TANJUNGPINANG – Pulau Penyengat belum sepenuhnya terjaga ketika kapal yang membawa Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, merapat perlahan. Langit masih gelap, laut nyaris tak beriak, dan waktu seakan diperlambat agar sejarah sempat berbicara sebelum pagi mengambil alih. Kamis dini hari (15/1/2026), Pulau kecil itu kembali memainkan perannya mengingatkan negara dari mana ia seharusnya belajar.
Didampingi Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad, Menteri Agama melaksanakan Safari Subuh di Masjid Raya Sultan Riau Penyengat. Tidak ada karpet merah, tidak ada pidato panjang. Hanya saf Subuh yang rapat tempat semua gelar resmi luluh, dan yang tersisa hanyalah manusia di hadapan Tuhan.
“Alhamdulillah, akhirnya saya bisa berziarah ke makam nenek moyang saya,” ucap Nasaruddin Umar usai menapaki kompleks makam para raja Melayu. Kalimat singkat itu terdengar personal, tapi maknanya politis sekaligus kultural: seorang pejabat negara berdiri sebagai anak sejarah, bukan sekadar pemegang kekuasaan.
Masjid Tua, Negara Muda
Masjid Raya Sultan Riau berdiri sejak awal abad ke-19, dibangun dengan campuran putih telur, kapur, pasir, dan tanah liat. Tanpa beton bertulang, tanpa proyek multiyears.
Ironisnya, bangunan ini masih tegak dua abad kemudian sementara banyak proyek zaman kini bahkan belum genap satu periode anggaran sudah butuh rehabilitasi.
Tiga belas kubah dan empat menara masjid bukan ornamen estetika belaka. Jika dijumlahkan, ia melambangkan 17 rakaat salat wajib.
Di Pulau Penyengat, arsitektur bukan sekadar desain, melainkan tafsir iman. Bangunan pun berdakwah tanpa pengeras suara.
Di dalamnya tersimpan mushaf Al-Qur’an tulis tangan dari abad ke-19. Salah satunya ditulis Abdullah Al-Ma’ruf pada 1867 saat menuntut ilmu di Mekkah. Ketika hari ini umat sibuk mendebat cara membaca, Penyengat telah lebih dulu menulis, menyalin, dan menjaga.
Ziarah yang Mengingatkan Bangsa
Usai Subuh, Menteri Agama melanjutkan ziarah ke makam Raja Ali Haji dan Daeng Celak. Bagi Nasaruddin Umar, makam Daeng Celak bukan sekadar situs sejarah.
“Nama itu ada dalam silsilah keluarga saya di Palopo, Sulawesi,” ujarnya. Sejarah pun berhenti menjadi wacana akademik; ia menjelma identitas.
Raja Ali Haji, melalui Gurindam Dua Belas, meletakkan fondasi bahasa Melayu baku akar bahasa Indonesia. Dari pulau kecil ini, lahir bahasa pemersatu bangsa. Sebuah ironi sunyi, bahasa nasional kita lahir dari pulau terpencil, bukan dari pusat kekuasaan.
Pulau Penyengat sendiri adalah hadiah pernikahan Sultan Mahmud Syah kepada Engku Putri Raja Hamidah pada 1805. Namun hadiah itu tumbuh menjadi pusat pemerintahan, keagamaan, dan intelektual Kesultanan Melayu Riau-Lingga. Cinta, di masa lalu, melahirkan peradaban bukan sekadar seremoni.
Manuskrip, Benteng, dan Sumur yang Menolak Asin
Benteng Bukit Kursi yang dibangun Raja Haji Fisabilillah masih menjadi saksi perlawanan terhadap kolonialisme. Di sini, iman dan perlawanan tidak dipisahkan. Beragama berarti bermartabat, dan bermartabat berarti melawan ketidakadilan.
Di Balai Maklumat Indera Sakti tersimpan sekitar 500 manuskrip Arab-Melayu. Di tempat ini pula pernah berdiri Khutub Khanah Marhum Ahmadi (1886), perpustakaan umum pertama di Nusantara. Ketika hari ini kita sibuk mengejar indeks literasi, Penyengat telah melampaui zamannya lebih dari seabad lalu.
Di bawah Balai Adat, sebuah sumur tua tetap memancarkan air tawar meski dikepung laut asin. Sebuah metafora yang terlalu jujur: nilai bisa tetap murni meski hidup di tengah arus yang mencemari.
Negara yang Menengok Cermin
Kunjungan ditutup dengan menyusuri Kampung Datuak dan dialog hangat bersama warga. Tanpa panggung megah, tanpa narasi berlebihan. Justru di situlah pesan paling keras disampaikan: warisan Islam Nusantara hidup bukan karena jargon, melainkan karena dirawat.
Safari Subuh di Pulau Penyengat menjadi satire sunyi bagi negara modern. Di saat kita sibuk membangun masa depan dengan kecepatan, pulau kecil ini mengingatkan satu hal mendasar, bangsa yang besar bukan yang paling keras bersuara, melainkan yang tahu kapan harus diam dan belajar dari sejarahnya sendiri.***









