TANGGAMUS – Jalan rusak belum juga beres, warga akhirnya turun tangan. Bukan dengan menunggu lebih lama, melainkan dengan patungan uang, membeli material, lalu mengecor jalan menggunakan tenaga sendiri.
Aksi swadaya masyarakat itu berlangsung di ruas jalan utama yang menghubungkan Pekon Datar Lebuay dan Pekon Sinar Jawa, Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, Minggu (4/10/2026).
Sedikitnya Rp34.665.000 berhasil dihimpun masyarakat untuk membeli semen, batu split dan pasir. Namun, ada pemandangan lain yang membuat aksi gotong royong tersebut menjadi sorotan.
Di tengah jalan yang sedang dicor, warga memasang spanduk berisi sindiran keras yang mengingatkan kembali soal janji politik Bupati Tanggamus.
Salah satu tulisan yang terpampang di lokasi berbunyi “Kata dia… jangan tanya duitnya dari mana, ujung-ujungnya swadaya masyarakat. Mana janji manismu.”
Kalimat tersebut menjadi perhatian warga dan pengguna jalan. Sebab, ketika masyarakat sedang mengeluarkan uang dari kantong sendiri untuk memperbaiki akses yang mereka gunakan sehari-hari, janji politik masa lalu kembali dibawa ke permukaan.
Menurut informasi yang disampaikan warga, sebagaimana dilansur Wawai News, sindiran tersebut berkaitan dengan janji yang disebut pernah disampaikan Bupati Tanggamus dalam masa kampanye menjelang Pilkada 27 November 2024.
Kini, ketika jalan kembali diperbaiki melalui swadaya, pernyataan tersebut kembali menjadi bahan perbincangan dan beredar di sejumlah platform media sosial.
Bagi warga, uang senilai Rp34.665.000 bukan sekadar angka. Uang tersebut dikumpulkan dari masyarakat dan digunakan untuk kebutuhan nyata, membeli material untuk mengecor jalan.
Ujang Karsan, mewakili Ketua Panitia Mbah Misman, mengatakan dana tersebut murni berasal dari swadaya masyarakat.
“Dana iuran yang terkumpul sebesar Rp34.665.000, murni dari swadaya masyarakat. Untuk pengecoran, ketebalannya 20 sentimeter, lebar 2,5 meter, dan panjang 100 meter,” ujar Ujang di lokasi sebagaimana dilansir Wawai News.
Artinya, sebelum pemerintah datang membawa program pembangunan, masyarakat lebih dulu mengumpulkan uang sendiri dan mengerjakan jalan sendiri.
Bukan karena jalan itu tidak penting. Justru karena jalan tersebut dianggap sangat penting bagi aktivitas warga.
Jalan utama itu menjadi akses masyarakat menuju wilayah kabupaten dan digunakan dalam berbagai aktivitas sehari-hari.













