TANGGAMUS – Di tengah gegap gempita perayaan HUT ke-29 Kabupaten Tanggamus, panggung-panggung penuh tepuk tangan berdiri tegak. Penghargaan dibagikan, capaian dipamerkan, dan jargon “jalan lurus” dikumandangkan seolah semua sudah berada di jalur ideal.
Sayangnya, di Air Naningan, ada jalur yang tidak lurus bahkan nyaris tidak layak disebut jalur. Lokasinya di Dusun 5 Sangarus, Pekon Sinar Jawa, berdiri jembatan gantung yang kondisinya lebih cocok disebut “eksperimen keberanian” daripada fasilitas umum. Panjangnya sekitar 15 meter, lebarnya 1,5 meter cukup untuk satu orang lewat, sambil berharap papan di bawah kaki tidak ikut “pamit”.
Kayu-kayunya lapuk. Susunannya longgar. Setiap pijakan berbunyi seperti memberi peringatan: “Yakin masih mau lanjut?”
Kalau ini dijadikan wahana wisata, mungkin sudah viral. Masalahnya, ini bukan wisata ini jalan sekolah.
Pada Kamis (23/4), Kevin Ferlando, siswa kelas 3 SD Negeri 1 Datar Lebuay, menjadi korban terbaru. Ia terjatuh saat melintasi jembatan tersebut.
Berita baiknya, ia selamat. Berita buruknya keselamatan anak-anak di sini masih bergantung pada kata “beruntung”.
Kevin hanya mengalami bengkak. Tapi pertanyaannya sederhana, harus berapa anak lagi yang “hampir celaka” sebelum ini dianggap darurat?
Jembatan ini melintang di atas Sungai Sangarus, arus deras, kedalaman tak ramah anak. Tidak ada pagar pengaman yang layak. Tidak ada alternatif jalur.
Sekitar 15 siswa melintasi ini setiap hari. Tanpa helm. Tanpa pengaman. Tanpa pilihan.
Kalau ini disebut akses pendidikan, rasanya definisinya perlu direvisi.
Bukan hanya anak sekolah, warga juga bergantung pada jembatan ini untuk aktivitas pertanian, menghubungkan Pekon Sinar Jawa dengan Dusun Limbangan Baru di Pekon Datar Lebuay, jalur ini bukan fasilitas tambahan. Ini urat nadi.
Tapi seperti banyak urat nadi di pedesaan, ia hanya diperhatikan saat hampir putus.
“Jalan Lurus” yang Belok dari Realita
Tagline “jalan lurus” terdengar rapi di atas kertas. Tapi di lapangan, warga justru berjalan di atas papan rapuh yang bergoyang setiap detik.
Kontrasnya terlalu nyata untuk diabaikan:
- Di pusat kota: seremoni dan statistik
- Di desa: risiko dan improvisasi
Kalau pembangunan adalah cerita sukses, maka jembatan ini adalah catatan kaki yang sengaja tidak dibaca.
Warga tidak meminta jembatan emas. Mereka hanya ingin jembatan yang tidak terasa seperti undangan celaka.
Karena kalau harus menunggu korban serius dulu baru diperbaiki, berarti yang dibangun bukan infrastruktur tapi kebiasaan menunda.
Dan di tempat ini, setiap langkah kecil anak-anak menuju sekolah sudah cukup berani. Mereka tidak perlu ditambah ujian dari negara.***











