Scroll untuk baca artikel
INFO WAWAIRAGAMTEKNOLOGI

Mengejar Batu Bacan ke Perut Bumi Kasiruta: Perjalanan Ekstrem ke Pulau Permata yang Dibayar dengan Risiko Nyawa

×

Mengejar Batu Bacan ke Perut Bumi Kasiruta: Perjalanan Ekstrem ke Pulau Permata yang Dibayar dengan Risiko Nyawa

Sebarkan artikel ini
foto ilustrasi Bongkahan Batu Bacan

WawaiNEWS.ID – Nama Batu Bacan sudah lama menjadi legenda di dunia batu mulia Indonesia. Namun, ada ironi kecil di balik namanya: batu yang terkenal dengan sebutan “Bacan” itu sebenarnya bukan berasal dari Pulau Bacan.

Habitat alaminya justru berada di Pulau Kasiruta, Maluku Utara, terutama di Desa Doko dan Palamea, Kecamatan Kasiruta Barat. Dari sinilah perjalanan menuju “batu permata” itu dimulai dan jangan bayangkan seperti belanja di pusat perbelanjaan, karena untuk mencapainya, medan dan risikonya jauh lebih mahal daripada ongkos perjalanan.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Dari Ternate menuju Labuha, perjalanan laut memakan waktu sekitar delapan jam. Labuha di Pulau Bacan menjadi pintu masuk menuju Kasiruta.

Dari sini perjalanan dilanjutkan menggunakan speedboat sekitar tiga jam. Sesampainya di Doko, fasilitas wisata hampir tidak ditemukan. Penginapan? Jangan terlalu berharap.

Pilihan paling realistis adalah menumpang di rumah warga sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju kawasan tambang di Tanjung Gulao, Bukit Doko.

BACA JUGA :  Berapa Kali Ganti Bupati Jalan Penghubung Desa Asahan-Mumbang Jaya, Tetap Rusak Parah

Medannya bukan jalur wisata biasa. Tanah merah yang mudah lepas, tanjakan curam dan hutan sekunder menjadi “karpet merah” menuju lokasi tambang.

Di balik pepohonan itulah para penambang menggali bumi hingga kedalaman 70 meter, bahkan lebih dari 100 meter, mengejar batu yang nilainya bisa melonjak setelah keluar dari tanah.

Peralatan yang digunakan sebagian besar masih sederhana: linggis, pahat, palu dan genset untuk memompa air atau membantu suplai oksigen. D

inding lubang pun kerap hanya ditahan balok kayu seadanya. Kalau ada yang menyebut ini pekerjaan penuh tantangan, itu sebenarnya versi halus dari kalimat: salah pijak bisa menjadi urusan hidup dan mati.

Risiko longsor dan kecelakaan menghantui para penambang setiap hari. Persoalannya tidak berhenti pada keselamatan kerja.

Aktivitas tambang rakyat juga berhadapan dengan persoalan perizinan dan kepastian hukum.

Informasi mengenai kecelakaan di lokasi tambang bahkan disebut sensitif di tengah masyarakat karena dikhawatirkan memicu tindakan penertiban atau penutupan tambang.

BACA JUGA :  Gaduh Lagi Nih, Media Temukan Alamat Kontraktor Proyek Miliaran di Lampung Diduga Fiktif

Di sinilah ironi Batu Bacan terasa paling keras: batu yang diburu karena keindahannya justru ditemukan melalui pekerjaan yang jauh dari indah.

Namun, Bacan telah mengubah wajah Kasiruta. Sebelum batu ini terkenal, Doko dan Palamea lebih banyak berupa kawasan kebun cengkeh dan kelapa.

Ledakan popularitas batu akik mengubah kawasan tersebut menjadi permukiman yang lebih padat dan aktivitas ekonomi yang jauh lebih dinamis.

Daya beli masyarakat ikut meningkat ketika harga Bacan mencapai masa kejayaan. Meski demam batu akik nasional kemudian surut, Bacan tetap memiliki pasar tersendiri di kalangan kolektor karena karakter dan nilai eksklusifnya.

Harga ekonomi itu sekaligus meninggalkan persoalan lain: alam harus membayar ongkosnya.

Bukit yang terus dikupas menyisakan lubang-lubang tambang dan berpotensi meningkatkan erosi.

Minimnya reklamasi membuat sebagian jejak penggalian menjadi pekerjaan rumah panjang.

Pulau kecil seperti Kasiruta tentu tidak memiliki ruang tak terbatas untuk menampung luka ekologis. Batu boleh mahal, tetapi tanah tempat batu itu ditemukan tidak bisa dicetak ulang seperti uang.

BACA JUGA :  Modus Selipkan Sabu Dalam Durian, Warga Pugung dan Pardasuka Pringsewu Ditangkap di Way Kanan

Karena itu, cerita Batu Bacan bukan semata tentang batu indah yang diburu kolektor hingga mancanegara.

Ia adalah cerita tentang masyarakat yang menemukan peluang ekonomi dari kekayaan alam, para penambang yang mempertaruhkan keselamatan demi penghidupan, serta lingkungan yang perlahan menanggung dampak eksploitasi.

Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan perlu memastikan tambang rakyat mendapat pembinaan keselamatan, kepastian tata kelola, sekaligus kewajiban reklamasi.

Jangan sampai setelah Batunya naik kelas menjadi permata, penambangnya tetap bekerja tanpa perlindungan dan bukitnya tinggal lubang.

Pada akhirnya, perjalanan menuju Batu Bacan di Kasiruta seperti membuka satu per satu lapisan cerita. Dimulai dari laut, menyeberang pulau, menembus hutan, lalu masuk ke perut bumi.

Di sana, sebuah batu yang tampak cantik ketika sudah diasah ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih keras: kemiskinan, keberanian, ekonomi, budaya, risiko nyawa dan ancaman lingkungan dalam satu bongkahan.***