KOTA BEKASI – Proyek ambisius Wisata Air Kalimalang yang digadang-gadang menjadi ikon baru Kota Bekasi dipastikan belum bisa dinikmati warga dalam waktu dekat. Pemerintah Kota Bekasi resmi mengumumkan peresmian proyek tersebut mundur dari target awal Mei 2026 menjadi Agustus 2026.
Alasan utamanya, ekonomi global sedang “batuk”, rupiah melemah, dan harga material pembangunan ikut melambung.
Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bekasi, Idi Sutanto, mengungkapkan tekanan ekonomi internasional menjadi faktor utama molornya pengerjaan proyek wisata yang berada di kawasan Kalimalang tersebut.
“Penyebabnya karena kenaikan harga. Dari jadwal awal memang agak molor karena harga minyak dunia naik, material juga ikut naik. Tapi pembangunan tetap berjalan,” ujar Idi, Rabu (20/5/2026).
Nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp17.701 per dolar AS disebut ikut berdampak pada harga berbagai kebutuhan konstruksi. Efek domino itu membuat progres proyek tidak bisa melaju secepat rencana awal.
Di tengah penundaan tersebut, progres pembangunan Wisata Air Kalimalang saat ini baru mencapai sekitar 40 persen.
Meski demikian, Pemkot Bekasi mengklaim keterlambatan masih dalam batas aman karena sejak awal proyek memang dirancang selesai dalam waktu sekitar satu tahun dua bulan.
“Dalam desain kemarin memang ditargetkan selesai sekitar satu tahun dua bulan. Jadi masih ada waktu dan masih aman,” kata Idi.
Namun di lapangan, molornya proyek mulai memunculkan beragam komentar dari masyarakat. Tidak sedikit warga yang berharap proyek strategis ini benar-benar selesai tepat waktu dan tidak berubah menjadi proyek “wisata penantian”.
Sebab sejak diumumkan, proyek Wisata Air Kalimalang sudah lebih dulu ramai di media sosial dibanding wujud akhirnya di lapangan
Pemerintah Kota Bekasi sendiri menaruh harapan besar terhadap proyek tersebut. Wisata Air Kalimalang diproyeksikan menjadi destinasi unggulan baru sekaligus ruang publik modern yang diharapkan mampu mendongkrak sektor ekonomi dan pariwisata daerah.
Selain mempercantik wajah kota, proyek ini juga ditargetkan menjadi sumber peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Mudah-mudahan dengan adanya wisata air Kalimalang bisa meningkatkan pendapatan daerah sekaligus memberikan citra positif bagi Kota Bekasi,” pungkas Idi.
Di tengah tekanan ekonomi global, proyek-proyek infrastruktur daerah memang menghadapi tantangan berat. Harga baja naik, material konstruksi melonjak, hingga biaya operasional ikut membengkak.***












