Dang Ike menjelaskan bahwa apa maksud dan makna dari pernyataannya tentang yang tua, nomor 2 dan seterusnya tersebut, urutan anak dalam keluarga ada kakak tertua, ada kakak nomor 2 nomor 3 nomor 4 dan seterusnya.
“Sudah berkali-kali dijelaskan, tapi selalu dikomen dan salah dan melanggar serta memecah belah, padahal bukan kedudukan, derajat, fungsi dan kewenangan dalam tatanan adat yang saya maksud ada yang tertua, ada yang nomor dua dan seterusnya, akan tetapi urutan lahir saja, anak yang lahir kembar saja pasti ada yang lahir duluan dan yang lahir belakangan, itulah yang dinamakan yang tua dan yang nomor dua,” jelas Dang Ike.
Baca juga: Kepaksian Pernong Gelar ‘Hippun’ Adat, Sikapi Polimik Lamban Gedung Kuning
Dia pun menegaskan bahwa pernyataannya adalah himbauan buat MRZ dan lain-lainnya agar bisa paham dan paham tentang adat dan bertutur, dan perlu diingat bahwa Paksi Pak Sekala Brak itu ada empat Paksi yang mempunyai wilayah teritorial dan memiliki masyarakat adatnya masing-masing, serta mempunyai kewajiban untuk menjaga, melindungi dan mengayomi serta melestarikan masyarakat adatnya masing-masing.
“Hal ini terpaksa saya sampaikan lewat media, karena MRZ mengoreksi dan menyalahkan saya lewat media juga, saya bukan mengajari untuk tidak tahu tatakrama adat, tapi sudah berkali-kali saya ingatkan koreksilah segala sesuatunya dengan tatakrama, jangan berdasarkan iri hati dan kebencian, karena semua itu justru akan membuat kegaduhan bahkan kehancuran, mari kita jaga dan lestarikan budaya kita dengan baik, karena ingat orang beradat itu pasti beradab,” tambah Dang Ike.
Sebelumnya diketahui bahwa Mirza YB Wakil yang mengklaim sebagai Panglima Perang Penggitokh Alam wilayah Tanggamus Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong Lampung mengatakan bahwa dalam perhelatan Anjau Silau di Balai Adat Pekon Umbul Buah mempertanyakan pernyataan Perdana Menteri Paksi Pak Skala Brak dalam hal Dang Ike dalam sambutannya menyebut Buay Belunguh Tertua.
Baca juga: Jaga Adat Istiadat, Nero Bentuk Laskar Lampung
“Karna kami masyarakat adat di sini sedikitnya memahami, bahwa benar Paksi Pak Sekala Brak merupakan asal usul ulun Lampung wabil khusus masyarakat adat Saibatin. Tapi yang kami tau Paksi Pak itu memiliki motto Satu Tidak Bersekutu, Pisah Tidak Bercerai. Duduk sama rendah, Berdiri sama Tinggi,” terang Mirza.
Hal itu menjadi pegangan kami yang di usung dari zaman nenek moyang, artinya tidak ada yang lebih tua, dan tidak ada yang merasa paling tua, kedudukan sama, serta derajatnya pun sama.








