KOTA BEKASI — Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya identik dengan nutrisi dan harapan, mendadak berubah menjadi kabar duka di Kota Bekasi. Seorang pedagang gorengan yang menjadi korban tabrakan mobil pengantar MBG di kawasan Bekasi Timur dilaporkan meninggal dunia setelah sempat koma dan menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Korban mengalami luka serius di bagian kepala setelah gerobak gorengannya dihantam mobil boks milik armada distribusi MBG/SPPG Bekasi Timur di Jalan Pulau Kalimantan Raya, Kelurahan Aren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Selasa (12/5/2026) sekitar pukul 11.00 WIB.
Kabar meninggalnya korban dikonfirmasi Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Aren Jaya, Lambang Kara. Menurutnya, tim medis telah berupaya memberikan penanganan maksimal sebelum korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada sore hari sekitar pukul 14.40 WIB.
“Korban sempat mendapatkan perawatan intensif, namun nyawanya tidak tertolong,” ujar Lambang.
Jenazah korban kini dipersiapkan untuk dibawa ke rumah duka di tengah suasana duka keluarga dan warga sekitar yang masih syok atas kejadian tersebut.
Kecelakaan bermula ketika mobil boks putih pengantar program MBG melaju di kawasan padat aktivitas warga di Jalan Aren Jaya 3. Berdasarkan keterangan saksi mata, kendaraan tiba-tiba meluncur tanpa kendali sebelum menghantam deretan lapak UMKM di depan minimarket Alfamart.
Benturan keras membuat bagian depan kendaraan ringsek cukup parah. Lapak pedagang porak-poranda, barang dagangan berserakan di jalan, sementara warga spontan berhamburan menolong korban.
Sedikitnya empat orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat insiden tersebut.
Salah seorang saksi mata, Sanjaya, warga Perumahan Bekasi Timur 3, menyebut mobil melaju cukup cepat dan tampak tidak lagi bisa dikendalikan pengemudi.
“Mobil langsung nyelonong, kayak sopir sudah nggak bisa kontrol,” ujar Sanjaya.
Pengemudi mobil juga dilaporkan mengalami luka di bagian kepala akibat benturan saat kecelakaan terjadi.
Warga menduga kecelakaan dipicu rem blong. Namun hingga kini pihak kepolisian masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), pemeriksaan kendaraan, serta meminta keterangan saksi untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut.
Polisi juga masih mendata identitas lengkap korban, menghitung kerugian material, dan menelusuri asal kendaraan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah mana.
Belum ada keterangan resmi terkait kondisi teknis kendaraan maupun standar kelayakan operasional armada distribusi MBG tersebut.
Peristiwa ini kembali memperlihatkan kenyataan pahit yang sering dialami pelaku UMKM kecil di pinggir jalan: menjadi pihak paling rentan ketika kecelakaan lalu lintas terjadi.
Di tengah gencarnya kampanye ekonomi kerakyatan dan dukungan terhadap pedagang kecil, lapak UMKM justru kerap menjadi “tameng pertama” saat kendaraan hilang kendali.
Ironisnya, pedagang gorengan yang sehari-hari mencari nafkah dari wajan panas dan minyak mendidih, justru harus meregang nyawa bukan karena kompor meledak, melainkan karena kendaraan distribusi program pemerintah.***












