KOTA BEKASI – Duka tragedi kecelakaan kereta api di kawasan Bekasi Timur kembali bertambah. Setelah sebelumnya Menteri Perhubungan mengumumkan 15 korban meninggal dunia, tak lama berselang jumlah korban jiwa kembali naik menjadi 16 orang pada Rabu (29/4/2026).
Satu korban yang sempat menjalani perawatan di RSUD Kota Bekasi dilaporkan meninggal dunia. Korban diketahui bernama Mia Citra.
Dengan tambahan tersebut, total korban dalam insiden maut ini kini mencapai 107 orang, terdiri dari 16 meninggal dunia dan 91 luka-luka.
Vice President Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia, Anne Purba, membenarkan adanya penambahan jumlah korban meninggal.
“Hingga saat ini tercatat sebanyak 107 korban, terdiri dari 16 meninggal dunia dan 91 luka-luka,” ujar Anne dalam keterangannya.
Ia menambahkan, dari total korban luka, sebanyak 43 penumpang telah diperbolehkan pulang, sementara sisanya masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit.
Kenaikan angka korban jiwa menjadi gambaran bahwa tragedi ini belum sepenuhnya berakhir. Saat jalur kereta mulai dibersihkan, ruang perawatan rumah sakit masih dipenuhi perjuangan para korban.
Statistik memang berubah cepat, tetapi bagi keluarga korban, satu nama yang bertambah berarti satu dunia yang runtuh.
Daftar Korban Meninggal yang Teridentifikasi
Berikut korban meninggal dunia yang telah terdata dari sejumlah rumah sakit:
RS Polri Kramat Jati
- Tutik Anitasari (31), Cikarang Barat
- Farida Utami (50), Cibitung
- Vica Acnia Pratiwi (23), Cikarang Barat
- Ida Nuraida (48), Cibitung
- Gita Septia Wardany (20), Cibitung
- Fatmawati Rahmayani (29), Bekasi Selatan
- Arinjani Novita Sari (25), Tambun Selatan
- Nur Ainia Eka Rahmadhyna (32), Tambun Selatan
- Nur Alimantun Citra Lestari (19), Pasar Jambi
RSUD Kota Bekasi
- Nuryati (41)
- Nurlaela (39)
- Enggar Retno Krisjayanti (35)
- Mia Citra (25)
RS Bella Bekasi
- Ristuti Tustirahato
RS Mitra Keluarga Bekasi Timur
- Adelia Rifani
(Sebagian data identifikasi masih terus diperbarui oleh petugas)
Pemerintah, KAI, dan seluruh unsur terkait kini masih fokus pada dua hal utama: menyelamatkan korban yang masih dirawat dan melakukan evaluasi menyeluruh atas penyebab kecelakaan.
Publik tentu berharap evaluasi kali ini bukan sekadar formalitas musiman setelah tragedi. Karena rel bisa diperbaiki cepat, tetapi kepercayaan masyarakat jauh lebih lama untuk dipulihkan.***













