KOTA BEKASI – Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mendatangi SDN 7 Teluk Pucung, Senin (2/3/26), setelah menerima laporan kerusakan fasilitas yang bikin geleng-geleng kepala. Bukan retak rambut, tapi plafon runtuh, atap bocor, hingga lampu mati paket komplet yang lebih mirip lokasi renovasi ketimbang ruang belajar.
Dalam peninjauan langsung, ditemukan satu ruang kelas dengan plafon ambrol. Genteng bocor siap menyambut musim hujan, sementara sejumlah lampu tak berfungsi. Jika dibiarkan, siswa bukan cuma belajar matematika dan bahasa Indonesia, tapi juga belajar menghindari tetesan air dan serpihan plafon.
Tri mengaku prihatin. Menurutnya, sekolah adalah ruang membangun masa depan, bukan ruang menantang keselamatan.
“Tidak boleh ada ruang kelas yang membahayakan anak-anak kita,” tegasnya, menyoroti bahwa fasilitas dasar adalah fondasi pendidikan, bukan pelengkap.
Instruksi pun langsung keluar. Dinas terkait diminta bergerak cepat melakukan perbaikan menyeluruh dari plafon, atap, hingga instalasi listrik.
Pesannya jelas jangan sampai proses belajar mengajar terganggu lebih lama hanya karena urusan yang seharusnya bisa dicegah lewat perawatan rutin.
Namun di balik sidak dan perintah tegas, ada pertanyaan klasik yang kembali muncul: kenapa harus menunggu laporan dan plafon roboh dulu baru bergerak? Bukankah pengecekan berkala seharusnya jadi standar, bukan respons darurat?
Tri juga menekankan pentingnya audit dan pengecekan rutin bangunan sekolah se-Kota Bekasi. Komitmen disampaikan bahwa setiap sekolah harus aman dan layak. Karena pendidikan bukan hanya soal kurikulum canggih dan lomba prestasi, tapi juga soal atap yang tidak bocor saat hujan turun.
Kunjungan ini menjadi alarm keras bahwa masalah pendidikan sering kali bukan hanya di ruang rapat atau angka statistik, melainkan di langit-langit kelas yang rapuh. Jika ingin generasi kuat, jangan biarkan mereka belajar di bawah plafon yang sewaktu-waktu bisa runtuh.***













