Seentara itu, Ahmad Toyeb juga berpartisipasi memberi penjelasan, ia mengatakan pekerjaan pengecoran dilakukan di dua titik.
Pagi hari, warga mengerjakan ruas Air Batuan-Lubuk Gajah, Dusun V Pekon Sinar Jawa. Pengecoran dilakukan dengan ketebalan sekitar 20 sentimeter, lebar 2,5 meter dan panjang sekitar 100 meter.
Setelah pekerjaan di titik pertama selesai, pengecoran dilanjutkan pada sore hari di titik Dusun Beringin IV, Pekon Datar Lebuay.
Kegiatan itu melibatkan pemerintah pekon Sinar Jawa dan pemeribtah pekon Datar Lebuay, tokoh masyarakat, panitia serta ratusan warga.
Pantauan di lokasi, warga bergotong royong mengerjakan pengecoran secara bersama-sama. Ada yang mengangkut material, ada yang mengaduk campuran, ada pula yang mengatur proses pengecoran agar pekerjaan berjalan sesuai kebutuhan.
Selain spanduk sindiran, panitia juga memasang rambu peringatan bagi pengguna jalan. Salah satunya berbunyi “Hati-hati dan waspada, sedang ada cor jalan. Bukti nyata dari masyarakat untuk masyarakat.”
Pesannya jelas, masyarakat sedang bekerja memperbaiki jalan yang mereka butuhkan.
Tetapi spanduk satunya lagi memiliki nada berbeda. “Kata dia… jangan tanya duitnya dari mana, ujung-ujungnya swadaya masyarakat. Mana janji manismu.” Tulisan itulah yang kemudian menjadi pusat perhatian.
Jika spanduk pertama meminta pengguna jalan berhati-hati, spanduk kedua seperti meminta pemerintah berhati-hati terhadap ingatan masyarakat.
Sebab warga tidak hanya mengingat jalan yang rusak. Mereka juga mengingat janji yang menurut mereka pernah disampaikan.
Dan ketika jalan akhirnya diperbaiki melalui uang swadaya, janji tersebut kembali ditanyakan.
Aksi masyarakat Datar Lebuay dan Sinar Jawa sekaligus menunjukkan bahwa warga tidak hanya menyampaikan keluhan tapi mereka mengambil tindakan. Mereka patungan, membeli material lalu bergotong royong mengecor jalan. Namun, kritik tetap disampaikan melalui spanduk.
Dengan cara yang sederhana, warga seolah ingin mengatakan bahwa pembangunan jalan bukan hanya soal siapa yang mengerjakannya, tetapi juga soal harapan masyarakat terhadap pemerintah.
Kini, setelah masyarakat mengeluarkan Rp34.665.000 dari hasil swadaya, perhatian berikutnya tertuju kepada Pemkab Tanggamus. Akankah ruas jalan tersebut mendapat perhatian lebih lanjut?
Dan bagaimana pemerintah daerah merespons sindiran warga mengenai janji politik yang kembali mereka soroti? Sebab kali ini, warga tidak sekadar bertanya.
Mereka sudah menunjukkan buktinya di lapangan, jalan dicor, uang dikumpulkan, dan tenaga dikerahkan sendiri. Spanduknya pun sudah berbicara. Tinggal menunggu jawaban dari pemerintah. ***













