LAMPUNG TIMUR — Upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, masih menghadapi tantangan. Setelah tiga hari dilakukan pemadaman melalui udara, hujan alami kini menjadi salah satu harapan untuk membantu membasahi kawasan yang masih menyimpan bara.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung saat ini berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau peluang pertumbuhan awan di sekitar lokasi kebakaran.
Pemantauan tersebut diperlukan untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya, termasuk kemungkinan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Kepala BPBD Lampung Aswarodi mengatakan OMC tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan keinginan untuk mendatangkan hujan. Operasi tersebut membutuhkan kondisi atmosfer yang mendukung, terutama keberadaan bibit atau pertumbuhan awan yang dapat disemai.
“Saat ini kami sedang berkomunikasi dengan berbagai pihak. OMC itu kan tidak mudah dilakukan, harus melihat dulu kondisi cuaca. Kalau belum ada bibit awan, tidak bisa dilakukan OMC. Harus ada pertumbuhan awan,” kata Aswarodi, Senin (28/9/2026).
Menurut Aswarodi, BPBD masih menunggu hasil analisis BMKG terkait potensi pertumbuhan awan di sekitar kawasan TNWK.
Jika kondisi atmosfer dinilai memungkinkan, BPBD Lampung akan mengusulkan pelaksanaan OMC kepada pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“Kalau memang bibit awan ini sudah terlihat dan memungkinkan dilakukan operasi modifikasi cuaca, maka akan kami ajukan ke pusat atau BNPB,” ujarnya.
Lima Sortie Water Bombing
Sembari menunggu perkembangan cuaca, petugas gabungan tetap melakukan pemadaman melalui jalur udara.
Operasi water bombing telah berlangsung sejak 25 September 2026. Hingga Minggu (27/9/2026), helikopter telah melakukan lima sortie untuk menjatuhkan air ke area yang terbakar.
Dalam setiap penerbangan, helikopter membawa sekitar 4.000 liter air, dengan durasi operasi rata-rata mencapai empat jam.
Berdasarkan pemetaan terbaru tim gabungan, area kebakaran di Resort Cabang TNWK yang menjadi sasaran penanganan water bombing diperkirakan sekitar 13 hektare.
Namun, dari luasan tersebut, baru sekitar tiga hektare yang telah mendapat intervensi pemadaman melalui udara. Sementara sekitar 10 hektare lainnya masih membutuhkan penanganan.
Kondisi tersebut menjadi tantangan karena karakter lahan gambut memungkinkan bara bertahan di bawah permukaan tanah meskipun api di permukaan telah terlihat padam.
“Sudah kami intervensi juga belum tentu dia padam total. Kami berharap juga ada hujan,” kata Aswarodi.
Bara Bisa Kembali Saat Angin dan Lahan Kering
Menurut Aswarodi, penanganan tidak cukup hanya dilakukan pada titik yang sudah terbakar. Area yang masih kering dan belum tersentuh pemadaman juga perlu menjadi perhatian.
Sebab, dalam kondisi tanpa hujan dan disertai angin, bara yang tersisa dapat kembali berkembang dan menjalar ke area lain.
“Kalau dia enggak terpisah, rentang waktu yang panjang, apalagi enggak ada hujan, angin, dia melebar lagi,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat faktor cuaca menjadi bagian penting dalam strategi penanganan karhutla di TNWK.
Petugas tidak hanya berpacu dengan api, tetapi juga dengan kondisi lahan dan atmosfer yang dapat menentukan apakah pemadaman benar-benar efektif.
Sebelumnya, BNPB pada 25 September 2026 melaporkan area terdampak karhutla di kawasan PTN Cabang SPTN Wilayah II Bungur, TNWK, diperkirakan mencapai sekitar 600 hektare.
Penanganan ketika itu menghadapi sejumlah kendala, antara lain akses menuju lokasi yang sulit, keterbatasan sumber air, serta jarak titik kebakaran yang cukup jauh dari sumber air.
Namun, angka tersebut tidak sama dengan luasan sekitar 13 hektare yang disebut BPBD Lampung dalam perkembangan terbaru.
Angka 600 hektare merupakan estimasi area terdampak yang dilaporkan BNPB pada 25 September. Sementara sekitar 13 hektare merupakan hasil pemetaan terbaru pada area kebakaran di Resort Cabang yang menjadi sasaran operasi water bombing pada 27 September.
Perbedaan konteks tersebut penting agar kedua angka tidak dibaca sebagai perubahan luasan kebakaran pada kawasan yang sama.
Sebelumnya, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Lampung berlangsung hingga 2 September 2026 setelah diperpanjang tiga hari dari jadwal awal.
BPBD Lampung menyebut kondisi kering tetap membutuhkan langkah mitigasi berkelanjutan. Berdasarkan pemantauan radar saat itu, pertumbuhan awan di wilayah Lampung relatif terbatas.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam melihat peluang pelaksanaan OMC kembali untuk membantu penanganan karhutla TNWK.***












