KOTA BEKASI — Kawasan Jalan Ahmad Yani yang biasanya dipenuhi pelari dan pesepeda saat Car Free Day (CFD), Minggu pagi berubah total menjadi panggung budaya raksasa. Dalam peringatan Hari Tari Sedunia, ribuan penari dari berbagai komunitas tampil dalam pertunjukan kolosal yang menyita perhatian publik.
Alih-alih sekadar olahraga ringan, warga yang datang justru disuguhi “maraton budaya” di mana langkah kaki bukan untuk jogging, tapi mengikuti irama tari.
Sorotan utama tertuju pada pertunjukan ronggeng nyentrik, seni tari khas Bekasi yang tampil enerjik, ekspresif, dan penuh karakter. Gerakannya yang dinamis sukses membuat warga berhenti dari aktivitasnya bahkan yang awalnya niat lari pagi pun mendadak jadi penonton setia.
Dalam skala kolosal, tarian ini bukan hanya hiburan, tetapi juga pernyataan identitas:
bahwa di tengah kota penyangga ibu kota, budaya lokal masih punya ruang untuk tampil dan bahkan “menguasai jalan”.
Transformasi Car Free Day menjadi panggung tari menunjukkan bagaimana ruang publik dapat berfungsi lebih dari sekadar fasilitas rekreasi. Ia menjadi arena interaksi sosial sekaligus medium ekspresi budaya yang inklusif.
Warga yang awalnya datang untuk berolahraga perlahan beralih menjadi penonton, bahkan ikut terlibat dalam gerakan sederhana. Batas antara pelaku dan penikmat seni menjadi cair sebuah fenomena yang jarang terjadi dalam pertunjukan formal.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menyebut bahwa tari bukan hanya seni pertunjukan, melainkan bagian dari ekspresi intelektual yang merekam perjalanan budaya masyarakat.
“Tari adalah identitas, nilai, dan sejarah yang hidup dalam gerak,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada dokumentasi, tetapi juga pada praktik yang terus dilakukan dan diwariskan.
Kehadiran generasi muda dalam pertunjukan ini menjadi sinyal penting. Di tengah arus globalisasi dan budaya populer, keterlibatan mereka menunjukkan bahwa tradisi masih memiliki relevansi.
Namun tantangannya tetap ada: bagaimana menjaga agar budaya tidak berhenti sebagai perayaan sesaat, melainkan terus hidup dalam keseharian.
Perayaan Hari Tari Sedunia di Bekasi menghadirkan gambaran tentang kota yang tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga berupaya merawat identitas kulturalnya.
Di tengah jalan raya yang biasanya dipenuhi kendaraan, ribuan orang bergerak dalam satu ritme menghidupkan ruang, menghubungkan generasi, dan merawat ingatan kolektif.
Sebuah pengingat bahwa di balik dinamika kota modern, budaya tetap menjadi denyut yang memberi makna.***











