KOTA BEKASI – Perayaan Hari Raya Nyepi di Kota Bekasi bukan sekadar ritual tahunan, ini panggung harmoni yang terasa nyata. Bertempat di Pura Agung Tirta Buana, suasana khidmat berpadu dengan hangatnya kebersamaan, seolah kota ini sedang memberi “tutorial” tentang toleransi.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, hadir langsung membuka pawai ogoh-ogoh. Parade ini bukan hanya memikat secara visual, tetapi juga sarat makna. Ogoh-ogoh diarak bukan sekadar dipamerkan, melainkan menjadi simbol untuk “membersihkan” diri membuang sifat iri, dengki, hingga sikap negatif yang kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam tradisi Bhuta Yajna, ogoh-ogoh melambangkan energi negatif dalam diri manusia. Secara sederhana, ini menjadi pengingat bahwa musuh terbesar bukanlah orang lain, melainkan ego diri sendiri.
Dalam sambutannya, Tri Adhianto menegaskan bahwa Bekasi bukan hanya kota penyangga ibu kota, tetapi juga penyangga nilai-nilai kebersamaan dan akal sehat di tengah keberagaman.
“Perbedaan bukan bahan bakar konflik, melainkan fondasi untuk saling menghormati,” ujarnya.
Menariknya, perayaan Nyepi tahun ini beririsan dengan Ramadan. Alih-alih menjadi potensi gesekan, kedua momentum ini justru menghadirkan harmoni: Nyepi mengajarkan keheningan, sementara Ramadan mengajarkan pengendalian diri. Keduanya sama-sama mengajak manusia untuk sejenak “berhenti” dari hiruk pikuk dunia.
Sebelumnya, perayaan Cap Go Meh juga berlangsung meriah. Dari lampion, ogoh-ogoh, hingga bedug Ramadan, Bekasi menunjukkan bahwa keberagaman bukan sekadar slogan, melainkan realitas yang hidup di tengah masyarakat.
Di saat perbedaan kerap menjadi sumber perdebatan di banyak tempat, Bekasi justru menjadikannya sebagai kekuatan untuk mempererat persaudaraan. Masyarakatnya memahami bahwa menghormati perbedaan bukan berarti kehilangan identitas, melainkan memperkaya kehidupan bersama.
Momentum ini menjadi pengingat bahwa harmoni sosial tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari kedewasaan dalam menyikapi perbedaan. Dan Bekasi, setidaknya dalam momen ini, berhasil membuktikan bahwa kedamaian bukanlah utopia, melainkan pilihan yang bisa dirawat bersama.
Singkatnya, di tengah dunia yang sering bising oleh perbedaan, Bekasi memilih untuk hening dengan elegan dan justru di sanalah suaranya paling terdengar. ***













