BEKASI – Sebuah kisah yang terdengar seperti naskah drama kriminal, namun terjadi di dunia nyata. Seorang mantan calon anggota DPRD Kabupaten Bekasi berinisial SJ kini harus berhadapan dengan hukum setelah diduga menjadi otak di balik pembunuhan mantan suaminya sendiri, BCS, warga negara Korea Selatan.
Alih-alih menyelesaikan konflik lewat meja perundingan atau jalur hukum, persoalan rumah tangga yang dipenuhi luka lama ini justru berujung pada dugaan skenario pembunuhan yang menggemparkan publik.
Kapolres Metro Bekasi Kombes Pol Sumarni mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan, SJ mengaku merencanakan aksi tersebut hingga menyewa eksekutor untuk menghabisi nyawa korban.
“Motifnya karena selama ini tersangka mengaku mengalami tekanan batin, menyimpan rasa dendam, dan sakit hati terhadap korban,” ujar Sumarni, Selasa (2/6/2026).
Tak hanya itu, SJ juga menilai korban kerap melakukan kekerasan selama hubungan mereka berlangsung. Luka masa lalu yang seharusnya menjadi pelajaran hidup diduga berubah menjadi bahan bakar dendam yang terus dipelihara hingga mencapai titik paling kelam.
Namun, penyidik menemukan motif lain yang tak kalah mencengangkan. Selain persoalan emosional, tersangka juga diduga ingin menguasai harta milik korban.
Di sinilah ironi itu muncul. Ketika sebagian orang berjuang mencari nafkah dengan kerja keras, ada yang diduga memilih jalan pintas dengan keyakinan bahwa menghilangkan nyawa seseorang dapat menyelesaikan persoalan hidup. Padahal sejarah berkali-kali membuktikan, jalan pintas sering kali justru menjadi jalan tercepat menuju penjara.
Sementara itu, tersangka HW yang diduga berperan sebagai eksekutor mengaku menerima tawaran tersebut karena alasan ekonomi. Kondisi keuangan keluarga yang terpuruk disebut menjadi alasan dirinya bersedia menjalankan aksi pembunuhan.
“Yang bersangkutan menerima tawaran karena membutuhkan uang,” kata Sumarni.
Kasus ini menjadi potret suram bagaimana dendam, konflik pribadi, dan persoalan ekonomi dapat berkelindan menjadi tragedi. Ketika amarah dibiarkan tumbuh tanpa kendali, dan uang dianggap mampu membeli segalanya, yang tersisa bukanlah kemenangan, melainkan jeruji besi dan penyesalan yang datang terlambat.
Kini, polisi masih terus mendalami rangkaian peristiwa yang berujung pada kematian WN Korea Selatan tersebut. Sementara publik menunggu proses hukum berjalan, kasus ini menjadi pengingat bahwa tidak ada sengketa, seberat apa pun, yang layak diselesaikan dengan menghilangkan nyawa manusia.













