini
foto ilustrasi

JAKARTA – Rupiah kembali tersungkur. Mata uang kebanggaan nasional itu pada Rabu (3/6/2026) tercatat melemah hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS), sebuah angka yang membuat pelaku pasar, investor, hingga masyarakat umum kembali mengernyitkan dahi.

Jika sebelumnya pelemahan rupiah masih dianggap “koreksi biasa”, kini situasinya mulai menyerupai alarm yang berbunyi semakin keras. Sebab, sejumlah pengamat bahkan mulai memproyeksikan kemungkinan rupiah terus tertekan hingga menyentuh level psikologis Rp20.000 per dolar AS dalam beberapa bulan mendatang.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Bagi masyarakat, angka-angka tersebut mungkin hanya terlihat sebagai deretan digit di layar monitor. Namun bagi dunia usaha, pasar modal, hingga sektor yang bergantung pada impor, setiap pelemahan rupiah berarti biaya yang semakin membengkak dan ketidakpastian yang semakin besar.

BACA JUGA :  Rupiah Tembus Rp17.700 per Dolar AS, Perry Warjiyo Didesak Mundur: “17-8-45 Jadi Ejekan Baru”

Tak berhenti di pasar valuta asing, guncangan rupiah juga menjalar ke pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut terkena imbas dan mengalami tekanan cukup dalam.

Pada perdagangan Rabu siang pukul 11.10 WIB, IHSG tercatat merosot 255,71 poin atau 4,13 persen ke level 5.939,71. Angka tersebut menjadi sinyal bahwa pelaku pasar sedang berada dalam mode waspada, bahkan cenderung defensif menghadapi ketidakpastian yang berkembang.

Dalam bahasa sederhana, ketika rupiah terus melemah, pasar saham ikut demam. Investor yang biasanya tenang mulai lebih selektif, sementara sebagian memilih menunggu perkembangan sebelum mengambil keputusan besar.

BACA JUGA :  7 Produk UMKM Holis Kota Bandung di Ekspor ke Australia

Kondisi ini memunculkan berbagai spekulasi di kalangan pelaku pasar. Salah satu yang paling banyak diperbincangkan adalah prediksi bahwa rupiah berpotensi menembus level Rp20.000 per dolar AS apabila tekanan eksternal dan sentimen pasar tidak segera mereda.

Meski demikian, proyeksi tersebut masih bersifat prediksi dan sangat bergantung pada berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi global, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, arus modal asing, stabilitas fiskal nasional, hingga respons otoritas moneter dalam menjaga kestabilan nilai tukar.

Yang jelas, pelemahan rupiah kali ini bukan lagi sekadar angka statistik yang lewat di layar perdagangan. Ketika dolar semakin perkasa dan rupiah terus tertekan, dampaknya berpotensi merembet ke berbagai sektor, mulai dari harga barang impor, biaya produksi industri, hingga daya beli masyarakat.

BACA JUGA :  UMSK 2025 di Jabar Ditetapkan, Ini Rinciannya

Kini perhatian pasar tertuju pada langkah pemerintah dan otoritas keuangan dalam meredam gejolak yang terjadi. Sebab jika pelemahan terus berlanjut, bukan hanya investor yang dibuat cemas, tetapi juga dunia usaha yang harus bersiap menghadapi biaya yang semakin mahal.

Sementara itu, masyarakat hanya bisa berharap grafik rupiah segera menemukan pijakan yang lebih stabil. Sebab dalam urusan kurs, yang paling menakutkan bukan sekadar angka yang naik, melainkan ketika ketidakpastian mulai ikut naik bersama angka tersebut..***