JAKARTA – Drama geopolitik dunia kembali naik episode. Iran kembali menutup akses Selat Hormuz, jalur laut paling vital bagi perdagangan energi global yang menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Keputusan Teheran disebut sebagai respons atas sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang tetap memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Akibatnya, pasar global kembali menahan napas. Sebab jika Hormuz tersendat, dunia bukan cuma kekurangan ketenangan tetapi juga bisa kekurangan pasokan energi.
Komando Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan bahwa status Selat Hormuz kembali menjadi “terbatas”, seperti sebelum pengumuman pembukaan sementara sehari sebelumnya.
“Selama pergerakan kapal dari dan ke Iran masih terancam, status Selat Hormuz akan tetap seperti sebelumnya,” tulis pernyataan resmi yang dikutip media internasional, Sabtu (18/4/2026).
Iran juga memberi peringatan keras kepada Washington.
“Setiap pelanggaran komitmen oleh Amerika Serikat akan mendapat tanggapan yang sesuai.”
Kalimat diplomatik itu bila diterjemahkan pasar global artinya sederhana, harga minyak siap gelisah lagi.
Yang membuat situasi makin membingungkan, kurang dari 24 jam sebelumnya Iran dan Trump sempat sama-sama menyatakan jalur tersebut kembali terbuka.
Namun sehari kemudian, Iran menyebut kondisi kembali ke “pengawasan ketat” karena blokade laut AS masih berlangsung.
Bagi pelaku pasar, ini seperti pintu tol yang baru dibuka sebentar lalu langsung dipasang portal lagi.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, menyindir keras pernyataan Trump yang mengancam akan kembali membom Iran jika tak ada kesepakatan baru pekan depan.
“Dia terlalu banyak bicara.”
“Dia mengatakan hal-hal yang kontradiktif dalam pernyataan yang sama. Saya tidak tahu persis apa yang dia maksud,” ujar Khatibzadeh saat Forum Diplomatik Antalya di Turki.
Sindiran ini memperlihatkan komunikasi dua negara kini bukan lagi diplomasi tenang, tetapi seperti debat panas tanpa moderator.
Meski mengaku perang tidak akan menghasilkan hasil positif, Iran tetap mengirim pesan keras.
“Kami akan berjuang sampai prajurit Iran terakhir.”
Pesan itu menandakan Teheran ingin tampil siap tempur, sambil tetap membuka ruang politik.
Bahasa sederhananya, tidak mau perang, tapi jangan coba-coba.***











