BANDUNG – Ketika Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa musim kemarau 2026 berpotensi lebih panjang dan lebih kering, Pemerintah Provinsi Jawa Barat justru memilih memasang target optimistis yakni produksi padi harus naik.
Alih-alih sibuk menghitung potensi kerugian akibat kekeringan, pemerintah daerah kini tengah menyiapkan berbagai strategi untuk memastikan sawah-sawah di Jawa Barat tetap produktif dan mampu menghasilkan panen yang lebih besar dibandingkan tahun lalu.
Targetnya tidak main-main. Produksi padi tahun 2026 diproyeksikan melampaui capaian tahun 2025 yang mencapai 10,226 juta ton gabah kering giling (GKG).
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat Dadan Hidayat mengatakan, ancaman kemarau memang nyata. Namun kondisi tersebut bukan alasan untuk menyerah sebelum musim tanam dimulai.
“Produksi padi sawah dan ladang tahun 2026 diproyeksikan melebihi realisasi tahun 2025 sebesar 10,226 juta ton gabah kering giling,” ujar Dadan, Senin (22/6/2026).
Untuk mencapai target tersebut, Pemprov Jabar menyiapkan sejumlah langkah antisipatif. Salah satu strategi utama adalah mendorong petani menggunakan varietas padi yang lebih tahan terhadap kekeringan.
Varietas seperti Inpago, Inpari, Cisaat, Situbagendit, Situpatenggang hingga Cakrabuana direkomendasikan karena memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik pada lahan dengan keterbatasan air.
Logikanya sederhana. Jika cuaca sulit diajak kompromi, maka benih yang ditanam harus lebih siap menghadapi tantangan.
Tak hanya memberikan rekomendasi, pemerintah juga menyiapkan bantuan benih bersertifikat bagi petani yang terdampak kekeringan maupun untuk percepatan tanam di wilayah yang masih memiliki ketersediaan sumber air.
Total bantuan yang disiapkan cukup besar, yakni benih padi hibrida untuk lahan seluas 21.825 hektare serta benih jagung hibrida untuk 1.000 hektare.
Selain urusan benih, perhatian juga diarahkan pada ketersediaan air. Sebab sehebat apa pun varietas tanaman, tanpa pasokan air yang memadai hasil panen tetap berisiko menurun.
Karena itu, petani didorong mengoptimalkan seluruh sarana pengairan yang telah tersedia, termasuk penggunaan pompa air pada wilayah yang mengalami penurunan debit air selama musim kemarau.
Pemprov Jabar juga menyiapkan berbagai intervensi infrastruktur untuk menjaga suplai air ke lahan pertanian.
Mulai dari pemasangan pipa penyalur air dari sumber terdekat menuju area persawahan, rehabilitasi jaringan irigasi tersier, hingga pembangunan sarana penampungan air seperti embung, sumur dangkal dan sumur dalam.
Tak ketinggalan, program pompanisasi dan irigasi perpompaan juga akan diperluas guna membantu petani mengakses sumber air saat kondisi alam tidak bersahabat.
“Kami imbau petani untuk menggunakan air secara efisien,” kata Dadan.
Langkah tersebut menjadi penting mengingat Jawa Barat selama ini memegang peran strategis sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Gangguan produksi di wilayah ini tidak hanya berdampak pada petani, tetapi juga berpengaruh terhadap stabilitas pasokan beras nasional.
Di tengah ancaman kemarau yang diprediksi lebih keras dari biasanya, optimisme Pemprov Jabar sejatinya merupakan pertaruhan besar. Sebab cuaca tidak bisa dinegosiasikan, awan tidak bisa diperintah datang, dan hujan tidak bisa dijadwalkan lewat rapat koordinasi.
Namun pemerintah berharap kombinasi benih unggul, efisiensi penggunaan air, perbaikan irigasi, serta dukungan sarana pertanian mampu menjadi benteng menghadapi musim kering yang akan datang.
Kini tantangannya tinggal satu: memastikan seluruh strategi tersebut benar-benar sampai ke sawah, bukan sekadar subur di atas kertas. Jika berhasil, Jawa Barat bukan hanya mampu menghadapi kemarau, tetapi juga membuktikan bahwa produksi pangan tetap bisa tumbuh meski cuaca sedang tidak bersahabat.***












