Scroll untuk baca artikel
Internasional

Kondisi Netanyahu Picu Kilas Balik Tragis: Dari Kanker Prostat hingga Kisah Koma Panjang Ariel Sharon

×

Kondisi Netanyahu Picu Kilas Balik Tragis: Dari Kanker Prostat hingga Kisah Koma Panjang Ariel Sharon

Sebarkan artikel ini
Perdana Israel Menteri Benjamin Netanyahu

WawaiNEWS.ID – Kabar mengejutkan datang dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang mengumumkan dirinya tengah menjalani pengobatan akibat kanker prostat stadium awal.

Penyakit ini disebut telah diidapnya selama beberapa bulan terakhir, memicu perhatian publik terhadap kondisi kesehatan pemimpin negara tersebut.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Benjamin Netanyahu mengungkap baru-baru ini menjalani perawatan kanker prostat secara diam-diam. Informasi tersebut baru disampaikan ke publik pada Jumat (24/4/2026), bersamaan dengan rilis laporan kesehatan tahunannya.

Pria 76 tahun itu sengaja menunda pengumuman kesehatannya karena khawatir informasi tersebut akan dimanfaatkan Iran sebagai propaganda terhadap Israel di tengah konflik yang terjadi.

Dalam unggahan di media sosial X miliknya, Netanyahu tidak merinci kapan tepatnya ia menjalani terapi. Tetapi, ia memastikan bahwa kondisinya kini telah membaik.

“Syukur kepada Tuhan, saya juga mengalahkan ini,” tulis Netanyahu di platform X

“Saya ingin berbagi tiga hal dengan Anda.

  1. Terima kasih Tuhan, saya sehat.
  2. Saya dalam kondisi fisik yang sangat baik.
  3. Saya mengalami masalah medis kecil dengan prostat saya yang telah sepenuhnya diobati.
BACA JUGA :  Seratusan Jiwa Warga Sipil Jadi Korban Bombardir Zionis Israel di Rafah

Situasi yang dialami Netanyahu seolah membuka kembali ingatan dunia pada peristiwa dramatis dua dekade silam, ketika mantan Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon, mengalami kondisi medis yang jauh lebih parah di tengah masa jabatannya.

Pada tahun 2005, Sharon yang dikenal sebagai sosok militer tangguh terserang stroke berat yang mengakhiri karier politiknya secara mendadak. Sejak saat itu, ia tidak pernah benar-benar pulih.

Selama bertahun-tahun, Sharon berada dalam kondisi koma, bergantung pada alat bantu medis untuk bertahan hidup.

Laporan dari The Independent menggambarkan kondisi Sharon yang memilukan: ia hanya bisa terbaring tanpa respons berarti terhadap lingkungan sekitar, makan dan minum melalui selang, dengan mata terbuka namun tanpa kesadaran penuh.

Dunia menyaksikan transformasi drastis dari seorang pemimpin kuat menjadi sosok yang tak berdaya.

Akhirnya, pada 11 Januari 2014, Ariel Sharon meninggal dunia di usia 85 tahun, menutup babak panjang penderitaan akibat stroke yang dialaminya.

BACA JUGA :  Iran Tolak Mediasi Dunia, Dubes di Jakarta Tegas: Tidak Ada Negosiasi dengan AS

Sebelum jatuh sakit, Sharon merupakan figur militer sekaligus politikus yang sangat berpengaruh—dan kontroversial. Dalam buku Warrior, The Autobiography of Ariel Sharon (2001), diceritakan bagaimana sejak muda ia telah aktif dalam gerakan Zionisme dan terlibat dalam berbagai konflik bersenjata.

Kepercayaan besar diberikan oleh pendiri Israel, David Ben-Gurion, yang menunjuk Sharon sebagai komandan militer di usia relatif muda.

Karier militernya melejit sejak Perang Arab-Israel 1948, dan terus berlanjut dalam berbagai konflik besar seperti Krisis Suez 1956, Perang Enam Hari 1967, serta Perang Yom Kippur 1973.

Namun, perjalanan kariernya tidak lepas dari kontroversi. Beberapa operasi militer yang dipimpinnya menuai kecaman internasional karena menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar, termasuk Pembantaian Qibya 1953 dan Pembantaian Sabra dan Shatila 1982.
Peristiwa terakhir bahkan membuatnya dijuluki sebagai “tukang jagal” oleh sebagian pihak internasional.

Setelah pensiun dari dunia militer, Sharon beralih ke politik dan mencapai puncaknya pada tahun 2001 saat menjabat sebagai Perdana Menteri Israel ke-11.

BACA JUGA :  4 Juta Warga Iran-Lebanon Terusir, Perang AS–Israel Picu Eksodus Besar-besaran

Masa kepemimpinannya ditandai dengan kebijakan keras, termasuk operasi militer di wilayah Palestina dan pembangunan tembok pemisah di Tepi Barat.

Selain itu, Sharon juga dikenal sebagai salah satu perdana menteri terkaya di Israel, dengan sumber kekayaan dari sektor pertanian, peternakan, dan properti.

Namun, semua pencapaian tersebut runtuh seketika akibat stroke yang menyerangnya. Ia kemudian digantikan oleh Ehud Olmert, sementara dirinya harus menjalani kehidupan panjang dalam kondisi koma hingga akhir hayat.

Kondisi kesehatan Benjamin Netanyahu saat ini memang belum separah yang dialami Ariel Sharon. Namun, kisah Sharon menjadi pengingat kuat bahwa kesehatan seorang pemimpin dapat berubah menjadi krisis besar yang berdampak luas, baik secara politik maupun kemanusiaan.

Perjalanan dua tokoh ini menunjukkan sisi rapuh dari kekuasaan bahwa di balik pengaruh dan kekuatan, faktor kesehatan tetap menjadi penentu yang tak bisa diabaikan.***