Scroll untuk baca artikel
Internasional

Perang Dunia 3 Sudah Dimulai? Pakar Rusia Ungkap Perang Global Kini Tak Terlihat, Dari Ekonomi hingga Propaganda

×

Perang Dunia 3 Sudah Dimulai? Pakar Rusia Ungkap Perang Global Kini Tak Terlihat, Dari Ekonomi hingga Propaganda

Sebarkan artikel ini
Kapal Induk Amerika Serikat USS Gerald Ford merupakan kapal perang terbesar di dunia. (Foto: Getty Images/Finnbarr Webster)

WawaiNEWS.ID – Warga dunia mungkin masih sibuk memeriksa notifikasi ponsel, harga minyak goreng, atau drama politik domestik. Namun bagi sebagian analis geopolitik, dunia sebenarnya sudah masuk babak yang lebih serius: Perang Dunia Ketiga.

Bedanya, kali ini tidak ada barisan tank yang langsung melintasi benua, tidak ada sirene serangan udara setiap malam, dan tidak ada deklarasi perang resmi yang dibacakan di radio seperti era 1940-an.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Menurut peneliti senior dari Russian International Affairs Council sekaligus analis di Institute of World Economy and International Relations, Dmitry Trenin, perang global sebenarnya sudah dimulai hanya saja sebagian besar orang belum menyadarinya.

“Perang dunia telah dimulai. Hanya saja, tidak semua orang menyadarinya,” tulis Trenin dalam analisisnya yang pertama kali dimuat di majalah Profile Magazine Russia dan kemudian dikutip media internasional RT.

Singkatnya, menurut Trenin, dunia kini sedang berada di medan perang yang lebih halus, lebih canggih, dan lebih licin.

BACA JUGA :  Iran Klaim Hantam Kantor PM Israel dengan Rudal Kheibar, Ketegangan Timur Tengah Kian Membara

Jika Perang Dunia II dimulai dengan invasi militer terbuka, perang global versi abad ke-21 justru bergerak di jalur yang lebih “senyap”.

Bentuknya antara lain:

  • sabotase ekonomi
  • perang teknologi
  • propaganda dan perang informasi
  • agitasi sosial
  • destabilisasi politik dalam negeri

Dengan kata lain, perang kini bisa terjadi di pasar saham, di jaringan internet, bahkan di timeline media sosial.

Menurut Trenin, bagi Rusia fase konflik global ini sudah dimulai sejak 2014, saat krisis Ukraina pertama memicu ketegangan baru dengan Barat.

Sementara itu:

  • China mulai merasakan fase konfrontasi global sejak 2017, terutama terkait perang dagang dan teknologi.
  • Iran memasuki fase konflik intens sejak 2023 di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah.

Dalam pandangan Trenin, konflik antara Rusia dan Ukraina hanyalah satu bab dari pertarungan yang lebih besar.

Ia menilai negara-negara NATO seperti Inggris dan Prancis ikut terlibat secara tidak langsung dengan memberikan dukungan militer kepada Ukraina.

Konflik ini terjadi setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 yang memicu salah satu krisis geopolitik terbesar sejak berakhirnya Perang Dingin.

BACA JUGA :  Melawat ke Kroasia, Ridho Perkenalkan Seni dan Budaya Lampung

Perang tersebut dikenal sebagai Russian invasion of Ukraine.

Menurut Trenin, Ukraina dalam konteks ini lebih menyerupai medan uji coba konflik geopolitik besar antara Rusia dan Barat.

“Ukraina hanyalah alat. Brussels sedang mempersiapkan konflik yang lebih luas,” ujarnya.

Trenin juga mengklaim bahwa konflik global saat ini dipicu oleh kekhawatiran Barat terhadap munculnya kekuatan alternatif seperti Rusia dan China.

Dalam narasinya, persaingan ini bukan sekadar perebutan pengaruh geopolitik, tetapi juga pertarungan sistem dan ideologi global.

Ia menyebut model globalisasi yang dipimpin Barat tidak memberi ruang bagi alternatif kekuatan baru.

“Ini bukan hanya pertarungan geopolitik. Ini perang eksistensial bagi Barat,” kata Trenin.

Dunia Menuju Perang Total?

Dalam analisisnya, Trenin bahkan menyarankan Rusia untuk memperkuat mobilisasi nasional, termasuk di sektor:

  • teknologi
  • ekonomi
  • demografi
  • aliansi strategis

Ia juga mendorong konsolidasi dengan negara mitra seperti Belarus dan Korea Utara.

Di sisi lain, Trenin menilai kemungkinan kembalinya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat dapat menciptakan ruang taktis bagi Rusia untuk mengurangi tekanan militer Washington.

BACA JUGA :  Siap Bela Negara, Miss Ukraina Angkat Senjata

Namun ia menegaskan bahwa, siapa pun presiden Amerika Serikat, kebijakan geopolitik negara itu pada dasarnya tetap konfrontatif terhadap Rusia.

Bagian paling kontroversial dari analisis Trenin adalah ketika ia menyebut Rusia harus siap menggunakan langkah preemptif jika eskalasi konflik tak dapat dihindari.

Bahkan, dalam skenario ekstrem, ia menyebut kemungkinan penggunaan senjata nuklir sebagai bagian dari strategi pencegahan aktif.

Pernyataan ini mengingatkan dunia pada bayang-bayang perang nuklir yang pernah menghantui era Cold War.

Menurut Trenin, kemenangan dalam konflik global modern tidak lagi ditentukan oleh siapa yang merebut wilayah paling luas.

Yang lebih penting adalah siapa yang berhasil menggagalkan rencana lawan dan mengendalikan narasi global.

Karena dalam perang abad ke-21, senjata bukan hanya misil atau tank.

Kadang, yang paling mematikan justru informasi, ekonomi, dan propaganda.

“Waktu untuk ilusi telah berakhir. Kita berada dalam perang dunia,” tulis Trenin.***