Scroll untuk baca artikel
TEKNOLOGI

Melati Senja: Saat Puisi Menjadi Lagu Lewat Teknologi AI

×

Melati Senja: Saat Puisi Menjadi Lagu Lewat Teknologi AI

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

JAKARTA — Sebanyak 29 peserta mengikuti Event Cipta Aransemen Puisi Menjadi Lagu Berbasis Artificial Intelligence (AI) “Melati Senja” yang digelar selama dua hari, 3–4 Oktober 2026. Mengusung tema “Ketika kata menjadi nada, puisi menemukan suaranya”, kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara puisi, musik, kreativitas, dan teknologi.

Event yang dimotori Ratu Ayu Neni Saputra dengan Bob Martin sebagai penanggung jawab ini mendapat perhatian dari para pecinta musik dan sastra. Antusiasme peserta dan penikmat musik juga terlihat dalam sesi live TikTok Senja yang berlangsung setelah rangkaian kompetisi.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Konsep yang ditawarkan cukup unik. Para peserta tidak hanya dituntut mampu memahami dan membawakan puisi, tetapi juga menerjemahkan kekuatan kata-kata tersebut ke dalam bentuk lagu dengan aransemen musik yang sesuai.

Babak penyisihan berlangsung pada 3 Oktober 2026. Dalam tahap ini, peserta membawakan dua puisi, yakni “Aku Bisa Apa” karya Ratu Ayu Neni Saputra dan “Kemelut Cinta” karya Bob Martin. Dari 29 peserta yang berkompetisi, sebanyak 10 peserta berhasil melaju ke babak final yang digelar sehari kemudian.

BACA JUGA :  WhatsApp Siapkan Mode ‘Orang Tua’: Chat Anak Bisa Dipantau, Orang Asing Tak Bisa Sembarangan Kirim Pesan

Pada babak final, 10 peserta ditantang mengaransemen puisi “Tirta Amarta” karya penyair Rissa Churria. Para finalis kemudian menghadirkan interpretasi musikal yang berbeda, sesuai dengan karakter dan kreativitas masing-masing.

Dua Musisi Berpengalaman Jadi Dewan Juri

Untuk menilai karya para peserta, panitia menghadirkan dua musisi yang telah lama berkecimpung di dunia musik. Itang, musisi asal Bandung, dipercaya sebagai juri I. Ia telah mengenal dunia musik sejak usia belia dan telah mengeluarkan sejumlah album bersama bandnya. Itang juga merupakan salah satu pembentuk KOMIK (Komunitas Musik Jatinangor). Sementara Danny Ramdhani atau A.K.A. Bule menjadi juri II. Danny telah berkiprah di dunia musik selama sekitar 25 tahun. Ia merupakan pembentuk band Papa Rock dan menjadi pengisi acara tetap di Ruang Nada TVRI.

Pengalaman kedua juri tersebut menjadi bagian penting dalam proses penilaian, terutama untuk melihat kemampuan peserta dalam mengolah puisi menjadi karya musik tanpa menghilangkan karakter dan pesan yang terkandung di dalamnya.

BACA JUGA :  Beli BYD Seal Premium, Dapat ‘Joget’: Akbar Faisal Semprot BYD, Leasing, hingga OJK

Persaingan di babak final berlangsung cukup ketat. Setelah melalui proses penilaian dan diskusi yang cukup panjang, dewan juri akhirnya menetapkan tiga peserta sebagai pemenang. Juara pertama diraih Mucus (Whendy Herdyansyah/Glass_W). Posisi juara kedua diraih Aries Girl (Mia/Mamoy Azka Raka), sedangkan juara ketiga diraih Mimih W’dya (Jenny Widya). Ketiga pemenang dinilai berhasil menghadirkan kreativitas dalam menginterpretasikan puisi “Tirta Amarta” ke dalam bentuk musik.

Kesuksesan penyelenggaraan event ini tidak terlepas dari kerja keras tim admin yang menangani berbagai kebutuhan selama berlangsungnya kegiatan. Mereka adalah Senja(MC), Livia( MC), Melati Eka, Bob Martin, dan Chris Zeana. Sejumlah komunitas dan lembaga juga turut memberikan dukungan, di antaranya KOMIK (Komunitas Musik Jatinangor), R PdL (Ruang Dengar Puisi dan Lagu), Satupena Jawa Barat, RBC (Rumah Baca Ceria), Seribu Nada (Margo). Suara merdu Bala Manda sebagai bintang tamu, penyanyi muda berbakat yang sudah merilis singgel lagu yang berjudul HIDUP INI, Serta para partisipan yang ikut memeriahkan dan mendukung kegiatan. Kehadiran berbagai pihak tersebut memperlihatkan kuatnya semangat kolaborasi antara komunitas musik, sastra, dan para kreator.

BACA JUGA :  PERHATIAN! Wartawan Tidak Dapat Ditarget UU ITE Selama Menjalankan Tugas Jurnalistik

Event Melati Senja, tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menunjukkan adanya ruang baru bagi pengembangan karya sastra dan musik melalui teknologi. Pemanfaatan AI dalam proses kreatif memberikan peluang bagi peserta untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan musikal. Meski demikian, kreativitas manusia tetap menjadi bagian penting dalam menentukan bagaimana sebuah puisi diterjemahkan menjadi sebuah karya lagu.

Perhelatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa puisi dapat terus berkembang mengikuti zaman. Dari sebuah teks, puisi dapat menjelma menjadi melodi, harmoni, dan lagu yang dinikmati oleh lebih banyak orang.

Melalui tema: Ketika kata menjadi nada, puisi menemukan suaranya, Event MS (Melati Senja) menegaskan satu hal: “ketika sastra bertemu musik dan teknologi, batas antara kata dan nada menjadi semakin terbuka.” ***

Sumber: Aip Orlandio / Ratu Ayu