LAMPUNG – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Bandar Lampung selama sekitar dua jam pada Jumat (6/3/2026) berubah menjadi bencana serius. Air yang turun sejak pukul 14.10 hingga 16.17 WIB membuat kota ini seperti berubah fungsi sementara: dari pusat aktivitas menjadi kolam raksasa dadakan.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Lampung, banjir terjadi di 38 titik yang tersebar di 10 kecamatan. Wilayah terdampak meliputi Sukarame, Rajabasa, Sukabumi, Tanjung Senang, Enggal, Tanjungkarang Barat, Tanjungkarang Pusat, Way Halim, Labuhan Ratu, dan Kedamaian.
Genangan air bervariasi, mulai dari setinggi lutut hingga mencapai dada orang dewasa di beberapa kawasan. Drainase yang tidak mampu menampung debit air membuat aliran hujan memilih jalannya sendiri mengalir ke jalan, permukiman, bahkan menyeret manusia.
Tiga Warga Hanyut, Dua Tewas
Banjir kali ini tidak hanya merendam rumah dan jalan, tetapi juga merenggut nyawa.
Korban pertama adalah Satria (10), siswa kelas 4 sekolah dasar yang dilaporkan hanyut di kawasan Rajabasa Induk. Bocah tersebut terseret arus saat bermain hujan di sekitar aliran sungai di Jalan Abdul Hamid Gang Suari.
Tubuhnya kemudian ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di sungai kawasan Terminal Rajabasa.
Korban kedua adalah seorang pria dewasa tanpa identitas yang ditemukan tersangkut di tepi sungai di Gang Fatah, Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Kedamaian sekitar pukul 17.00 WIB.
Saksi mata Zulkifli mengatakan awalnya ia melihat kaki seseorang tersangkut di paralon saat hendak membersihkan sampah di belakang rumahnya.
“Saya lihat ada kaki tersangkut di paralon sungai. Lalu saya panggil tetangga untuk membantu mengangkatnya,” ujarnya.
Bersama dua warga lain, Mustofa dan Johari, jenazah kemudian dievakuasi ke teras rumah warga sebelum dilaporkan ke polisi. Tim Polresta Bandar Lampung melalui unit Inafis kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara. Jenazah dibawa ke RSUD Abdul Moeloek untuk proses identifikasi.
Korban ketiga adalah bocah laki-laki berusia sekitar enam tahun yang hingga kini masih dalam pencarian setelah dilaporkan hanyut saat banjir terjadi.
Detik-detik Bocah Hanyut
Peristiwa hanyutnya anak-anak di kawasan Rajabasa juga disaksikan warga sekitar.
Seorang saksi, Raditya Anugrah, mengaku sempat berusaha mengejar korban setelah mendengar teriakan warga.
“Yang kawan-kawan ini teriak ‘Eh hanyut!’. Saya lari ke paving, lompat juga cari, tapi nggak ketemu,” katanya.
Ia bahkan sempat menyusuri aliran air hingga ke kawasan sekitar Damri dan kembali ke Gang Toyib untuk mencari korban.
“Takutnya dia terbawa arus sampai ke alur sana,” tambahnya.
Namun derasnya arus membuat upaya penyelamatan tidak berhasil.
Banjir di Puluhan Titik Kota
Selain di Rajabasa, banjir juga terjadi di sejumlah kawasan lain seperti Sukarame, Sukabumi, dan Way Kandis. Beberapa lokasi yang terdampak antara lain:
- Jalan Pulau Singkep, Sukarame
- Jalan Pangeran Senopati, Korpri Jaya
- Jalan Taurus, Rajabasa Nunyai
- Perumahan Rupi, Sukabumi
- Jalan Ratu Dibalau, Tanjung Senang
- Jalan Gatot Subroto, Enggal
- Gunung Kancil, Jagabaya II, Way Halim
- Perum Nusantara Permai, Campang Raya
Sebagian wilayah memang dilaporkan sudah mulai surut pada malam hari. Namun banjir sempat membuat aktivitas warga lumpuh dan memicu kepanikan.
Desa Sekitar Ikut Terendam
Genangan air juga dilaporkan terjadi di wilayah Desa Jatimulyo, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan. Warga menyebut beberapa titik permukiman ikut terdampak akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut.
Peristiwa banjir di Bandar Lampung sebenarnya bukan kejadian baru. Hampir setiap hujan deras datang, kota ini seperti mengulang skenario lama: air turun, drainase bingung, warga kebanjiran.
Jika hujan dua jam saja bisa membuat puluhan titik terendam dan menelan korban jiwa, maka persoalannya bukan lagi sekadar cuaca. Ada pekerjaan rumah besar dalam pengelolaan tata kota, sistem drainase, hingga pengendalian lingkungan.
Sementara itu, hingga malam hari tim gabungan dari BPBD Kota Bandar Lampung, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandar Lampung, serta aparat kepolisian masih melakukan pencarian terhadap korban yang belum ditemukan.
Di tengah air yang perlahan surut, satu hal yang tersisa adalah pertanyaan yang terus mengalir seperti hujan itu sendiri: sampai kapan kota ini akan selalu kalah setiap kali langit membuka keran?.***











