Scroll untuk baca artikel
Budaya

Dari Keraton ke Jalanan: Dedi Sulap Sejarah Sunda Jadi Karnaval Keliling Jawa Barat

×

Dari Keraton ke Jalanan: Dedi Sulap Sejarah Sunda Jadi Karnaval Keliling Jawa Barat

Sebarkan artikel ini
Mahkota Binokasih kembali dikirab di Kabupaten Bogor. Kirab dimulai dari Desa Cibeureum, Cisarua menuju Pura Agung Parahyangan Jagatkarta, Tamansari, pada 21-22 April 2026.- foto doc Jabarprov

BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyiapkan gebrakan budaya berskala besar lewat Karnaval Binokasih, agenda lintas daerah yang akan bergerak dari satu kota ke kota lain mulai awal Mei 2026.

Program ini merupakan pengembangan tradisi Keraton Sumedang yang kini diangkat menjadi agenda resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Jika sebelumnya hanya dikenal di lingkungan tertentu, kini warisan budaya tersebut akan dibawa ke ruang publik dengan konsep karnaval keliling.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Kalau Karnaval Binokasih, kita mulai tanggal 2 Mei di Sumedang. Tradisi dari Keraton Sumedang itu sekarang diintegrasikan dengan Pemprov supaya gaungnya lebih besar,” kata Dedi di Bandung, Selasa (28/4/2026).

Berbeda dari parade biasa, Karnaval Binokasih dirancang membawa narasi sejarah panjang tanah Sunda. Rombongan akan bergerak melintasi sejumlah wilayah penting yang memiliki jejak budaya dan peradaban masa lalu.

BACA JUGA :  Terap Festival Bertema Kebencanaan jadi Sarana Edukasi bagi Warga Jabar

Rute dimulai pada 2 Mei di Sumedang, lalu berlanjut pada 3 Mei ke Kawali yang dikenal sebagai pusat Kerajaan Sunda Kawali.

Setelah itu, perjalanan diteruskan ke Kampung Naga, kawasan adat yang selama ini menjadi ikon budaya Sunda.

Dari Tasikmalaya, rombongan bergerak ke Cianjur dengan titik akhir di kawasan gedung keresidenan yang memiliki nilai sejarah sebagai pusat Priangan di masa lampau.

Perjalanan kemudian menuju Bogor melalui jalur Batutulis hingga Kebun Raya Bogor.

Setelah jeda sehari, karnaval akan menyatu dengan peringatan Hari Jadi Depok, menonjolkan kawasan heritage peninggalan Belanda.

Rute berikutnya menuju Karawang dengan tujuan Pesantren Syekh Quro, sebelum ditutup di Cirebon dari Bale Jayadewata menuju kawasan Keraton Kasepuhan Cirebon.

BACA JUGA :  Riksa Budaya, Pelestarian Tiga Kekuatan Identitas di Jabar

Dedi menegaskan kegiatan ini bukan sekadar seremoni penuh kostum dan iring-iringan. Menurutnya, Karnaval Binokasih menjadi sarana mengingatkan masyarakat terhadap akar sejarah Sunda.

“Maknanya satu, mengingatkan tentang sejarah Sunda, dari Kawali sampai terbentuknya Kasultanan Cirebon,” ujarnya.

Artinya, masyarakat tidak hanya diajak menonton pawai, tetapi juga membaca ulang perjalanan panjang identitas budaya Jawa Barat.

Selain misi sejarah, agenda ini juga membawa pesan penataan wilayah. Daerah yang dilintasi karnaval diminta menyiapkan lingkungan yang bersih dan tertata.

“Daerah yang terlewati harus bersih. Setelah itu pasti ada program pembangunannya,” kata Dedi.

Pernyataan itu memberi sinyal bahwa karnaval ini juga menjadi pintu masuk pembenahan kawasan, dari jalan, trotoar, ruang publik, hingga situs budaya.

BACA JUGA :  Kebudayaan Jadi Kekuatan Pariwisata Jabar

Sejumlah lokasi yang masuk rute karnaval disebut akan mendapat perhatian pembangunan. Mulai dari renovasi Keraton Sumedang, penataan Kawali, peningkatan fasilitas wisata Kampung Naga, hingga penguatan situs sejarah di Cianjur, Depok, Karawang, dan Cirebon.

Dengan kata lain, sejarah tak lagi hanya disimpan di buku pelajaran, tetapi juga dipoles agar hidup kembali di tengah masyarakat.

Dedi memastikan Karnaval Binokasih tidak berhenti sebagai acara sesaat. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan agenda ini menjadi kalender budaya tahunan.

“Event rutin tahunan,” pungkasnya.

Jika konsisten dijalankan, Jawa Barat tampaknya sedang menyiapkan model baru promosi daerah: ketika sejarah tidak berdebu di museum, tetapi turun ke jalan dan disambut warga.***