SUMEDANG — Kalau biasanya mahkota identik dengan diam manis di etalase, kali ini beda nasib. Mahkota Binokasih justru “turun gunung” dan memulai tur keliling Jawa Barat lewat Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran lengkap dengan nuansa sakral, sejarah, dan sedikit sentuhan gaya “roadshow budaya”.
Start dari Museum Geusan Ulun, mahkota legendaris itu resmi “naik kelas” bukan lagi diangkut pakai Jeep seperti tahun-tahun sebelumnya, tapi kini duduk anggun di kereta kencana. Lebih estetik, lebih berkelas, dan tentu saja lebih Instagramable.
Prosesi penyerahan berlangsung khidmat (dan pastinya penuh kamera). Hadir langsung sang Raja Sumedang, H.R.I Lukman Soeriadisoeria, bersama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM yang tampak serius, tapi jelas punya misi bikin budaya Sunda makin “naik panggung”.
“Sekarang mahkota kita arak secara budaya, bukan lagi naik Jeep. Ini bukan sekadar pawai, tapi perjalanan nilai leluhur,” ujar KDM yang sepertinya ingin memastikan bahwa sejarah tidak kalah pamor dari konvoi otomotif.
Tak tanggung-tanggung, rutenya pun bak tur konser dari Sumedang lanjut ke Kawali (Kabupaten Ciamis), mampir ke Kampung Naga (Kabupaten Tasikmalaya), lalu lanjut ke Cianjur, Bogor, Karawang, hingga Depok dan Kabupaten Cirebon. Bisa dibilang, ini “world tour”-nya versi Tatar Sunda.
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, tak kalah semangat. Ia menyebut acara ini bukan sekadar seremoni, tapi “kompas sejarah”. Meski bagi sebagian warga, ini juga jadi tontonan langka: mahkota jalan-jalan, bukan cuma jadi pajangan.
Puncaknya? Akan digelar megah di Kota Bandung, tepatnya di Gedung Sate, pada 16–17 Mei 2026. Akan ada kirab seni se-Jawa Barat hingga pertunjukan kolosal “Peuting Munggaran Milangkala Tatar Sunda” yang kemungkinan besar bakal jadi ajang unjuk gigi budaya sekaligus parade kebanggaan daerah.
Kalau dulu mahkota identik dengan kekuasaan, sekarang ia juga jadi “influencer budaya”. Dari museum ke jalanan, dari diam ke berkeliling Binokasih membuktikan bahwa sejarah pun bisa tampil gaya, asal dikemas dengan sentuhan tradisi dan sedikit drama kirab. ***












