JAKARTA – Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong organisasi masyarakat (ormas) Islam untuk tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan membangun kekuatan kolektif yang terintegrasi dan berdampak nyata baik di sektor ekonomi umat maupun pendidikan.
Pesan itu disampaikan saat menerima kunjungan Said Aqiel Siradj bersama jajaran Lembaga Persahabatan Ormas Islam di Masjid Istiqlal, Senin (13/4/2026).
Dalam pertemuan tersebut, LPOI memaparkan dua agenda besar: pembentukan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah (LAZIS) serta rencana pendirian Universitas Islam berbasis Teknologi Siber. Saat ini, LPOI menaungi 14 ormas Islam yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Menag menilai potensi besar ormas Islam belum sepenuhnya tergarap karena masih berjalan dalam “pulau-pulau kecil” tanpa sistem kolaboratif yang kuat.
“Ormas-ormas Islam harus bisa besar dalam satu sistem. Kalau sendiri-sendiri, capek di jalan. Kalau bareng, dampaknya terasa,” tegas Nasaruddin.
Ia bahkan menyebut LPOI berpotensi menjadi kekuatan “powerful” jika mampu mengonsolidasikan program lintas ormas secara serius bukan sekadar forum silaturahmi.
Terkait rencana pembentukan LAZIS, Menag memberi lampu hijau tapi dengan catatan tegas: jangan berhenti di konsep.
Menurutnya, potensi zakat dan wakaf di Indonesia masih “tertidur”, padahal bisa menjadi mesin ekonomi umat jika dikelola profesional.
“Segera penuhi syarat administratif. Jangan hanya ide bagus, tapi lama di parkiran,” sindirnya ringan.
Menag juga mendorong LPOI memberi perhatian serius pada pengembangan wakaf produktif, yang dinilai memiliki dampak jangka panjang lebih besar dibanding program karitatif semata.
agasan pendirian Universitas Islam Teknologi Siber juga mendapat respons positif, namun Menag mengingatkan agar tidak terlalu sempit dalam konsep.
Alih-alih hanya fokus pada label “siber”, ia menyarankan LPOI membangun universitas yang komprehensif menggabungkan teknologi, keislaman, dan disiplin ilmu lain.
“Kalau mau bikin kampus, sekalian yang besar. Jangan setengah-setengah. Umat butuh lebih dari sekadar kampus digital,” ujarnya.
Pesan ini sekaligus menjadi kritik halus terhadap tren institusi pendidikan yang terlalu cepat “branding teknologi” namun minim kedalaman akademik.***










