LAMPUNG TIMUR — Penutupan Festival UMKM dan Pasar 1001 Malam dalam rangka HUT ke-27 Kabupaten Lampung Timur berubah jadi ledakan ekonomi sekaligus hiburan massal. Ribuan warga memadati Lapangan Merdeka sejak sore hingga malam, menciptakan pemandangan yang lebih mirip konser besar ketimbang sekadar pasar malam.
Kalau biasanya orang datang ke festival untuk jalan-jalan santai, di sini ceritanya beda, datang ramai-ramai, pulang dengan kantong belanja penuh dan suara serak karena ikut nyanyi.
Di balik gemerlap lampu dan panggung hiburan, kekuatan utama festival ini justru ada pada sektor UMKM. Sekitar 1.500 pelaku usaha ambil bagian, dengan total perputaran ekonomi menembus Rp10,5 miliar hanya dalam 10 hari.
Tampak hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela, anggota DPR RI Chusnunia Chalim, Bupati Kabupaten Lampung Timur Ela Siti Nuryamah, serta jajaran Forkopimda Kabupaten Lampung Timur.
Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, menyampaikan bahwa capaian tersebut menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat sekaligus potensi besar sektor UMKM dalam mendukung perekonomian daerah.
“Festival ini bukan hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk berkembang dan meningkatkan pendapatan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehadiran pasar tematik seperti Pasar 1001 Malam menjadi strategi untuk menarik kunjungan masyarakat sekaligus mendorong transaksi ekonomi secara langsung.
Selain itu, penyelenggaraan acara yang berlangsung selama beberapa hari dinilai mampu menciptakan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan, tidak hanya terpusat pada satu waktu.
Antusiasme masyarakat terlihat dari tingginya jumlah pengunjung hingga penutupan acara. Warga tampak memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berbelanja sekaligus menikmati hiburan bersama keluarga.
Pemerintah daerah berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya penguatan ekonomi kerakyatan, khususnya melalui pemberdayaan UMKM di Kabupaten Lampung Timur.
Lampung Timur menunjukkan bahwa membangun ekonomi tidak selalu harus rumit kadang cukup dibuat ramai, meriah, dan dekat dengan masyarakat.***













