BANDUNG – Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani, mengingatkan bahwa momentum mudik Lebaran merupakan masa dengan mobilitas masyarakat yang sangat tinggi.
Dalam situasi seperti itu, penyakit yang mudah menular seperti campak memiliki peluang lebih besar untuk menyebar.
“Idulfitri merupakan momen pergerakan massa yang sangat besar dan banyak pertemuan antar keluarga. Karena itu masyarakat perlu mewaspadai penularan campak,” ujar Vini, Rabu (11/3/2026).
Campak sendiri termasuk penyakit yang sangat menular. Virusnya dapat menyebar melalui:
- percikan batuk atau bersin penderita
- kontak langsung dengan orang yang terinfeksi
- menyentuh benda yang telah terkontaminasi virus
Bahkan dalam kondisi tertentu, satu penderita campak bisa menularkan virus kepada 12 hingga 18 orang lainnya.
Dengan kata lain, jika satu orang membawa “oleh-oleh virus” saat mudik, potensi penyebarannya bisa lebih cepat daripada cerita keluarga di meja makan Lebaran.
Untuk mencegah lonjakan kasus lebih luas, Dinas Kesehatan Jawa Barat mengimbau masyarakat agar memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi campak lengkap hingga dosis kedua sebelum melakukan perjalanan mudik.
Kelompok yang menjadi prioritas imunisasi adalah anak usia 9 hingga 59 bulan.
Saat ini pemerintah daerah juga tengah menjalankan program Catch Up Campaign (CUC) atau imunisasi kejar serempak, yang menyasar anak-anak yang belum menerima imunisasi lengkap.
Masyarakat dapat mengakses layanan imunisasi di berbagai fasilitas, antara lain:
- Posyandu
- Puskesmas
- PAUD dan TK
- Tempat ibadah seperti masjid atau gereja
- Pos pelayanan mudik
Selain imunisasi, masyarakat juga diminta menerapkan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) untuk mencegah penyebaran campak.
Langkah sederhana namun efektif antara lain:
- rajin mencuci tangan dengan sabun
- menggunakan masker saat sakit
- menjaga kebersihan lingkungan
Jika muncul gejala campak seperti demam disertai ruam pada kulit, masyarakat diimbau segera melakukan isolasi mandiri dan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.***











