Scroll untuk baca artikel
AgamaInfo Wawai

Bahaya Riya yang Diam-Diam Menghancurkan Amal: 4 Nasihat Emas Imam Al-Ghazali agar Ibadah Diterima Allah

×

Bahaya Riya yang Diam-Diam Menghancurkan Amal: 4 Nasihat Emas Imam Al-Ghazali agar Ibadah Diterima Allah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi
Ilustrasi

WawaiNEWS.ID – Dalam perjalanan ruhani seorang mukmin, ada penyakit hati yang sangat halus, nyaris tak terlihat, namun daya rusaknya amat besar. Penyakit itu bernama riya yakni melakukan ibadah, kebaikan, atau amal saleh bukan semata karena Allah, tetapi agar dilihat, dipuji, atau dihargai manusia.

Riya sering datang dengan wajah yang tampak indah. Ia menyelinap dalam salat yang panjang, sedekah yang diumumkan, tangisan yang dipertontonkan, bahkan nasihat yang disampaikan demi popularitas. Dari luar terlihat saleh, namun di dalam hati tersimpan keinginan selain Allah.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Karena itulah para ulama sejak dahulu sangat keras mengingatkan umat Islam agar waspada terhadap riya. Sebab amal yang tercampur riya bukan hanya berkurang nilainya, tetapi bisa gugur sama sekali di sisi Allah.

Di antara ulama besar yang membahas penyakit ini secara mendalam adalah Imam Al-Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin. Beliau menjelaskan beberapa renungan penting agar seorang hamba mampu membersihkan niat dan selamat dari jebakan riya.

Riya: Dosa yang Sulit Dikenali

Riya bukan dosa yang tampak seperti mencuri atau berbohong. Ia bekerja di dalam hati. Kadang seseorang sendiri tidak sadar bahwa niatnya telah bergeser.

Awalnya ingin beribadah karena Allah. Namun saat ada manusia melihat, hati mulai senang. Saat dipuji, jiwa menjadi berbunga. Saat tak diperhatikan, amal menjadi malas.

BACA JUGA :  Musim Haji Tahun Ini Jemaah Indonesia Ditempatkan di Muaishim

Inilah sebabnya riya disebut penyakit batin yang sangat berbahaya.

Rasulullah ﷺ bahkan mengingatkan bahwa yang paling beliau khawatirkan atas umatnya adalah syirik kecil, yaitu riya.

1. Sadari Diri Ini Lemah dan Penuh Kekurangan

Imam Al-Ghazali mengajarkan, obat pertama riya adalah mengenali siapa diri kita sebenarnya.

Manusia hanyalah makhluk lemah. Hidup bergantung pada napas yang Allah berikan. Sehat pun bukan kuasa sendiri. Ilmu, harta, kedudukan, wajah, suara, bahkan kesempatan beribadah pun semuanya pemberian Allah.

Kalau begitu, apa yang pantas dibanggakan?

Mengapa amal yang Allah beri kemampuan untuk melakukannya justru dipersembahkan demi pujian manusia?

Allah berfirman dalam Surah At-Thalaq ayat 12 bahwa Dia menciptakan langit dan bumi agar manusia mengetahui betapa Mahakuasa-Nya Allah dan betapa luas ilmu-Nya.

Jika langit dan bumi saja tunduk kepada Allah, mengapa hati manusia justru tunduk pada pujian sesama makhluk?

Semakin seseorang mengenal kelemahan dirinya, semakin kecil keinginannya dipuji manusia.

2. Ingat Besarnya Kerugian Amal yang Rusak karena Riya

Al-Ghazali mengingatkan bahwa pahala dari Allah jauh lebih besar daripada segala pujian manusia.

Namun ketika amal dicampuri riya, seseorang seperti menukar emas dengan debu.

Beliau mengibaratkan orang riya seperti orang yang memiliki perhiasan mahal, lalu ada raja yang siap membelinya dengan harga sangat tinggi. Tetapi ia justru menjualnya kepada orang lain dengan harga seribu rupiah.

Betapa ruginya.

Demikian pula orang yang beramal demi manusia. Ia meninggalkan ganjaran akhirat yang abadi demi pujian sesaat yang cepat hilang.

BACA JUGA :  Pamer Ibadah di Media Sosial? Ini 5 Ayat Al-Qur’an yang Mengingatkan Bahaya Riya

Imam Al-Ghazali berkata:

“Apabila engkau mengikhlaskan niat dan mengarahkan tekadmu untuk akhirat, maka engkau akan memperoleh akhirat sekaligus dunia.”

Sebaliknya, orang yang hanya mengejar dunia melalui amalnya, bisa jadi kehilangan keduanya: dunia tak seberapa didapat, akhirat pun lenyap.

3. Pujian Manusia Tidak Selalu Bernilai

Banyak orang terjebak riya karena terlalu berharap penilaian manusia.

Padahal manusia mudah berubah.

Hari ini memuji, besok mencela. Hari ini kagum, esok lupa. Hari ini menyanjung, lusa membicarakan keburukan kita.

Bahkan bisa jadi orang yang kita incar pujiannya sebenarnya tidak peduli, tidak suka, atau justru merasa risih.

Betapa aneh jika seseorang meninggalkan pandangan Allah demi mengejar perhatian makhluk yang hatinya sendiri tidak tetap.

Karena itu, ketika beribadah, arahkan hati hanya kepada Allah. Jangan menjadikan manusia sebagai tujuan.

Sebab penilaian manusia berubah-ubah, sedangkan penilaian Allah Maha Adil dan abadi.

4. Pilih Rida Allah, Bukan Tepuk Tangan Manusia

Inilah nasihat puncak dari Imam Al-Ghazali.

Rida Allah harus menjadi prioritas utama. Karena rida Allah adalah kemuliaan tertinggi, keselamatan dunia dan akhirat.

Beliau menganalogikan bahwa rida Allah seperti rida seorang raja agung, sedangkan rida manusia hanyalah seperti rida budak yang hina.

Mengapa meninggalkan rida Sang Raja demi mengejar kerelaan makhluk yang lemah?

Ketika seseorang ikhlas karena Allah, ia mungkin tak dikenal di bumi, tetapi namanya harum di langit.

BACA JUGA :  Jemaah Haji Indonesia Diingatkan Tak Bawa Jimat, Ketahuan Hukumnya Berat

Sebaliknya, orang yang mencari popularitas lewat amal, mungkin terkenal di dunia, tetapi miskin di akhirat.

Tanda-Tanda Riya yang Perlu Diwaspadai

Agar lebih berhati-hati, berikut beberapa tanda riya yang sering muncul:

  • Semangat ibadah saat dilihat orang, malas saat sendirian
  • Sedih jika amal tidak dipuji
  • Senang jika dipandang saleh
  • Kecewa jika orang lain tidak mengakui kebaikannya
  • Sengaja menampilkan amal agar dianggap alim atau dermawan

Jika gejala ini muncul, segera perbaiki niat.

Cara Menjaga Keikhlasan

Beberapa amalan sederhana untuk menjaga hati:

  • Perbanyak ibadah rahasia yang tidak diketahui siapa pun
  • Sering berdoa meminta hati yang ikhlas
  • Ingat kematian dan kehidupan akhirat
  • Kurangi haus pujian manusia
  • Muhasabah setiap selesai beramal: “Untuk siapa ini kulakukan?”

Penutup: Amal Sedikit Tapi Ikhlas Lebih Mulia

Allah tidak melihat besarnya amal semata, tetapi melihat hati dan niat pelakunya.

Boleh jadi dua rakaat salat orang ikhlas lebih berat timbangannya daripada ribuan amal yang dipenuhi riya.

Boleh jadi sedekah kecil yang tersembunyi lebih mulia daripada sumbangan besar yang dipamerkan.

Karena itu, jagalah hati saat beribadah. Bersihkan niat sebelum, saat, dan sesudah beramal.

Jangan biarkan amal bertahun-tahun runtuh hanya karena ingin dipuji beberapa detik.

Semoga Allah membersihkan hati kita dari riya, memberi keikhlasan dalam ibadah, dan menerima setiap amal saleh kita. Aamiin.***