Scroll untuk baca artikel
Lintas Daerah

Kemarau 2026 “Ngeri-ngeri Sedap”! 93 Persen Wilayah Jabar Diprediksi Lebih Kering, Air Bisa Jadi Barang Mewah

×

Kemarau 2026 “Ngeri-ngeri Sedap”! 93 Persen Wilayah Jabar Diprediksi Lebih Kering, Air Bisa Jadi Barang Mewah

Sebarkan artikel ini
Kondisi kekeringan di wilayah utara Bekasi Kabupaten dan limbah busa- foto kolase doc

KOTA BANDUNG – Warga Jawa Barat tampaknya harus mulai bersahabat dengan panas dan… mungkin sedikit drama soal air. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 bakal terasa “lebih kejam” dibanding biasanya lebih kering, lebih panjang, dan berpotensi bikin banyak orang berkata: “Air kok rasanya mahal, ya?”

Prakirawan BMKG Jawa Barat, Vivi Indhira, mengungkapkan bahwa sekitar 93 persen wilayah di Jabar akan mengalami curah hujan di bawah normal. Dengan kata lain, hujan bakal makin pelit turun, sementara matahari makin rajin lembur.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Wilayah yang bakal ikut “dipanggang” kemarau ini mencakup Kota Bandung, Kota Tasikmalaya, Cianjur, Sukabumi, hingga Cirebon dan Kuningan. Sisanya? Hanya sekitar 7 persen wilayah yang masih “beruntung” dengan kondisi hujan normal.

Tak cuma kering, durasi kemarau juga diprediksi lebih panjang di 81 persen wilayah. Artinya, bukan cuma panas lewat tapi tinggal cukup lama. Beberapa daerah seperti Karawang dan Indramayu diprediksi merasakan kemarau yang terasa seperti “extended version”.

Menariknya, Kota Bogor tetap konsisten dengan reputasinya, hujan bisa datang hampir sepanjang tahun. Jadi kalau Jabar adalah drama panas, Bogor tetap jadi “plot twist basah”.

BACA JUGA :  Pj Gubernur Jabar Sebut Koordinasi Antar Stakeholders Jadi Kunci Utama Pemilu 2024 Berlangsung Damai

BMKG memetakan awal kemarau secara bertahap:

  • Mei 2026: sekitar 56% wilayah mulai kering (termasuk Sumedang, Kuningan, Tasikmalaya)
  • Juni 2026: sekitar 30% wilayah menyusul, termasuk Bandung dan Cimahi

Sisanya sudah mulai lebih awal sejak April bahkan Maret

Puncaknya? Siap-siap di Agustus 2026, saat 90 persen wilayah Jabar benar-benar masuk fase kemarau puncak.

Kemarau panjang bukan cuma soal gerah dan kipas angin kerja rodi. Ada risiko nyata:

  • Krisis air bersih
  • Gagal panen
  • Kebakaran hutan dan lahan
  • Gangguan energi (PLTA kekurangan air)
  • Peningkatan penyakit ISPA akibat udara kering dan asap

BMKG memberi sejumlah “jurus bertahan hidup” menghadapi kemarau ini:

BACA JUGA :  Innova Pemda Bekasi Ringsek di Cipularang, Hujan Deras Jadi Saksi
  • Hemat air mulai sekarang (bukan nanti kalau sumur sudah seret)
  • Maksimalkan waduk, embung, dan tampungan air
  • Petani disarankan ubah pola tanam dan pilih tanaman tahan kering
  • Siapkan distribusi air bersih dan sumur bor darurat
  • Waspada kebakaran dan jaga kesehatan

Singkatnya, kemarau 2026 bukan sekadar musim tapi ujian. Jadi sebelum air benar-benar jadi rebutan, mungkin ini saatnya kita mulai bijak, mandi secukupnya, bukan “konser shower”.

Karena kalau prediksi ini tepat… yang dingin nanti bukan cuaca, tapi isi galon di rumah.